Tobat Maqbul, Tafsir Surat (Q.S. An-Nisā’ [4]: 17-18)

itikaf sendiri

Oleh : Dr.H. Aam Amiruddin

Sesungguhnya, bertobat kepada Allah itu hanya pantas bagi mereka yang melakukan dosa karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Tobat itu tidak diterima dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, barulah mengatakan, ‘Saya benar-benar bertobat sekarang.’ Tidak pula diterima tobat dari orang-orang yang meninggal dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih.” (Q.S. An-Nisā’ [4]: 17-18)

alquran muasir

Kata tobat sempat muncul dalam pemberitaan nasional ketika salah satu partai yang “tersandung” masalah mengajak konstituennya untuk melakukan tobat nasional. Meski bukan terminologi yang baru, namun frasa tobat nasional dalam kerangka partai merupakan sesuatu yang menarik untuk dicermati. Pertanyaan yang menggelitik dalam hati saya, bagaimana tobat mesti dilakukan secara jama’i atas kesalahan salah satu dari anggota jamaah dalam bingkai institusi?

Menjawab pertanyaan tersebut, kali ini saya sampaikan ulasan mengenai dua ayat Surat An- Nisā’ayat ke-17 dan 18.

Secara jelas, ayat ke-17 menjelaskan tentang bagaimana tobat diterima oleh Allah. Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa sebuah tobat dari dosa akan diterima ketika yang bersangkutan mengerjakan dosa dalam kondisi “jahalah” (kebodohan/ketidak-tahuan). Dalam pengertian sederhana,  “jahalah” berarti ketidaktahuan pelaku bahwa yang dilakukannya adalah dosa atau pelanggaran yang membawa efek siksa bagi dirinya di dunia dan akhirat. Tidak tahu bisa juga diartikan tidak sadar atas pedihnya siksaan Allah kelak akibat dari perbuatan dosanya tersebut.

kalender

Imam Mujahid mengemukakan bahwa yang termasuk kategori “jahalah” adalah perbuatan maksiat yang dilakukan baik karena khilaf atau pun sengaja. Ibnu Jarier meriwayatkan bahwa para sahabat sepakat bahwa “jahalah” yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah perbuatan dosa yang dengannya menunjukkan bahwa pelaku berada dalam kebodohan.

Dari uraian tersebut diketahui bahwa istilah tobat dilekatkan kepada orang yang melakukan perbuatan dosa. Pada ayat ke-17 Surat An- Nisā’, disebutkan bahwa pelaku dosa yang dimaksud bersifat individual, meski dosa yang dilakukan tidak sedikit yang dilakukan secara kolektif.

Secara bahasa, tobat mempunyai arti kembali. Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arab menerangkan bahwa kata tobat mempunyai arti kembali, kembali kepada Allah dengan pulang membawa ampunan dari-Nya. Secara syari, tobat adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah dengan meminta ampun atas segala dosa-dosa yang telah dilakukan dengan janji yang sungguh sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut di waktu yang akan datang dan menggantinya perbuatan dosa tersebut dengan menjalankan amal-amal soleh. Itulah yang disebut tobat nasuha sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini.

Hai, orang-orang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh. Mudah-mudahan Tuhan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, yaitu pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang beriman yang bersama dengannya; cahaya mereka memancar di hadapan dan di kanan mereka. Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya untuk kami dan ampunilah kami. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.’” (Q.S. At-Taĥrīm [66]: 8)

Ulama sepakat bahwa hukum tobat adalah wajib dan segera bagi orang yang melakukan dosa besar. Namun, para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban bertobat dari dosa kecil. Hanya saja, sejumlah riwayat mengemukakan bahwa setiap amal shaleh baik yang mahdhah atau ghair mahdhah, akan berdampak pada dihapusnya dosa, dan dosa yang dimaksud adalah dosa kecil. Dengan alasan tersebut, sebagian mengatakan bahwa untuk dosa kecil tidak perlu ada tobat khusus. Meski demikian, tidak dibenarkan menyepelekan dosa walupun sekecil apa pun. Karena, dari yang kecil itu dapat menjadi besar. Karena, dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus dan dengan kesengajaan dapat menjadi bagian dari dosa besar.

Redaksi ayat ke-17 Surat An-Nisa yang tengah kita bahas dimulai dengan kata “innama” yang berfungsi sebagai adatul-hashri (batasan) terhadap ruang lingkup yang dimaksud. Ini menunjukkan bahwa tobat itu hanya kepada Allah saja dan hanya Allah yang bisa menerima tobat. Dalam sudut pandang yang lain, sangat ditekankan tidak adanya perantara dalam hubungan antara hamba dengan Allah termasuk dalam urusan tobat. Tobat adalah hak yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya.

Berikutnya, Allah menjelaskan bahwa tobat yang diterima (tobat maqbul) adalah tobat yang dilakukan segera atau dalam waktu dekat sebagaimana disebutkan dalam petikan ayat berikut. “…kemudian segera bertobat …” Ibnu Abbas memberikan penjelasan pada petikan ayat ini dengan mengatakan, “Antara dia sampai datangnya malaikat maut.” Ad-Dhahak mengatakan, “Selama ajal belum datang, maka termasuk pada pengertian ‘segera’ yang dimuat ayat di tersebut.” Sementara, Ibnu Katsir mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad berikut. Dari Ibnu Umar, dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan.” (H.R. Tirmidzi)

Betapa luas tidak terbatas ampunan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya selama kesempatan tobat masih dimiliki yang bersangkutan, tanpa melihat seberapa besar dosa yang dilakukan dan seberapa banyak kesalahan yang diperbuat. Semua itu Allah tegaskan dalam penutup ayat, “…Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. membuka ‘tangan’-Nya pada malam hari untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada siang hari, dan membuka ‘tangan’-Nya pada siang hari, untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada malam hari, (terus berlangsung demikian) hingga (datang masanya) matahari terbit dari Barat (kiamat).” (H.R. An-Nasai)

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits sebagai berikut. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya setan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu wahai Rabb, aku senantiasa akan menggelincirkan hamba-hamba-Mu selama ruh mereka masih ada di dalam jasad-jasad mereka,’ maka Rabb berfirman, ‘Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku akan senantiasa mengampuni mereka selama mereka meminta ampun kepada-Ku.’”

Meski demikian, kesempatan luas tidak terbatas selama hidup untuk bertobat tidak berarti bahwa tobat dapat ditangguhkan untuk kemudian kita berleha-leha. Karena, sebagaimana kita ketahui, kematian merupakan misteri yang bisa datang kapan saja. Itu sebabnya dalam salah satu ayat Surat Ali Imran, Allah menegaskan,

Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan dapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.” (Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 133)

Sekali lagi, jangan sampai menunda-nunda kesempatan tobat yang ada. Merupakan penyakit paling berbahaya, seseorang yang mengidap taswif (kebiasaan menunda-nunda). Orang yang selalu menunda-nunda tobat ibarat orang yang hendak mencabut sebatang pohon yang saat ini mampu dia cabut namun dengan sengaja ditunda dan dia dengan yakin akan bisa melakukannya di waktu yang akan datang sementara pohon yang dimaksud semakin sulit untuk dicabut.

Karenanya, camkan yang djelaskan oleh Allah dalam ayat ke-18 surat An- Nisā’. Jangan sampai tobat berlalu sementara ajal sudah di depan mata. Naudzubillah min dzalik.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment