Umar dan Istri yang Cerewet

umar

Seorang pria berjalan cepat. Ia tampak tergesa-gesa. Pria itu tidak sabar ingin segera sampai ke kediaman Khalifah Umar bin Khatab. Dia ingin mengadu pada khalifah karena tidak tahan lagi dengan kecerewetan istrinya. Namun, bak tersengat listrik, pria itu kaget ketika sampai di depan rumah sang khalifah.

Dari dalam rumah sang khalifah, pria itu mendengar istri Umar bin Khatab sedang mengomel dan marah-marah. Cerewetnya istri sang khalifah bahkan melebihi istri yang akan diadukannya. Namun, tidak sepatah kata pun terdengar keuar dari mulut Umar. Umar diam saja mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya, terdorong oleh rasa malu, pria itu pun mengurungkan niatnya. Dia pun pulang dan batal melaporkan istrinya yang cerewet kepada Umar bin Khatab.

alquran muasir

Dalam perjalanan pulang, pria itu bertanya dalam hati, “Sebenarnya apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang begitu disegani kawan maupun lawan berdiam diri jasa saat istrinya mengomel? Mengapa dia hanya mendengarkan? Padahal, di luar rumah dia selalu tegas kepada siapa pun?”

Usut punya usut, rupanya ada lima hal yang selalu diingat oleh Umar di saat istrinya tengah mengeluh kepadanya. Pertama, dia ingat bahwa istri adalah benteng penjaganya dari api neraka. Kita tentu sudah mengetahui bahwa setiap manusia memiliki kelemahan, termasuk juga kaum adam. Kelemahan pria adalah dari pandangannya. Setiap pandangannya tidak terjaga, maka melesatlah panah-panah setan. Panah-panah yang menancap itu akan membuat darah berdesir, bergolak, dan membangunkan raksasa yang tengah tidur berupa syahwat. Dan, sang istrilah yang mampu menjadi ladang bagi suami. Istrilah yang halal baginya ketika desir gejolak keinginan itu menghampiri. Istri adalah penjaga seorang suami dari api neraka. Darinya, pahala bisa disemai. Darinya, surga bisa diraih. Dan, Umar ingat betul akan hal itu.

Kedua, Umar ingat bahwa istrinya adalah pemelihara rumahnya. Seorang suami berletih-letih mencari nafkah untuk istri dan anaknya. Sang suami pergi pagi dan terkadang pulang larut malam. Lalu, siapakah yang merawat dan memelihara rumahnya ketika sang suami mencari nafkah? Dialah istri yang begitu ikhlas menjaga rumah, mempercantik, dan mengatur urusan rumah tangga. Jikalau memang ada pembantu, tetap peran istri tidak tergantikan. Istrilah yang membantu suami mengatur keuangan keluarga. Istrilah yang mesti memutar otak jika maisyah suaminya pas-pasan. Istrilah yang menjadi penjaga harta suaminya. Dan, Umar ingat betul akan hal itu.

kalender

Ketiga, Umar ingat bahwa istrinyalah yang menjaga penampilannya setiap hari. Sudah menjadi informasi bersama bahwa kaum pria rata-rata terkesan acuh terhadap penampilannya. Warna A yang memang gelap sengaja dipakai di kulit yang legam. Begitulah rata-rata kaum pria. Namun, hadirnya seorang istri dalam kehidupan suami menjadi warna tersendiri yang seakan menambal kekurangannya. Sang istrilah yang selalu sigap menyiapkan pakaian yang rapih dan wangi setiap pagi. Sang istri jualah yang menisik pakaian suami jika ada yang sobek. Dan, Umar ingat betul akan hal itu.

Keempat, Umar ingat bahwa istrinya adalah pengasuh anak-anaknya. Istri adalah madrasatul ‘ula. Sekolah pertama bagi anak-anaknya. Di tangan seorang istri, sang buah hati dibina dan dijaga setiap hari ketika sang suami tengah mencari nafkah. Istrilah yang begitu sabar menyusui bayinya yang lapar di tengah malam. Sang istrilah yang terkadang lupa makan demi menyuapi putra-putrinya. Baik buruknya generasi penerus ini sungguh tidak akan lepas dari sentuhan tangan seorang istri. Dan, Umar ingat betul akan hal itu.

Kelima, Umar ingat bahwa istrinya adalah penyedia hidangan baginya setiap hari. Di saat pulang kerja, sang istrilah yang dengan setia menyediakan santapan lezat bagi sang suami. Sang istri jualah yang selalu tekun belajar memasak makanan kesukaan suami dan berusaha untuk menghindari masakan yang tidak digemari suaminya. Kemudian, sang istri jugalah yang kerap memutar otak perihal biaya makan sehari-hari. Barangkali, suami tidak pernah tahu bagaimana perjuangan istrinya menawar barang di pasar serta menghitung dengan jeli keperluan keluarga. Dan, Umar ingat betul akan hal itu.

Dengan mengingat kelima hal itu, Umar menjadi luluh hatinya. Begitu besar perjuangan sang istri untuknya dan keluarga. Barangkali sang istri tengah capek. Barangkali beban pekerjaan rumah yang tidak kunjung berkurang membuatnya ingin sekali bercerita. Barangkali itu semua membuatnya ingin menyandarkan diri di bahu suaminya. Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan sang istri untuk menutupi segala cela dan kekurangan pendamping hidupnya. Jika demikian, maka tidak ada caci maki, kata-kata kasar dan sumpah serapah dari mulut suami.

Begitulah seharusnya suami memperlakukan istrinya. Selalu berusaha untuk mengerti kekasih hatinya. Dengarkan ucapannya dengan lembut, lalu nasihatilah dengan penuh cinta jika ada salah. Karena, sesungguhnya Allah Swt. ciptakan dua telinga dan satu bibir agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara.  (Eika)

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment