Benarkah Ummat Islam Tidak Toleran? Ini Faktanya

toleransi

 

Oleh: M.Roinul Balad*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Kenyataan pahit yang kerap kita terima selaku warga Indonesia khususnya Ummat Islam adalah dicap intoleran terhadap kaum minoritas. Bahkan, istilah seperti “Ketuhanan Yang Mayoritas” menjadi sindirian paling memalukan. Namun, betulkah hal itu benar-beanr terjadi? Atau malah hanya alat propaganda kelompok tertentu. Sengaja dibuat untuk menyulut api perpecahan, mengadu domba sesama warga negara. Atau mungkin muncul dari sentimen berlebihan kelompok tertentu. Apa pun alasannya, hal ini sangat merugikan dan mencoreng citra Indonesia itu sendiri.

alquran muasir

Pertanyaan benarkah Ummat Islam di Indonesia intoleran?. Terlebih bila kita jawab dengan pandangan subjektif semata. Tentu akan beragam jawabnya. Kerap kali istilah intoleransi dikait-kaitkan dengan kelompok dominan pada satu wilayah tertentu. Lebih dalam lagi, intoleransi ditunjukan dengan sikap diskriminatif. Salah satu yang terlontar dari Romo Franz Magnis, ia mengkritik pedas Appeal of Conscience Foundation (AFC) di New York atas penghargaan World Statesman Award 2013 kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) medio Mei 2013. Penghargaan itu diberikan atas prestasi SBY dalam menjaga kerukunan antar umat beragama dan toleransi.

Jelas Franz menolak. Dengan lantang ia berkata kepada seluruh hadirin peserta AFC, “I am a Catholic Priest and professor of philosophy. In Indonesia we learnt that you are going to bestow this year’s World Stateman Award to our President Susilo Bambang Yudhoyono because of his merits regarding religious tolerance.This is a shame, a shame for you. It discredits any claim you might make as a an institution with moral intentions. How can you take such a decision without asking concerned people in Indonesia?.

Tentu saja Franz berkata demikian dengan membeberkan bebera bukti; misalnya kasus penggusuran rumah ibadah, bentrok warga dengan motif agama, pemasungan kebebasan berpendapat, hingga kekerasan atas nama agama. Kita tak bisa menutup mata, tentu saja hal-hal yang dibicarakan Franz memang betul-betul terjadi di tengah-tengah masyarakat. Tapi apakah itu cukup untuk mengatakan bahwa Indonesia tidak toleran?! Tentu saja kita harus berpikir objektif dan lebih jernih. Karena kasus-kasus yang terjadi ‘atas nama agama’ itu sangat kecil frekuensinya. Lalu bagaimana dengan masyarakata lain? Mereka yang telah berjuang menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman. Masihkah kita mengatakan mereka intoleran.

kalender

Hal memalukan lainnya adalah ketika intoleran dan kekerasan selalu dikaitkan dengan kaum mayoritas. Kita sama-sama tahu, mayoritas pendudukan Indonesia adalah muslim. Lantas, apakah mereka semua bersalah atas segilintir peristiwa yang dilakukan kelompok tertentu. Agama jelas tak bisa disalahkan. Semua agama mengajarkan untuk hidup rukun dan damai, bukan? Lagipula, urusan kekerasan dan tindak kriminal adalah tanggung jawab aparatur penegak hukum. Tugas kita selaku warga negara adalah mendukung kinerja penegakan hukum, bukan malah memperkeruh suasana dengan tudingan dan spekulasi. Apalagi sampai menyerbar benih-benih perpecahan.

Inilah salah satu fakta toleransi ummat Islam  . . . . ..  ..  .

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment