Memaknai Dunia Agar Selamat Dari Fitnahnya

harta tahta wanita

Oleh: Tate Qomaruddin*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Salah satu parameter kesuksesan hidup seorang manusia adalah manakala dia memiliki pandangan yang benar dan tepat tentang kehidupan dunia ini. Bisa saja ada manusia yang memandang dunia ini sebagai tujuan akhir dari kehidupan. Lalu untuk itu, dia mengarahkan segala potensi dan cita-cita untuk menggapai segala sukses duniawi, baik yang material maupun yang tidak bersifat material. Yang meterial misalnya harta, rumah, perusahan, dan sebagainya. Yang nonmaterial misalnya wibawa, popularitas, dan lain-lain. Lalu kalau tujuan dunia itu sudah tercapai, akankah kebahagiaan abadi dalam berada dalam genggamannya? Akankah itu menghadirkan kebahagian? Mari kita simak hadits Rasulullah Saw tentang dunia,

alquran muasir

قال رسول الله (ص) إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ. (مسلم)

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesugguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya. Dia akan memperhatikan apa yang kalian lakukan. Maka berhatilah-hatilah dalam menghadapi dunia dan berhati-hatilah dalam menghadapi perempuan karena awal fitnah (yang terjadi pada) Bani Israil adalah urusan wanita.” (H.R. Muslim)

Hadits ini sekilas namun mendalam maknanya menerangkan tentang dunia berikut sumber fitnah di dalamnya. Jika tidak hati-hati maka setiap orang berpotensi terperosok ke dalam perangkapnya.

kalender

Jhon Maxwell menceritakan, sebagaimana dikutip Rudy Langitan dalam Second Mile, bahwa pada 1923 sekelompok orang sukses Amerika Serikat (AS)bertemu di Hotel Edgewater Beach di Chicago, Illionis, AS. Secara keseluruhan, kelompok ini merupakan kelompok konglomerat kaya dan menguasai kekauaan keuangan AS saat itu, yang ketika itu jumlah uang yang mereka kelola lebih banyak daripada uang di bendahara AS.

Berikut ini adalah nama-nama mereka yang hadir saat itu: Charles Schwab, Persiden perusahaan baja terbesar di Amerika; Arthur Cutten, spekulan gandum terbesar di Amerika Serikat; Richard Whitney, Presiden Bursa Saham New York; Albert Fall, anggota kabiner Amerika Serikat; Jess Livermore, “beruang” terbesar di Wall Street; Leon Fraser, presiden Bank of International Settlement; dan Ivar Kreuger, kepala monopoli terbesar di dunia.

Mereka orang-orang yang membuat banyak orang lain iri dan ingin mengikuti jejak dan sukses mereka. Mereka dianggap hebat dan berwibawa. Namun dua puluh tujuh tahun setelah pertemuan di hotelh mewah itu, kisah tragis menimpa mereka semua:
Charles Schwab, mati dalam keadaan tidak punya uang alias bangkrut; Arthur Cutten, mati di luar negeri dengan meinggalkan banyak utang alias pailit; Richard Whitney, mati tidak lama setelah dibebaskan dari penjara Sing Sing New York; Albert Fall, dibebaskan dari penjara agar dapat meninggal di rumahnya; sedangkan Jess Livermore, Leon Fraser, dan Ivar Kreuger mati buhuh diri. (Lihat Rudy Langitan, Second Mile hal. 33-34)

anak harta tahta
kesenangan dunia

Itulah dunia dan begitulah nasib para pengejar dunia. Orang yang sukses di dunia tidaklah berarti sudah mencapai segalanya dan tidak akan berubah. Dunia datang dan pergi. Dan, yang telah menggenggamnya sekalipun tidak ada jaminan akan menggenggamnya untuk selamanya. Oleh karena itu, Sang Pencipta menjelaskan kepada kita bahwa dunia adalah kesenangan yang menipu dan bahwa dunia itu tidak lain merupakan permainan dan senda gurau. Di banyak ayat dalam Al-Quran, Allah Swt. menjelaskan,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (ال عمران 185)

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Sungguh, pada hari Kiamat balasanmu akan diberikan dengan akurat. Siapa pun yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh ia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Q.S. Ali Imran [3]: 185)

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (العنكبوت 64)

“Kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Sesungguhnya, akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (Q.S Al-‘Ankabuut [29]: 64)

Lalu haruskah dunia kita nistakan lalu kita tinggalkan? Tunggu dulu! Karena dalam waktu yang bersamaan, Allah juga menjelaskan bahwa dunia juga bisa menyebabkan seseorang mendapat kemuliaan.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (القصص 77)

Carilah pahala akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S Al-Qashash [28]: 77)

Ayat itu memerintahkan agar kita mencari kebahagiaan hari akhirat dengan memanfaatkan dunia. Bahkan, dalam ayat itu penyebutan kehidupan dunia disebutkan lebih dahulu dari pada akhirat. Ini sesuai dengan doa yang biasa kita lantunkan,

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (البقرة 201)

Ya Tuhan kami, berilah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 201)

Hadits yang sedang kita bahas ini menjelaskan bahwa dunia itu manis dan hijau. Manis adalah gambaran rasa paling enak. Dan, hijau adalah gambaran warna paling indah. Jadi, dunia itu enak dirasakan dan indah dipandang. Jika demikian, sudah barang tentu manusia akan sangat menyukainya. Tapi, di sinilah letak ujiannya.

Manusia ternyata tidak disuruh meninggalkan dan menistakan dunia ini. Manusia – yakni yang beriman – justru mendapat amanah dari Allah untuk mengelola dunia ini. Dan, untuk itulah manusia disebut khalifah. Tugas sebagai khalifah mempunyai beberapa misi. Pertama, harus mengisi dunia dan ini berarti mereka diperkenankan menikmati dunia.

Kedua, menjadi khalifah berarti manusia bukanlah pemilik yang sesungguhnya karena pemilik dunia yang sesungguhnya adalah Allah Swt. Oleh karenanya, manusia akan ditanya di hari akhirat kelak tentang yang diterimanya dalam kehidupan dunia.

Ketiga, dunia dan segala isinya harus dimanfaatkan untuk mencapai kehidupan yang sebenarnya, yakni kehidupan akhirat. Dan bukan sebaliknya, mengorbankan kehidupan akhirat demi mengejar kesenangan di dunia.

Dan, kesemuanya itu akan dipantau dan diawasi oleh Allah Swt. Allah pasti menyaksikan yang dikerjakan manusia. Tidak ada satu tindakan pun yang luput dari pemantauan Allah Swt. Dalam hal inilah kemudian manusia berbeda-beda dan berperingkat-peringkat di hadapan Allah Swt.

Dan, di bagian akhir hadits tersebut, Rasulullah Saw. mewanti-wanti kita agar berhati-hati dan tidak terjebak dengan godaan dunia dan godaan wanita. Keduanya memiliki daya pikat yang luar biasa. Akan tetapi, bagi orang yang memahami makna kehidupan dunia, semua jebakan dan godaan itu hanya akan memperkuat hubungannya dengan pemilik dunia. Allahu a’lam. [ ]

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.

Editor: iman
Ilustrasi foto: pixabay

Bagi pembaca yang punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment