Sumpah Pemuda dan Peran Generasi Muda Islam Hari Ini dan Esok

generasi muslim

Oleh: Riska Nursyafitri*

PERCIKANIMAN.ID – – Ada yang istimewa setiap tanggal 28 Oktober khususnya bagi kalangan pemuda. Pada tanggal ini di peringati sebagai “Hari  Sumpah Pemuda” yang dimulai sejak 88 tahun yang lalu. Sekedar mengingatkan kembali berikut bunyi Sumpah Pemuda menurut ejaan yang disempurnakan (EYD): “Pertama: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.  Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

alquran muasir

Rasa persatuan dan kesatuan sudah menjadi semangat sejak awal bangsa Indonesia ini berdiri. Keberagaman yang menjadi ciri khas, menunjukkan betapa kayanya budaya yang ada dari bahasa, suku dan sebagainya. Namun nyatanya perbedaan tersebut mampu bersatu yang membentuk persatuan yang menjadi kekuatan.

Sejarah mencatat, salah satu peristiwa penting tentang upaya mempersatukan rakyat Indonesia adalah Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Sejumlah pemuda berkumpul, yang tergabung dalam berbagai organisasi, diantaranya: Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, Jong Java, Jong Sumatera, Jong Batak, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi, dan Pemuda Indonesia. Kongres ini bertujuan merundingkan dan merumuskan apa yang mereka perjuangkan selama ini. Menariknya, tidak pernah ada pencanangan nama “Sumpah Pemuda” selama kongres berlangsung.

Lalu, dari mana istilah Sumpah Pemuda muncul? Muhammad Yamin dari Jong Sumatera yang pada saat itu bertindak sebagai sekretaris dalam kepanitiaan kongres, menyebutnya Sumpah Pemuda pada tahun 1960. Ia merasa bahwa momen tersebut adalah momen penting maka ia namakan “Sumpah Pemuda”.

kalender

Pada dasarnya, kongres tersebut hanya menghasilkan nama “Indonesia” dimana Indonesia yang terdiri dari wilayah, bahasa, dan budaya. Wilayah Indonesia telah ditentukan, mulai dari Sabang hingga Merauke. Bahasa yang disepakati pada saat itu adalah bahasa melayu yang selanjutnya diberi nama Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Perihal budaya, banyaknya kebudayaan yang ada di Indonesia, menciptakan kebingungan tersendiri, budaya seperti apa yang sebenarnya ada di Indonesia? Alhasil, keanekaragaman itulah yang disebut budaya Indonesia. Perihal kebudayaan ini pun yang menjadi permasalahan hingga sekarang.

Kita semua tahu bahwa isu perbedaan kembali santer terdengar akhir-akhir ini.Yang paling signifikan beritanya adalah tentang perbedaan agama. Penentangan umat Islam terhadap pemimpin non Islam, sangat mengundang polemik. Banyak dalih bahwa Indonesia bukan negara Islam, maka siapa pun pemimpinnya, dari agama apa pun seharusnya tidak usah dipermasalahkan. Terlepas dari itu semua, sebagai muslim, bila kita mau menapaktilasi membuka kembali lembaran sejarah, kita akan menemukan bagaimana perjuangan umat Islam dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pemberontakan pada zaman colonial Belanda banyak diprakarsai oleh pejuang muslim. Mulai dari Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Paderi, Perang di Aceh, Banten (1888), Banjar, menentang penindasan yang dilakukan Belanda. Semua perlawanan itu selalu digerakkan oleh para ulama, kiyai, dan santri. Memasuki awal abad 20, perlawanan tidak lagi mengandalkan fisik. Perang intelektuallah yang kini dibutuhkan. Banyak organisasi-organisasi Islam lahir, walaupun dengan ciri yang berbeda, namun tetap dengan tujuan yang sama, untuk membebaskan Indonesia darikung kungan Belanda. Organisasi tersebut antara lain diawali Sarekat Islam (1911) oleh HOS Tjokroaminoto, Muhammadiyah (1912), Persatuan Islam (1923), Nahdhatul Ulama (1926), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Persaudaraan Muslimin Indonesia (Permi), dan pergerakan-pergerakan serupa lainnya yang muncul di berbagai daerah.

Kongres Pemuda 1928 sendiri salah satunya dihadiri oleh organisasi Islam. Tidak hanya itu, sebagian besar peserta yang hadir pun beragama Islam. Walaupun dengan latar belakang pemikiran politik yang berbeda. Ini seharusnya bisa menjadi semangat sekaligus kebanggaan tersendiri bagi pemuda muslim saat ini. Bahwa sejak dulu, pemuda muslim selalu bisa berkontribusi penuh dalam membangun persatuan.

Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan peristiwa yang tentu tidak bisa kita lupakan begitu saja.Terlepas dari apakah ada pengucapan sumpah atau tidak, setidaknya semangat yang dituangkan dalam peristiwa tersebut telah melahirkan kemerdekaan dan perjuangan yang patut diteladani. Dari sini, timbul pertanyaan, bagaimana dengan pemuda Indonesia saat ini, terutama kaum muslimnya?.

Peran pemuda muslim dari zaman ke zaman

Pemuda muslim seharusnya bisa menjadi tonggak perubahan sosial, politik, ekonomi, dan akhlak yang persoalannya bertumpuk di negeri ini. Banyak sekali contoh-contoh teladan yang dapat diambil dari riwayat pemuda muslim terdahulu. Hampir disemua kegiatan, Rasulullah selalu melibatkan peran pemuda didalamnya. Masa setelah wafat Rasul pun kontribusi para pemuda bukan main perannya dalam kehidupan terutama dalam menegakkan agama Islam. Banyak pemuda yang memimpin peperangan, menjadi pemimpin pemerintahan, dan ilmuwan yang rata-rata telah dilakukan dalam usia yang sangat muda belia.

Diantara pemuda zaman Rasulullah, ada Usamah bin Zaid yang pada saat itu ia masih berusia 18 tahun diangkat oleh Rasul memimpin perang yang bahkan prajuritnya adalah Abu Bakar dan Umar. Lalu, Itab Bin Usaid yang diangkat Rasul sebagai gubernur Mekah pada usia 21 tahun. Ada pula Mu’adz Bin Jabal yang menjadi gubernur sekaligus hakim di Yaman, dua peran yang hampir mustahil dilakukan pada saat ini. Dan yang sering kita dengar saat ini adalah Ibnu Sina, seorang filsuf, ilmuwan, yang sangat berpengaruh di bidang kedokteran seantero dunia sudah memulai praktik kedokterannya pada usia 17 tahun. Dan masih banyak lag iilmuwan muslim yang sudah memulai karirnya pada usia muda, dan pengaruhnya dapat dirasakan hingga sekarang, walaupun kenyataannya banyak diantara kita pun tidak tahu.

Bila dilihat saat ini, tentu anggapan yang kurang tepat apabila dikatakan pemuda Indonesia terutama kaum muslimnya tidak dapat memberi kontri busiapa pun.Prestasi dan semangat pemuda Indonesia saat ini bisa dibilang ada dan cukup baik walaupun tidak dapat dikatakan seratus persen telah menerapkan semangat yang diusung oleh para pendahulu.Banyak pemuda-pemuda kreatif, mandiri dan inovatif yang telah berkarya,berjuang untuk memajukan dan membuat bangga bangsa ini. Kita bisa menemui pemuda hebat Indonesia yang sudah bisa mengharumkan nama bangsa di berbagai bidang, mulai dari olahraga, seni, digital entrepreneur, animasi, sutradara, sains, hingga politik. Banyak pula saat ini pendakwah-pendakwah muda, komunitas keislaman yang bermunculan yang membawa semangat baru dengan caranya masing-masing. Kemampuan anak muda Indonesia jelas tidak boleh diangga premeh. Namun tidak bisa dipungkiri, tidak sedikit juga yang sama sekali tak paham dengan apa itu makna sebuah perjuangan. Bahkan sejarah bangsanya pun tidak tahu.

ir.soekarno

Era berganti, cara pemuda berkontribusi dalam membangun negeri pun berubah. Islam sendiri mengajarkan untuk selalu mengikuti perkembangan zaman. Menanggapi isu perbedaan dan keberagaman yang ada saat ini, jika melihat track record pemerintahan zaman Rasulullah, terdapat ratusan suku/kabilah dapat dipersatukan dalam satu bendera Islam. Kita sebagai pemuda,saat ini diharapkan dapat memandang Islam bukan sebagai pelengkap atau pewarna bagi kehidupan perbedaan budaya. Islam datang bertujuan sebagai dan untuk kehidupan itu sendiri. Datangnya Islam untuk mempermudah ketika ada hal-hal yang mempersulit manusia. Karena itu Islam memperlakukan perbedaan tersebut dengan cara memberikan pengajaran melalui pengetahuan yang masuk akal.Sifat dasar manusia yang ingin praktis maka Islam datang sebagai agama praktis yakni langsung bisa dipraktekan.

Kita sebagai pemuda diharapkan tidak mudah terbawa arus dan termakan oleh perkembangan zaman. Kita sebagai pemuda muslim terutama tidak hanya harus berpikir dinamis namun dituntut untuk memahami persoalan secara menyeluruh. Jangan sampai kita melihat perbedaan sebagai sesuatu yang harus selalu dilawan atau ditentang tanpa pendalaman.Tidak lupa, berguna bagi keluarga dan bangsa adalah keharusan, berguna bagi agama adalah sebuah kewajiban. Tidak harus yang sudah baik dan sudah berpengalaman yang bisa dan boleh menyampaikan kebaikan. Kita, pemuda adalah saat yang tepat untuk berbuat dan pelopor kebaikan. Mengutip dari perkataan Ir.Soekarnoa Sang Proklamator yang sangat terkenan: “Beri aku sepuluh pemuda maka akan kugujang dunia” mengandung makna bahwa betapa besar peran pemuda dalam mengubah peradaban dunia. Saatnya generasi Islam berkarya !!!.  Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah mahasiswa Fikom Unisba.

riska-nursyafitri-1

Editor: iman

Ilustrasi foto: qureta

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment