Mencari Pendamping ASI Yang Tepat dan Alami

keluarga

PERCIKANIMAN.ID – -Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang baik adalah yang 100% organik dan natural, ingat bukan yang instan! Karena biasanya makanan instan mengandung pengawet. Jelas kita tak mau buah hati terbiasa dengan pangan berkimia sejak dini bukan?

MPASI mulai diberikan selepas ASI Ekslusif berakhir, biasanya enam bulan. Hal ini merujuk pada standar ‘emas’ World Health Organization (WHO) dan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) tentang menyusui. Isinya ada empat hal; Inisiasi Menyusui Dini (IMD) selama satu jam atau lebih dan Rawat Gabung 24 jam,  ASI Eksklusif selama 6 bulan, MPASI mulai umur enam bulan, dan tetap menyusui hingga umur dua tahun.

alquran muasir

Setelah mencapai umur enam bulan, biasanya ASI hanya menutupi 70% kebutuhan kalori bayi, sehingga memerlukan makanan pendamping. Fungsi MPASI bukan hanya penambah nutrisi dan pasokan energi semata. Sistem pencernaan buah hati pun ikut terlatih, mengingat metabolisme tubuhnya mulai kompleks.

Selain itu, melalui MPASI diharapkan bayi mulai mengenal aneka jenis rasa, aroma, tekstur, hingga jenis-jenis makanan. Tentu saja kita tak bisa sekaligus mengenalkan beragam makanan pada bayi. AIMI menyatakan bahwa kolaborasi yang tepat antara ASI dan MPASI adalah bekal pertumbuhan optimal buah hati.

Komposisi tepat dan seimbang sangat diperlukan, mengingat kemampuan bayi masih terbatas. AIMI memberi patokan sederhana, tentu saja ayah-bunda bisa berimproviasi sendiri di rumah (dengan bahan pangan yang ramah tentunya). Beberapa bahan yang dianjurkan adalah aneka buah, sayur, kacang-kacangan, sumber karbohidrat, hingga protein.

kalender

Saat pertama kali mengenal MPASI, sebaiknya ayah-bunda menggunakan bubur ASI atau sereal organik dengan tekstur lembut yang kental. Bisa juga menggunakan buah-buahan seperti pisang, alpukat, atau pepaya.

Saat menginjak umur tujuh dan delapan, mulai berikan sayur rendah serat seperti bayam atau brokoli. Jangan lupa untuk mulai mengenalkan protein sederhana yang mudah dicerna seperti kuning telur dan daging ikan. Saat mencapai umur sepuluh bulan, mulailah perkenalkan makanan bertekstur seperti daging sapi/ ayam, tahu, dan tempe. Barulah setelah mencapai umur satu tahun, ayah-bunda kenalkan table food dengan tekstur yang lebih kasar.

Sangat penting bagi ayah-bunda untuk memvariasikan jenis makanan pada buah hati. BIsa juga dengan memberi makanan selingan dengan camilan sehat buatan rumah. Tentu saja kita harus menghindari penggunaan gula dan garam berlebihan, apalagi penyedap rasa.

Pangan Lokal Kaya Nutrisi

Saat menonton televisi, “Susu STM 4 Presisi dengan kandungan asam amino esensial, kolin, dan prebiotik seimbang dan lengkap untuk kebutuhan nutrisi buah hati.” Lalu kita pindah chanel, “Norigaga Platinum Super diformulasikan dengan Omega-3 dan 6, protein, probiotik, dan AA/DHA pilihan tepat ibu bijak.” Karena bosan kita pun membaca koran, “hanya Bancow asli susu sapi tanpa diolah, bikin anak ndut kaya sapi!” Banyak sekali iklan-iklan sufor yang ditawarkan kepada kita. Dengan dalih mengandung ini dan itu, para produsen sofur membujuk orang tua agar membeli produk mereka.

Tanpa disadari kita sering terpengaruh oleh iklan dan bujuk rayu media. Padahal bila kita cermat, produk yang menawarkan ‘kesehatan’ untuk anak-anak bisa jadi ‘sarang’ bahan kimia. Beberapa anak bisa saja alergi bila mendapat asupan bahan kimia yang tak sesuai, atau bahkan lebih parah lagi ‘menjadi alergi’. Kita semua tentu ingin yang terbaik untuk buah hati. Termasuk memilih makanan penunjang yang cocok. Sebenarnya pangan lokal di Indonesia kaya akan nutrisi, hanya saja kita tak menyadarinya.

“Misalkan,” tutur dr. Fransisca Handy dalam Catatan Ayah ASI (2012), “Asam amino esensial terdapat pada telur, ikan salmon, alpukat, kacang-kacangan dan biji-bijian.” Kolin ada di kuning telur, daging tanpa lemak, kdelai, kacang tanah, buncis, dan kacang polong. Prebiotik FOS Inulin ternyata terkandung dalam tempe, acar, tape ketan, tape singkong, mayoritas buah dan sayur. Omega-3 dan Omega-6 banyak dijumpai pada ikan laut, sayur hijau, kacang-kacangan, kentang, dan ceker ayam. “Bahkan, kandungan Omega-3 dan 6 pada ceker ayam cukup tinggi.” Selanjutnya Probiotik & Prebiotik ada pada brokoli, tahu, tempe, dan mayoritas sayur dan buah. AA/DHA secara alami terkandung di ikan tuna, salmon, makarel, sarden, aneka daging, dan telur.

Ternyata bahan-bahan di dapur kita sudah cukup untuk memenuhi nutrisi si kecil. Bahkan, lebih dari itu kita bisa mengkolaborasikan aneka jenis makanan sesukan hati. Selain lebih sehat, hal ini juga menghemat biaya tentunya. [ ]

 

Red: iqbal dan nisa

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment