Sosok Muhammad, Antara Kerasulan dan Kemanusiaan (Bedah Al-Quran Surat al-Ahzab : 40)

nabi muhammad

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Ahzab : 40)

alquran muasir

Allah sengaja mengutus Nabi dan Rasulnya dari kalangan manusia agar memudahkan interaksi dan adaptasi. Ajaran yang dibawa oleh Rasul akan dengan mudah dan gamblang pula diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui gerak langkah sehari-hari yang dicontohkan oleh Rasul berangkutan. Sulit dibayangkan jika Allah mengutus Nabi dan Rasul dari kalangan malaikat, misalnya. Betapa banyak manusia yang kesulitan untuk mengejawantahkan apa yang menjadi ajarannya. Lebih dari itu, akan lebih banyak manusia menetangnya dengan segudang alasan. Karena ternyata dengan adanya Nabi dan rasul dari kalangan manusia sendiri, tetap saja mayoritas ummat manusia menentangnya.

Mengingat Nabi dan Rasul datang dari kalangan manusia, maka sisi kemanusiaan dari nabi dan Rasul tersebut seharusnya menjadi perhatian ummatnya. Dalam hal ini, Islam sebagai ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad telah memberikan rambu-rambu yang jelas agar proporsi kenabian dan hak-hak individu sebagai manusia-nya tidak bercampur-baur. Artinya, dari sekian perilaku Rasulullah Nabi Muhammad saw. tidak semuanya menjadi refleksi dari ajaran (syari’ah) yang semestinya diikuti dan dicontoh oleh segenap ummatnya. Meski kadang-kadang keduanya seiring sejalan atau yang satu menjadi penopang yang lainnya.

Ayat ke-40 surat al-Ahzab di atas memberi isyarat jelas bagaimana kerosulan dan ke-manusia-an seorang Muhammad Rasulullah saw. ditempatkan sesuai porsi yang telah ditetapkan. Pertama, porsi ke-manusia-an yang dimuat dalam petikan ayat : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu,..“ dan kedua, porsi kerasulan yang dimuat dalam petikan ayat : “Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi..”. senada dengan ayat ini, Allah berfirman :

kalender

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya“.  (Q.S. Al-Kahfi : 110)

Jika kita coba klasifikasi, usia nabi dibagi menjadi pra-kenabian (sebelum usia 40), dan usia kenabian mulai usia ke-40 sampai akhir dan pada usia inilah yang kemudian gerak-gerik dan tingkah laku Nabi menjadi landasan syari’ah karena selalu dalam panduan wahyu. Itupun tetap menyisakan ‘porsi manusia’-nya yang tidak perlu dijadikan landasan syari’ah (lebih khususnya, sunnah). Sementara pada usia pra-kenabian, mulai dari kelahiran sampai sebelum menerima wahyu pada usia 40 tahun, yang diambil pola umum dan global yang bisa dijadikan bahan inspirasi, misalnya tentang ekonomi yang diambil dari cara Nabi berdagang.

Perihal pembahasan ayat ke-40 surat al-Ahzab, Ath-Thabari rahimahullahu mengatakan tatkala menjelaskan makna ayat ini : “Wahai manusia, Muhammad bukanlah bapak Zaid bin Haritsah. Bukan pula bapak dari salah seorang di antara kalian, yang tidak dilahirkan oleh Muhammad, sehingga diharamkan atasnya untuk menikahi istri Zaid setelah berpisah dengannya. Namun beliau adalah Rasul Allah dan penutup para nabi, yang menutup pintu kenabian dan mengakhirinya, sehingga tidak lagi terbuka bagi siapapun setelahnya hingga hari kiamat. Dan Allah Maha Mengetahui segala amalan dan ucapan kalian serta yang lainnya. Allah Maha berilmu, tidak ada yang tersamarkan atasnya sesuatu apapun.” (Tafsir Ath-Thabari)

Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang untuk dikatakan (kepada Zaid bi Haritsah) setelah (turun ayat) ini ‘Zaid bin Muhammad’. Beliau bukan ayahnya walaupun telah mengangkatnya menjadi anak, sebab beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempunyai satu anak laki-laki pun yang mencapai usia baligh. Beliau memiliki anak bernama Qasim, Thayyib, dan Thahir, dari Khadijah, namun mereka meninggal di masa kecil. Beliau juga dikaruniai Ibrahim dari Mariyah Al-Qibthiyyah, yang juga meninggal di masa masih menyusui. Dari Khadijah, beliau dikaruniai empat anak wanita: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah radhiyallahu ‘anhum. Tiga orang meninggal semasa beliau masih hidup, adapun Fathimah meninggal enam bulan setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Kedua mufassir di atas, senada dengan sejumlah mufassir yang lain, menitik-beratkan pada pentingnya status nasab ( hubungan darah ) dalam keluarga. Adopsi tidak memberi pengaruh pada posisi dalam keluarga selain anak yang pengasuhannya berada dalam tanggung jawab orang yang mengadopsi. Apa yang dilakukan oleh Nabi dengan menikahi Zainab yang sempat dinikahi oleh anak angkat Zaid, untuk meruntuhkan pandangan Quraisy waktu itu yang menetapkan anak angkat menjadi anak kandung.

Dari sudut pandang yang lain, kehadiran zaid bersama Zainab dalam hidup Nabi menunjukkan ada hak-hak individu Nabi yang tidak sepenuhnya menjadi bagian dari perjalanan syari’at. Sebagai manusia, Nabi membutuhkan sosok pembangkit semangat, penghangat suasana, teman bercengkarama dan lainnya yang hanya ada pada sosok anak laki-laki. Hanya saja, anak kandung laki-laki yang menginjak dewasa tidak dimiliki Nabi. Itu sebabnya, Nabi mengangkat Zaid Bin Haritsah mengisi posisi yang menjadi dambaan setiap ayah.

Berikutnya, Allah menetapkan porsi utama dari Nabi Muhammad, yaitu kenabian dan kerasulan. Dalam petikan ayat berikutnya : “… Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi...”.

Ibnu Katsir rahimahullahu menuturkan: “Ayat ini merupakan nash bahwa tidak ada Nabi setelah beliau. Jika tidak ada nabi setelah beliau, maka lebih utama dan lebih patut untuk tidak ada rasul setelahnya. Sebab kedudukan rasul lebih khusus dari kedudukan nabi, sebab setiap rasul adalah nabi dan tidak sebaliknya. Tentang hal ini telah datang hadits-hadits yang mutawatir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sekelompok sahabat. “ (Tafsir Ibnu Katsir)

Berikut beberapa hadits yang menjelaskan bahwa beliau adalah penutup para nabi dan rasul adalah :

مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ قَصْرٍ أُحْسِنَ بُنْيَانُهُ وَتُرِكَ مِنْهُ مَوْضِعُ لَبِنَةٍ فَطَافَ بِهِ نُظَّارٌ فَتَعَجَّبُوا مِنْ حُسْنِ بُنْيَانِهِ إِِلَّا مَوْضِعَ تِلْكَ اللَّبِنَةِ لاَ يَعِيبُونَ غَيْرَهَا فَكُنْتُ أَنَا مَوْضِعَ تِلْكَ اللَّبِنَةِ خُتِمَ بِيَ الرُّسُلُ

“Permisalanku dan permisalan para nabi adalah seperti sebuah istana yang bangunannya indah dan ditinggalkan satu tempat batu bata. Maka orang-orang pun berkeliling melihatnya, lalu mereka kagum terhadap keindahan bangunannya kecuali tempat batu bata tersebut. Mereka tidak mencela selain itu. Maka aku adalah tempat batu bata tersebut, telah ditutup para rasul dengan diutusnya aku.” (HR. Ibnu Hibban)

إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ

“Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada Rasul setelahku dan tidak pula nabi.” (HR. At-Tirmidzi Anas bin Malik)

فُضِّلْتُ عَلىَ الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ؛ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ

“Aku lebih diutamakan atas para nabi dengan enam perkara: (1) aku diberi jawami’ul kalim (kalimat ringkas namun mengandung faedah yang banyak), (2) aku ditolong dengan rasa takut musuh (dari jarak perjalanan sebulan), (3) dihalalkan bagiku harta rampasan perang, (4) dijadikan bumi ini bagiku sebagai alat bersuci dan tempat shalat, (5) aku diutus kepada seluruh makhluk, (6) dan telah ditutup para nabi dengan diutusnya aku.” (HR. Muslim no. 523)

Nash-nash ini menunjukkan bahwa siapa saja yang mengaku sebagai nabi setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dipastikan bahwa dia adalah seorang pendusta dan dajjal yang menyesatkan umat ini. Walaupun dia berusaha menipu umat dengan mendatangkan keluarbiasaan, seperti terbang di udara atau berjalan di atas air. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللهِ

“Tidak tegak hari kiamat hingga dimunculkan para dajjal dan pendusta yang berjumlah kurang lebih tiga puluh yang seluruhnya mengaku bahwa dia adalah utusan Allah.” (HR. Al-Bukhari-Muslim )

Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullahu berkata: “Setiap pengakuan kenabian setelah beliau adalah penyimpangan dan mengikuti hawa nafsu.”

Meski Ayat di atas meniadakan status nabi sebagai ayah dari seorang anak laki-laki, namun tidak berarti meniadakan posisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bapak pembimbing umat manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ

“Sesungguhnya aku terhadap kalian kedudukannya sebagai ayah, aku mengajari kalian.” (HR. Abu Dawud)

An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan beberapa penafsiran hadits ini, Pertama, ucapan Rasulullah ini menunjukkan kedekatan dan kasih sayang kepada ummatnya agar tidak ada rasa sungkan dan malu untuk bertanya kepada beliau dalam perkara agama yang mereka butuhkan. Kedua, Adalah kewajiban bagiku untuk mendidik kalian dan mengajari kalian perkara agama kalian, sebagaimana seorang ayah melakukan itu. Ketiga, semangat dalam memberi kemaslahatan kepada kalian dan rasa kasih sayang kepada kalian. (Lihat Al-Majmu)

DR. H. Aam Amiruddin, M.Si

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment