Agama dan Komunikasi Politik

demo

Oleh : Dudi Sabil Iskandar*

Apa makna terpenting dari aksi damai jutaan umat Islam di seluruh Tanah Air, 4 November lalu? Jawaban paling cerdas, logis, dan rasional adalah sinergisitas agama dan komunikasi politik menemukan momentum dan kebenarannya. Agama yang selama ini dipotret sebagai sesuatu yang melangit; menara gading; ‘kedisanaan’ ternyata secara empiris menjadi gerakan massa yang luar biasa. Ia beradab; genuine; meminjam bahasa headline Republika (Sabtu, 5/10) “Aksi Bermartabat.”

Kekhawatiran sejumlah kalangan—terutama yang sinis dengan gerakan massa dan Islam politik—akan terjadi amuk massa; kerusuhan massal; anarkisme, ternyata tidak terbukti. Justeru aksi simpatik, damai, dan menggugah ditunjukkan peserta aksi jalanan terbesar sepanjang sejarah republik ini. Dalam konteks inilah, komunikasi politik yang elegan dan beradab telah ditampilkan umat Islam, bukan hanya kepada anak negeri ini, tetapi ke seantero jagat raya.

alquran muasir

Jika dipotret dengan kepala dingin dan bijak, pemantik aksi damai umat Islam ini hanya satu: Ucapan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Ucapan tentang “Al Maidah ayat 51” dianggap sebagai puncak dari ‘ketidakberadaban’ ucapan Ahok sebagai Gubernur. Ucapan itu dipandang ibarat semburan bensin ke tengah api yang sedang menyala. Ahok adalah Gubernur non-muslim di wilayah mayoritas muslim. Sebelumnya ia kerap berbicara kasar dan tidak mencerminkan etika seorang pejabat publik yang patut diteladani. Nyaris semua kalangan pernah mendapat ‘sumpah serapah’ Ahok. PNS, wartawan, dan rakyat jelata, contohnya. Aksi massa damai umat Islam 4 November adalah refleksi dari pepatah keselamatan seseorang terletak pada lidahnya (salamatul insan fi hifzhil lisan). Masalah kemudian momentun aksi massa berbarengan dengan pilkada DKI Jakarta itu hanya blessing indisguise saja. Apalagi salah satu partai pengusung Ahok (plus Djarot Syaiful Hidayat) adalah PDIP yang nota bene secara historis tidak memiliki hubungan genealogis dengan partai Islam.

Dengan demikian, aksi massa damai kaum muslimin 4 November adalah muara dari dua kepentingan yang berbeda –agamis dan politis– namun memiliki tujuan yang sama, yakni memberi peringatan (warning) Ahok.

Titik Temu
Perang wacana di harian ini, antara Amien Rais/AR (Bung Jokowi, Selesaikan Skandal Ahok), Abdillah Toha/AT (Menista Langit), dan terakhir Syamsul Hidayat/SH (Kehormatan Agama) menegaskan satu hal. Yaitu, dinamika dan perbedaan penafsiran terhadap realitas politik umat Islam kontemporer. Sekali lagi pemicunya adalah Ahok. Di satu sisi, AR dan SH bermain di wilayah struktural-formalistik. Wilayah ini meletakkan Islam sebagai political-based. Sebaliknya AT berada di area substansial-kultural yang berakar pada cultural-based. AR dan SH mengusung Islam dari kacamata realitas-historis sedangkan AT memotret Islam dalam pandangan idealisme-normatif.

kalender

Persoalannya adalah bagaimana mempertemukan dua gerakan yang sesungguhnya tidak bertolak belakang, namun saling melengkapi tersebut? Kita harus akui hingga kini dua gerakan tersebut masih berjalan sendiri-sendiri. Sepanjang sejarah kaum muslimin negeri ini, dua gerakan tersebut belum pernah sinergis secara sistemik dan optimal. Yang ada justeru kedua pola gerakan umat tersebut kerap saling nyinyir; sinis, ngenye (bahasa Jawa).

Secara teoritis agama adalah dunia simbolik. Ia berada di wilayah penafsiran; pemaknaan, sehingga ia sangat subjektif. Bahkan yang namanya beragama berada dalam posisi ultrasubjektif; memiliki pilihan sikap dalam berpikir dan bertindak (praxis). Tampaknya sangat mustahil meletakkan agama dalam dunia objektif. Fakta teraktual adalah reaksi beragam umat Islam mengenai ucapan Ahok tentang Al Maidah 51. Masing-masing memiliki posisi, tafsir, dan makna tersendiri. Makna itu sangat subjektif. Ia berada di area praktik.

Potret 2019
Yang tidak boleh diabaikan dalam menganalisis aksi massa damai umat Islam 4 November dan Pilkada DKI Jakarta adalah miniatur pemilihan presiden 2019. Jika pasangan Ahok-Djarot menang di Pilkada, besar kemungkinan duet Jokowi-Ahok akan diusung PDIP untuk Pilpres 2019. Sedangkan jika Anies Baswedan-Sandiago Uno yang unggul, peluang Anies mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpres mendatang adalah sesuatu yang sangat realitis.

Dalam konteks kesinambungan pertarungan Pilkada DKI Jakarta ke Pilpres 2019 komunikasi politik umat Islam diuji. Di sinilah titik temu antara gerakan Islam struktural-formalistik dan substansial-kultural. Tidak memilih Ahok di Pilkada DKI Jakarta (struktural-formalistik) bukan karena etnis China, non-muslim, ataupun dari partai yang tidak memiliki genealogis dengan Islam, tetapi perilaku Ahok yang tidak islami. Selain ucapannya yang kerap menyakiti pihak lain dan tidak mencerminkan watak seorang pemimpin, ia pun kerap menggusur pemukiman warga tanpa kompromi. Tercatat 12 kali Ahok menggusur pemukiman penduduk. Padahal dalam Islam menggusur satu orang sama dengan menggusur seluruh manusia. Ini sebagai tamsil dari ayat Alquran membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia (Q.S. Al Maidah : 32) . Tentu saja dugaan penyalahgunaan wewenang dan atau dugaan korupsi Ahok dalam kasus reklamasi, Rumah Sakit Sumber Waras, pembelian tanah di Cengkareng, Jakarta Barat adalah sederet alasan untuk tidak memilih Ahok berdasarkan nilai-nilai Islam (kultural-substansial).

Sebagai pamungkas penulis ingin menegaskan dua hal. Pertama, show of power, 4 November mematahkan mitos yang berkembang di kalangan intelektual Islam liberal yang menegasikan plus mencibir gerakan Islam politik (struktural-formalistik). Bahwa gerakan Islam politik adalah sebuah kebodohan; keterbelakangan; absurd; tidak pernah dicontohkan junjungan Nabi Muhammad SAW. Pun, membuka mata ‘intelektual muslim cerdas’ yang kerapkali memandang sebelah mata atau sinis potensi gerakan massa. Kedua, kalau pun di Pilkada DKI Jakarta representasi umat Islam kalah, komunikasi politik yang elegan, cerdas, dan proyektif sudah dilakukan. Dalam konteks itulah sesungguhnya agama dan komunikasi politik menemukan momentumnya ketika memiliki agenda yang sama. Ini penting sebagai bekal perjalanan umat Islam Indonesia ke depan, khususnya di Ibu kota ini. Tabik! Wallahu ‘alam bil showab.

*Dosen Fikom Universitas Budi Luhur, Jakarta. Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment