Bagaimana Islam Memandang Imunisasi?

imunisasi

Ustadz, saya ingin bertanya mengenai permasalahan imunisasi. Saya adalah ibu dari dua orang anak laki-laki. Anak pertama saya mendapatkan imunisasi secara lengkap dan alhamdulillah tumbuh dengan sehat. Kepada anak kedua yang masih berumur 3 bulan, saya ragu apakah akan memberikan imunisasi atau tidak karena saya mendengar info yang menyatakan bahwa sebenarnya pemberian imunisasi adalah konspirasi karena  munisasi menggunakan vaksin yang membahayakan. Saya pun menjadi bingung ustadz, benarkah info tersebut? Lantas, bagaimana pula sebenarnya pemberian vaksin imunisasi dalam hukum Islam? Jazakumullah.

 

 

Informasi yang saya terima sejauh ini berkenaan dengan imunisasi tidak jauh berbeda dengan yang ibu terima. Pro kontra mengenai imunisasi konon tidak hanya di kalangan masyarakat awam dan para ulama saja.

alquran muasir

Malah, di kalangan medis sendiri perbedaan tersebut terjadi, tidak hanya di dalam namun juga di luar negeri. Bagi masyarakat muslim yang awam, masalah ini memang membuat bingung.

Terlepas dari perbedaan sudut pandang medis mengenai imunisasi, sebagai umat Islam sudah semestinya jika segala sesuatu dikembalikan kepada ajaran wahyu-Nya agar tidak tersesat. Hanya saja, karena masalah imunisasi merupakan masalah kekinian yang tidak secara jelas dimuat dalam Al-Quran dan hadits, maka penentuan hukum imunisasi harus melalui pengkajian panjang dan cermat.

Islam turun sebagai agama yang membimbing agar kemashlahatan senantiasa terjaga pada umat-Nya dan terjauh dari kemadharatan. Maslahat dan madharat menjadi bagian krusial dalam pertimbangan hukum Islam manakala tidak ditemukan secara langsung dalam sumber hukum utama mengenai masalah bersangkutan, meski dasar-dasarnya secara global tetap dapat ditemukan.

kalender

Khusus mengenai masalah imunisasi, perlu kiranya mencermati satu ayat berikut,

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 195)

Setelah mengamati ayat ini, barulah kita tentukan secara pasti apakah imunisasi benar-benar mengandung unsur mencelakai diri (meski dengan kemasan pengobatan atau pencegahan) sehingga dapat memadaratkan atau sebaliknya imunisasi menjadi bagian pengobatan yang bermanfaat sehingga layak untuk diterima?

Untuk sampai pada jawaban mana yang benar, saya serahkan kepada masing-masing pihak untuk menggalinya secara maksimal sampai pada titik dimana kita yakin akan salah satunya dan tanpa ragu dalam mengambil sikap. Jika sampai detik ini ternyata belum juga menemui titik terang, maka sikap terbaik yang sebaiknya diambil adalah :

1.Memilih di antara keduanya tanpa harus menyalahkan salah satu diantaranya.
2.Tidak meyebarluaskan informasi atau temuan yang belum jelas validitasnya kepada banyak orang.
3.Mohonkanlah perlindungan kepada Allah agar apa pun yang diambil semata-mata ada dalam petunjuk dan rido-Nya.

Simpulnya, sementara ini imunisasi dan juga vaksinasi menjadi pilihan antara memakainya atau menolaknya. Jika isu yang sejauh ini santer dikemukakan bahwa vaksin itu ada hubungannya dengan babi adalah benar adanya sementara vaksin tersebut sangat dibutuhkan dan belum ditemukan gantinya, maka penggunaan vaksin tersebut menjadi boleh sesuai qaidah ushul bahwa kemadharatan membolehkan yang dilarang. Wallahu a’lam

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment