Indahnya Ukhuwah dan Ujian Itu Kita Hadapi Bersama

melawan kemunkaran

Oleh: Abu Yusuf Muhammad*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Manusia memang sejatinya dilahirkan dalam seabreg tugas yang harus dia selesaikan. Sejak mulai menghirup oksigen pertama kali hingga dia mengembuskan napas terakhir, saat itulah dia memiliki banyak ujian yang harus diselesaikannya. Bahkan, ujian manusia telah ditegaskan Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi.

alquran muasir

“Cobaan tidak henti-hentinya menimpa orang mukmin dan muknimah dalam dirinya, anak, dan hartanya, hingga dia bertemu Allah tanpa punya dosa.”

Variasi ujian, baik yang menyenangkan dan menyedihkan, sengaja Allah berikan agar manusia yang mengalaminya menjadi lebih kuat dan kokoh. Kita sudah paham betul bahwa menempa emas menjadi perhiasan indah adalah dengan cara letupan api yang sungguh panas.

Atau, kita pun sudah mengetahui bahwa memasak sayur bayam agar terasa nikmat rasanya harus direbus dahulu dalam air yang  mendidih. Ya, begitulah rencana Allah. Allah memang menginginkan setiap manusia menjadi lebih tahan banting, lebih kuat dari baja dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Dan, tentunya semua itu ditempa di madrasah ujian.

kalender

Dalam menjalani madrasah ujian, rupa-rupanya tidak sedikit manusia yang “buta”. Banyak manusia yang menganggap ujian yang bertubi-tubi adalah cercaan, hinaan, dan cemoohan yang menjatuhkan harga diri dan kehormatan. Rupa-rupanya, tidak sedikit pula yang “mengutuk” Tuhan atas semua ujian yang dihadiahkan-Nya. Padahal, ujian yang dideritanya tak seujung jari pun dengan ujian para Nabi dan sahabat Rasul yang mesti dibayar dengan harta yang tidak sedikit, dan bahkan tidak jarang dengan nyawa.

Jika ada pikiran dangkal dalam memahami sebuah ujian, mana mungkin keluarga Yasir bisa meraih surga. Jika menjalani madrasah ujian dengan keluh kesah, benar-benar hal yang tidak mungkin Anas bin An-Nadhr memperoleh kehormatan saat di perang Uhud, padahal tubuhnya terpotong-potong dan terkoyak.

Bila Bilal tidak mengetahui esensi madrasah ujian yang begitu indah, maka tidak akan pernah mungkin dia meraih tingkatan keimanan, padahal tubuhnya ditindih batu di gurun yang begitu panas dan gersang. Jika Nabi Yusuf tidak sabar dalam menjalani ujiannya berupa rayuan permaisuri Mesir, maka tidak akan pernah bisa ia raih gelar “hai, orang yang jujur.”

Ya, jika manusia-manusia yang luar biasa itu tidak menyadari bahwa ujian sebenarnya adalah kado terindah dari Tuhan. yang sejatinya ujian itu untuk mendewasakan dan membuatnya bertambah cinta kepada Sang Rabb, maka ujian itu akan berbuah laksana api neraka. Namun, jika manusia-manusia itu sadar akan indahnya ujian, maka ia akan peroleh buah yang nikmat laksana buah dari surga.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.” (Q.S Al-Baqarah: 207).

Ketahuilah, banyak sekali tokoh hebat yang lulus dari madasah ujian. Ada Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabah, Shuhaib Ar-Rumi, Salman Al-Farisi, Khabab bin Al-Arat. Juga ada tokoh-tokoh lain yang bisa “bersinar” melalui tahapan-tahapan ujian yang telah mereka lalui, seperti Malik bin Anas, Abu Hanifah, Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, dan tokoh-tokoh besar lainnya. Ujian-ujian yang mendera orang-orang tersebut tentu saja menyita banyak waktu, pikiran, bahkan air mata.

Namun, mereka yakin tempaan ujian yang “membara” dari Allah kepada mereka kelak akan membuatnya seperti emas yang berharga. Mereka pun sangat yakin deretan ujian yang hadir akan menjadikannya “orang” di kemudian hari.

Ujian bukan hanya dihadapi dan menimpa seseorang saja namun bisa juga menimpa kaum muslimin, seperti ujian firnah yang dilancarkan orang-orang kafir kepada orang beriman. Dalam menghadapi ujian ini semua kaum muslimin diminta untuk bersabar bersama kaum muslimin lainnya. Demikian juga saat melawan fitnah tersebut maka tidak harus menghadapi sendiri-sendiri. Disinilah ukhuwah (persaudaraan) juga diuji, kita lawan berjamaah atau mengedepankan ego masing-masing. Sikap terbaik tentu kita hadapi secara berjamaah toh yang difitnah bukan pribadi kita.

Disinilah ujian ukhuwah islamiyah kita betul-betul diuji. Untuk itu diperlukan kehidupan berjamaah dan tidak bisa dilawan sendiri-sendiri. Dalam hal ini diperlukan seorang leader yang mampu menyatukan ummat Islam. Jika kita mampu melewati fase yang demikian maka kemulian dan kejayaan itu semakin nyata. Jadi, mengapa kita masih mengeluh dan menyudutkan Allah ketika kita berada di madrasah ujian? Wallahu’alam. [ ]

 

 

*Penulis adalah pendidik dan pegiat dakwah.

 

Editor: eika

Ilustrasi foto: norman

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment