Ketika Menikah Terganjal Restu Mertua

menikah

Saya seorang wanita 24 tahun yang sedang menjalani hubungan selama lima tahun dengan seorang pria, sebut saja X yang umurnya satu tahun lebih muda dari saya. Saya sudah bekerja selama satu tahun, sedangkan X baru empat bulan bekerja. Kami berniat menikah tahun depan. Namun, kendala yang kami hadapi adalah orangtua X menginginkan agar ia mengambil dan menyelesaikan studi S2, mencari kerja dan hidup mapan terlebih dahulu. X adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya laki-laki. Ayah dan ibunya sama-sama bekerja, namun sudah berpisah sejak lama.

Saya dan keluarga menginginkan tetap menikah tahun depan karena usia kami sudah cukup dan Insya Allah untuk urusan biaya bisa kami usahakan. Sudah terlalu lama kami ‘pacaran’ dan tidak ingin mengundang fintah. Niat kami baik, ingin menjalani kehidupan bersama, membangun keluarga dan bersama meningkatkan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Saya sudah membayangkan indahnya shalat berjamaah, mengaji bersama dan berbagi cerita setiap hari dalam kehidupan berumah tangga dengan X.

alquran muasir

Kami meminta saran dari ustadz. Apa yang harus kami lakukan agar bisa meyakinkan orangtua X bahwa dengan menikah tidak akan menghalangi sekolah maupun kariernya. Bahkan, mungkin saya bisa membantunya dengan memberikan dukungan setiap hari, menyiapkan sarapan dan selalu ada di sampingnya untuk memberikan support. Terimakasih, kami tunggu sarannya.

 

 

Pernikahan memang tidak semata-mata kesepakatan kedua pasangan yang bersangkutan. Disadari atau tidak, pernikahan akan melibatkan banyak individu yang kadang berseberangan dengan kehendak pasangan.

Tapi, hal tersebut hendaknya tidak menjadi batu sandungan yang dapat menggugurkan impian pasangan yang memang ingin berniat melaksanakan sunah Rasul. Beberapa hal yang dapat dilakukan berkenaan dengan situasi yang tengah Anda hadapi adalah:

kalender

1. Silaturahmi. Jangan sampai silaturahmi secara intens hanya terjalin antara Anda dan X. Justeru sebaiknya, silaturrahmi yang intens perlu dibangun dengan keluarga terkait untuk membangun sinergi di kemudian hari dan mengeliminir kemungkinan ketidaksepahaman antar kedua belah pihak.

2. Setelah sillaturahmi, selanjutnya yang perlu dijaga adalah komunikasi. Barangkali, inilah yang seringkali diabaikan calon pasangan suami istri karena ada beberapa diantarnya yang merasa canggung dan segan berinteraksi dengan calon mertuanya.

3. Jika komunikasi yang terjadi cukup lancar, maka Anda memiliki kesempatan untuk melakukan sharing terkait rencana yang sedang dibuat. Boleh jadi, calon mertua tidak mengetahui secara detil apa dan bagaimana tujuan pernikahan Anda dan X. Sehingga, calon mertua memiliki versinya sendiri mengenai pernikahan anaknya sehingga hal tersebut membuat mereka memaksakan yang menjadi visi mereka sendiri.

Yang saya kemukakan mudah-mudahan menjadi salah satu solusi. Tapi, ikhtiar tidak selalu sesuai yang diharapkan. Karenanya, lebih baik persiapkan mental Anda untuk menerima keputusan terbaik setelah berusaha maksimal (ikhtiar) yang diiringi doa yang sesugguh-sungguhnya. Wallahu a’lam.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment