Hukum Memakan Hidangan Tahlilan

hidangan
FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerSilakan Share

Ustadz, saya pernah mendengar bahwa kita tidak diperbolehkan memakan makanan dari acara tahlilan, karena hal itu termasuk kategori memakan harta anak yatim atau memakan di atas penderitaan orang yang terkena musibah, apa bener pernyataan seperti ini?

 

Tahlilan memang tidak dicontohkan oleh Rasul. Kalau kita baca kehidupan para sahabat, tidak ada sebuah riwayatpun yang menjelaskan bahwa sahabat melakukan tahlilan untuk Rasululloh padahal tidak diragukan lagi besarnya cinta sahabat terhadap Rasul.

Ketika Siti Hadijah wafat, Rasulullah saw tidak melakukan tahlilan untuk Siti Hadijah padahal kita tahu bagaimana kedalaman cinta Rasul kepada Hadijah. Ketika Ibrahim putra Rasul meninggal, Rasulpun tidak melakukan tahlilan untuk putranya.

Dari riwayat-riwayat tersebut bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah dan para sahabat tidak pernah melakukan tahlilan kalau ada yang meninggal. Pelaksanaan tahlilan sebetulnya merupakan budaya setempat yang dianggap sebagai agama sehingga oleh sebagian ulama disebut sebagai sesuatu yang tidak dicontohkan oleh Rasul. Inilah inti dari hukum tahlilan.

Kemudian bagaimana hukum memakan makanan yang dikirim dari tahlilan?
Sebaiknya kita tinjau kembali apa yang terjadi pada jaman Rasulullah saw. Rasul justru mengajarkan untuk meringankan orang yang terkena musibah wafat. Dikisahkan bahwa pada saat istri Ja’far meninggal, Rasul menyuruh kepada sahabat untuk menjamu keluarga Ja’far, bukan keluarga Ja’far yang menjamu orang-orang.

Dalam kisah ini, Rasul mengatakan kepada para sahabat “bikinlah makanan untuk keluarga Ja’far karena dia sedang terkena musibah”. Nah yang terjadi pada masyarakat kita adalah sebaliknya, orang yang terkena musibah yang harus repot menyiapkan hidangan, menjamu masyarakat lingkungannya.

Pertanyaannya bagaimana status makanannya, halal atau tidak?
Menurut hemat saya makanannya tetap halal dan tidak bisa disebut dengan memakan harta anak yatim. Yang paling aman kita tidak melakukan tahlilan, gunakan logika yang sederhana tapi tulus, maka anda akan menyimpulkan bahwa memang sebaiknya orang yang terkena musibah tidak kemudian membuat makanan untuk dibagi-bagi.

Kalau kita pada akhirnya terpaksa menerima sesuatu dari tahlilan, menurut hemat saya makanannya tetap halal, sajadahnya tetap bisa dipakai, dan Qurannya juga bisa dipakai, karena kalau dibuang malah akan menjadi mubadzir.

Semoga dengan penjelasan ini rekan-rekan semakin paham bahwa sebenarnya tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang suka tahlilan, Rasululloh tidak pernah melakukan tahlilan dan juga secara akal sehat orang yang terkena musibah itu harus diringankan bukan malah direpotkan.  Wallahu a’lam bi shawab.

15 Komentar Artikel “Hukum Memakan Hidangan Tahlilan

  1. MUSLIM

    TETANGGA SAYA YANG ANTI TAHLILAN (MEMBACA KALIMAH THOYYIBAH) ADA YANG MENINGGAL, MALAM HARINYA PARA KELUARGA MASIH PADA NGUMPUL, RAME BANGET, TAPI YANG DILAKUKAN HANYA NGOBROL, GUYON, BAHKAN ADA YANG MAIN GAPLE… MANA YANG LEBIH BAIK???

  2. alex baron

    Itu jg gak baik..
    jd seperti memmilih antara dua keburukan maka semuanya jngn ada yg di pilih
    Wallahu a`lam..

  3. panc

    Bapak bilang tidak usah lakukan tahlilan..mmg tahlilan isinya apa pak?maksiat?tahlilan isinya doa semua pak..mmg yg kasih jamuan pada repot pak?mereka ikhlas lahir bathin pak, kl ttg yg mau bantu silahkan..

  4. Badranaya

    Tahlil itu bgi umat muslim NU,tp klo mau itu jg kan hukumnya sunah…klo NU itu d pakainya wajib sama sunahnya…klo bgi umat selain nu itu d pakainya WAJIB nya aja..trs yg sy bikin pusingnya itu kenapa memakan makanan tahlilan itu ada hukumnya yaitu HALAL,..kan udah tau klo umat muslim itu makanannya harus halal knpa harus d pertanyakan…anak kecil jg tau klo makanan nya halal..klo yg tahlil d kasih makan haram berarti itu yg tahlilan orang YAHUDI…hatur nuhun

    1. Oma Dewi

      Eeeit jgn salah Pak.
      Siapa bilang makanan orang Yahudi tidak halal.
      Orang Yahudi punya toko makanan halal…sampai makanan tuk penumpang kapalpun halal.Kalau di negara asing mau cari makanan halal yg ok banget ya cari aja di toko makanan orang Yahudi
      Yahudi yg bandel aja yg makan makanan nggak halal….sama dgn orang Islam yg nggak taat juga banyak yg makan makanan nggak halal.

  5. Agus setiawan

    BAGAIMANA KITA (ISLAM) MAU BERSATU KALAU MASIH MEMPERMASALAHKAN PERBEDAAN (TAHLIL, QUNUT) … PERBEDAAN ITU WAJAR

  6. gustin

    Memang tahlilan isinya doa, yang di sayangkan yang seharusnya mendoakan yaitu ahli waris ga sempet mendoakan sibuk ngurus jamuan untuk yang datang

    1. akyu

      ah siapa bilang yg ahli waris kalau pas tahlilan sih ikut berdo’a yg nyiapin makanan ada yg bantu tetangga itupun sebelumnya, makanya lihat dulu baru komen, saksikan dulu orang tahlilan dengan seksama biar gak ngelantur, beda jauh bro komen dengan fakta termasuk yg admin sampaikan jauh jauh banget aslinya!

  7. habib alfariz

    mengada-ada dalam urusan agama itu namanya Bid’ah, dan bisa di cari tau oleh saudara, apa hukumnya bid’ah itu.
    Terima Kasih

  8. Ama

    Rasul Saw ga pernah mengadakan ssuatu, seperti Tahlilal, jika ada seseorang yg wafat…selain adab dlm bertakziyah

    Klpun ada yg tahlilan, itu termasuk budaya tradisi & bukan trmasuk dlm adab Takziyah tsb

    Jd, pilih &;pilah…mana rule agama…mana corak budaya…moal lieur geura, Cu…

    Semoga mbantu

  9. Cahyanto

    Tdk semua yg jaman Nabi nggak ada itu mesti dilarang. Arab dgn indonesia itu beda budaya beda tradisi. TAHLILAN itu kan majelis dzikir? Sdgkan majelis dzikir itu majelis penuh berkah, bahkan taman surga, dihadiri malaikat, dn byk dalilnya. Sdgkan kalau ada jamuan itu diniati sedekah dr keluarga utk yg meninggal. Jadi ini sifatnya tradisi, tdk wajib juga tdk dilarang. Jadi ini baik kalau dilaksanakan dgn penuh keikhlasan.

  10. ali

    Allah memerintahkan kita berdoa, esensi tahlilan itu ya berdoa, cuma doanya berjamaah, bareng2, gk dicontohkan jaman nabi juga tapi hasilnya bagus, minimal org yg gk ngerti cara berdoa bisa ngikutin, ada yg bimbing bareng2, klo soal makanan itu kan memang idealnya bagi yg mampu saja, tujuannya sodaqoh, yg tidak mampu tidak harus menyiapkan, ini yg namanya salah fokus, tahlilan koq fokusnya makanan, ya jadinya maen bid’ah2 aja

  11. Pri

    Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Kewajiban umat Islam adalah ittiba’.
    Ittiba’ secara bahasa berarti iqtifa (menelusuri jejak), qudwah (bersuri teladan) & uswah (berpanutan)

    Allah Azza wa Jalla berfirman:

    ‎الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

    “… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

    Allah Swt memerintahkan kepada semua kaum muslimin
    untuk berittiba kepada Radulullah Saw. Sebagaimana Firman-Nya;

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    “Kalian benar-benar mendapatkan teladan yang baik pada pribadi Nabi Muhammad. Teladan bagi orang-orang yang mengharap kasih sayang Allah dan kesenangan hidup di akhirat. Teladan bagi orang-orang yang banyak berzikir mengingat Allah di setiap kesempatan, kala susah maupun senang. (QS: Al Ahzab 21).

  12. syaifful

    Cermatilah , tadaburi segala sesuatu ya akhi semua nya, sebab orang2 muslim adalah orang2 pintar, jdi belajarlah sebab orang2 pintar identik dengan belajar ,dan belajar itu identik nya dengan membaca, maka bacalah al-qur’an dan sunnah, dan ikutilah apa yg ada padanya tanpa harus mengurangi dan melebihkan/meng ada2 kan, sebab tidak lah nabi muhammad s.a.w meninggal kecuali beliau telah menyampaikan syariat yg telah alloh berikan kepada beliau untuk umat nya, dan ingat lah tidak akan masuk surga dari 73 golongan kecuali yg 1 yaitu ahlusunnah wal jamaah.

  13. Klo saya sih ngga bakalan menggunakan media ini untuk ajang berdakwah, karna dijaman rosul mana ada cara seperti ini, mana ada komputer, mana ada medsos…

Leave a Comment