Pangkal Kemajuan Islam (Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Anfaal [8]: 24)

masjid

Oleh :  Dr. Aam Amiruddin

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

alquran muasir

Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila ia menyerumu pada suatu yang memberi kehidupan kepadamu. Ketahuilah, sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 24)

Bila kita runut dengan ayat-ayat surat Al-Anfaal sebelumnya, seruan kepada orang yang beriman pada ayat ke-24 ini merupakan seruan ketiga. Seruan pertama terdapat dalam ayat ke-15 yang berisikan perihal pertahanan diri dan konfrontasi manakala bertemu dengan pasukan musuh Allah yang hendak menghancurkan agama-Nya dan larangan untuk mundur atau menyerah kecuali dalam rangka strategi perang. Seruan kedua terdapat dalam ayat ke-20 yang berisikan perintah taat dan patuh pada segala yang menjadi ketentuan Allah dan rasul-Nya. Maksudnya, kepatuhan dalam kerangka totalitas tanpa pertimbangan dan perhitungan apalagi pembangkangan, kecuali ada alasan yang dimaklumi oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan, Seruan ketiga dalam ayat ke-24 ini berisi keharusan setiap mukmin untuk menghidupkan nilai-nilai ajaran yang dibawa oleh Rasulullah dalam setiap sendi kehidupan. Jika ketiga seruan tersebut kita gabungkan, bisa dikatakan bahwa setiap mukminin semestinya memiliki kesiapan dan kekuatan dalam aspek militer, politik, hukum, ideologi, dan sosial. Harus diakui, kaum mukminin saat ini masih tertinggal dalam sebagian besar aspek tersebut. Jadi, sudah saatnya kaum mukminin bangkit dan merebut kembali kejayaan sebagaimana diisyaratkan ayat tersebut. Untuk memulainya, gerbang pembuka menuju perubahan tersebut adalah ketetapan dan keteguhan hati sebagaimana disinggung pada ayat ke-24 surat Al-Anfaal yang akan diuraikan berikut ini.

kalender

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul…” Petikan ayat tersebut membawa kita pada pengertian untuk tidak berpikir panjang dan pertimbangan berulang-ulang tatkala ada perintah yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya. Karena, Allah sengaja mengutus Rasul-Nya untuk membawa perubahan ke arah kehidupan yang lebih hidup. Hidup yang sejalan dengan fitrah manusia. Hidup berlandaskan wahyu yang menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sekarang mari kita perhatikan lanjutan ayat tersebut, “…apabila ia menyerumu pada suatu yang memberi kehidupan kepadamu …” Kata “kehidupan” yang dimaksud dalam ayat tersebut ditanggapi beragam oleh para mufassir. Imam mujahid, mufassir dari kalangan Tabi’in mengungkapkan bahwa yang dimaksud adalah “perkara yang hak”. Abu Qatadah menyebutnya, “Al-Qur’an yang didalamnya keselamatan, kelestarian dan kehidupan.” Imam as-Sadiy menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah, “Agama Islam yang membawa kehidupan karena sebelumnya mereka mati karena kekafiran.”

Semua yang dikatakan para mufassir tersebut bermuara pada satu kata, yaitu Islam sebagai ajaran yang diturunkan Allah melalui Nabi dan rasul-Nya. Ya, kita hendaknya tidak ragu sedikitpun kalau hanya Islamlah yang akan membawa seseorang lebih mengerti arti hidup yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bahwa kekufuran dan kebodohan ibarat kematian (maknawi/non fisik) bagi manusia.

Selanjutnya Allah berfirman, masih dalam ayat 24 surat Al-Anfaal, “…Ketahuilah, sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya …” Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa dalam ayat ini Allah memuat ungkapan seperti itu? Saya memandang bahwa jika dikaitkan dengan uraian sebelumnya, ini menunjukkan bahwa urusan hati menjadi pokok persoalan yang dapat mengangkat segala derajat, tidak hanya bersifat individual namun dalam kurun waktu tertentu akan membawa perubahan mendasar pada sebuah era kehidupan. Hati menjadi pangkal utama sebuah revolusi pada setiap orang, bahkan untuk sebuah era peradaban.

Menanggapi petikan tersebut, Imam Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menghalang-halangi orang mukmin dengan kekafiran dan orang kafir dengan keimanan. Sementara imam Qatadah mengungkap ayat lain yang menurutnya semakna, yaitu:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang tebersit dalam hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q.S. Qaaf [50]: 16)

sejumlah kitab tafsir memuat beberapa riwayat yang menuntun kita untuk lebih bisa menjaga hati demi menjaga kualitas iman agar setiap mukmin mampu memberikan sesuatu yang berarti bagi kehidupan, baik bagi dirinya maupun orang lain, di antaranya:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ فَقَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا

Dari Anas dia berkata bahwasanya Nabi Saw. banyak mengucapkan doa, “Ya muqallibal quluubi tsabbit qalbi ‘ala dinika (ya Allah Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu).” Anas berkata, maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada wahyu yang engkau bawa, maka apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?” Beliau menjawab, “Ya, sesungguhnya hati itu berada di antara jari-jari Allah ‘azza wajalla, Dialah yang membolak-balikkannya.” (H.R. Ahmad)

Di penghujung ayat Allah menyampaikan, “…dan sesungguhnya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.” Ini menunjukkan bahwa dari hati keimanan itu terlahir dan dari hati pula kekafiran itu muncul. Dan, semua itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dalam pengadilan perkara yang seadil-adilnya.

Sebagai penutup, pelajaran yang dapat kita ambil dari ayat tersebut di antaranya :

1.Kewajiban untuk bersegera memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena hal itu merupakan bagian dari kehidupan seorang muslim.

2.Segala ketentuan yang datang dari Allah semata bermakna kebaikan bagi manusia. Menilai wahyu hanya dari sudut pandang rasio yang sangat terbatas hanya akan membawa pada kesesatan yang nyata.

3.Wajibnya menggunakan kesempatan untuk berbuat baik sebelum waktunya berlalu. Kapan pun seorang mukmin mendapatkan kesempatan itu, maka wajib baginya untuk memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam bish-shawab

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment