Menghina Nabi dan Mendustakannya (Tafsir Surat An-Nahl [16]: 36)

alquran, tafsir,

“Dan sungguh Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut. Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah, dan di antara mereka ada yang telah tetap kesesatan ada pada diri mereka, maka berjalanlah kalian di muka bumi ini, dan lihatlah bagaimana nasib orang-orang yang mendustakan’.” (Q.S. An-Nahl [16]: 36)

***

alquran muasir

Alasan apa yang bisa diterima untuk menolak agama Islam sebagai agama sempurna penuh kemulyaan? Islam adalah agama yang menjamin ketenangan dan kebahagiaan hidup. Tidaklah sesuatu diperintahkan dalam Islam kecuali kebaikan, kemulyaan, dan kebahagiaan akan menghampiri siapa saja yang melaksanakannya. Tidaklah sesuatu dilarang dalam Islam, kecuali kenistaan dan kehinaan akan menimpa mereka yang melanggarnya.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Swt. dengan cara-cara yang logis realistis, yaitu diturunkan melalui lisan Rasul-Nya dengan peran malaikat Jibril sebagai penyambung di antara keduanya. Malaikat Jibril memang datang sebagai makhluk gaib, namun kebenaran akan perannya bisa dibuktikan dengan serangkaian mukjizat yang diturunkan kepada Rasul. Mukjizat tersebut tidak lain untuk menantang orang-orang yang menolak ajakan Rasul agar mereka menunjukkan alasan penolakan tersebut. Padahal, kebenaran para utusan Allah untuk menyampaikan ajaran keselamatan dunia akhirat sudah lebih dari cukup untuk dibuktikan. Alangkah naifnya, manakala sampai kini masih tetap ada yang meragukan kebenaran Rasulullah dan bahkan mengolok-olok serta menistakannya sebagaimana dilakukan kaum kafir dalam film Innocence of Moslem.

Allah menyayangi hamba-Nya dengan tidak membiarkan mereka larut dalam kegelapan dan kesesatan. Setiap periode umat manusia diberikan jalan keluar dari kesesatan yang nyata ada dihadapannya, yaitu dengan diturunkannya para utusan Allah untuk menuntun keluar dari kegelapan menuju cahaya ilahi. Dengan demikian, tidak salah lagi jika pada prinsipnya, misi para para nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah Swt. dari Nuh a.s. hingga Rasulullah Saw., membawa tujuan yang sama, yaitu menyeru umatnya untuk beribadah (menyembah) hanya kepada Allah semata dan mengesakan-Nya (tauhidullah). Hal ini sebagaimana dimuat dalam firman Allah tersebut di awal tulisan.

kalender

Syaikh As Sa’diy rahimahullah mengatakan dalam tafsir beliau tentang ayat tersebut. Menurut beliau, “Allah Swt. mengabarkan dalam ayat tersebut bahwa syari’at agama Allah (yaitu agama Islam) tegak atas seluruh umat manusia. Allah Swt. mengutus para Rasul kepada tiap-tiap mereka, baik kepada umat yang terdahulu maupun umat yang belakangan. Dan, para rasul tersebut memiliki tujuan yang sama dalam dakwah dan seruan mereka kepada umat manusia, yaitu ajakan untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 440)

Merujuk pada pendapat para ulama, orang yang pertama kali menyandang status Rasul Allah adalah Nabi Nuh. Mengingat realitas masyarakat waktu itu yang membutuhkan kehadiran Rasul yang membawa misi meluruskan umat manusia terjadi pertama kali pada zaman Nabi Nuh. Di zaman Nabi Nuh inilah pertama kali munculnya kesyirikan di permukaan bumi ini. Ibnul Qayyim rahimahullah mengungkapkan, “Terjadinya kesyrikan pertama kali adalah pada kaum Nabi Nuh a.s., yaitu ketika mereka bersifat ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang soleh” (Ighotsatul Lahfan, 2/204). Sementara, Ibnu Abbas r.a. mengatakan, “Antara Adam dan Nuh terdapat 10 generasi, dan seluruh generasi tersebut berada di atas agama Islam”.

Mengomentari surat An-Nahl ayat ke-36 tersebut, Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Adapun perintah untuk menyembah Allah semata dan perintah untuk menjauhi thaghut, maka Allah Swt. tidaklah mengutus para Rasul melainkan karena misi dan tujuan ini. (Yaitu dimulai) sejak munculnya kesyrikan pertama kali di tengah-tengah Bani Adam, yaitu pada zaman Nuh a.s.. Maka Nuh a.s. adalah Rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada penduduk bumi, hingga ditutup dengan risalah Muhammad Saw. yang seruan beliau ditujukan kepada seluruh manusia dan jin, baik di belahan bumi timur maupun barat”.

Selanjutnya, Allah berfirman dalam ayat tersebut yang artinya, “Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah, dan di antara mereka ada yang telah tetap kesesatan ada pada diri mereka, maka berjalanlah kalian di muka bumi ini,…”

Tidak dipungkiri jika pada kenyataannya tidak semua umat mengikuti ajakan para Rasul-Nya. Bahkan, bisa dikatakan mayoritas umat manusia lebih senang memperhatikan ajaran yang sempat dianutnya, padahal ajaran tersebut hanyalah buatan manusia belaka dengan asumsi logika semata. Hanya sedikit saja dari mereka yang menyadari pentingnya hidup dalam pedoman yang dibawa oleh para Rasul. Kedua sikap tersebut tentunya bukan tanpa risiko atau balasan. Pihak yang menyadari betapa menaati dan mengikuti ajaran yang dibawa para Rasul merupakan keniscayaan, maka keselamatan, kebahagiaan, dan terjauh dari neraka merupakan jaminan mutlak yang akan diraihnya. Sebaliknya, mereka yang enggan menaati ajakan para Rasul, bahkan lebih jauh mereka malah membenci dan mencelanya serta berencana membunuhnya, maka azab Allah siap menerpa mengiringi penderitaan tiada henti.

Allah tiada rela jika hamba-hamba-Nya yang taat terperosok pada kubangan kesesatan yang sengaja dibuat para pembangkang. Karena itu, mengakhiri ayat ke-36 surat An-Nahl tersebut, Allah berfirman yang artinya, “…maka berjalanlah kalian di muka bumi ini, dan lihatlah bagaimana nasib orang-orang yang mendustakan”.

Sebagai pelajaran, kita perlu mencermati akibat yang akan timbul dan akan menimpa kepada mereka yang mendustakan dan menistakan para Rasul. Berdasarkan catatan sejarah, menentang dakwah Rasul Saw. akan berujung pada kenistaan dan kehancuran penuh kehinaan. Allah telah menjanjikan siksa yang pedih di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang menghina Allah, Agama-Nya, dan para utusan-Nya. Kaum Nabi Nuh a.s. yang telah menghina utusan Allah diazab dengan ditenggelamkan (di dunia). Sedangkan di akhirat, mereka akan mendapatkan adzab yang lebih pedih.
Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (QS. Al-A’raaf [7]: 64)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Kisah tentang penghancuran Allah terhadap para pencela agama, satu demi satu telah diketahui. Para ahli sejarah dan tafsir telah menceritakannya. Di antara mereka adalah gembong kafir Quraisy, seperti Al-Walid  bin Mughirah, ‘Ash bin Wail, Aswadan bin Abdul Muthallib, Ibnu Abi Yaghuts dan Al-Harits bin Qais.”

Raja Kisra telah mencabik-cabik surat yang datang dari Rasulullah Saw. lalu mengolok-oloknya, tidak lama setelah itu Allah membunuh dan menghancurkan kerajaannya sehancur-hancurnya. Hal ini merupakan perwujudan dari firman Allah,

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (Q.S. Al-Kautsar [108]: 3)

Sebuah atsar yang terkenal menyebutkan bahwa daging para ulama adalah racun. Lantas bagaimana dengan daging para nabi? Dalam hadits shahih disebutkan, dari Rasulullah Saw., Allah telah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, Maka aku nyatkan perang terhadapnya.” Lalu bagaimana dengan orang-orang yang memusuhi para nabi? “Dan barangsiapa menyatakan perang terhadap Allah, pastilah ia akan hancur.” (Ash-Sharimul Maslul, Ibnu Taimiyyah, hlm. 164-165)

Sekali lagi, menghina Rasulullah Saw. hukumannya tidak seringan menghina manusia pada umumnya. Menghina Rasulullah berarti juga menghina Allah yang berarti juga menghina Islam sebagai ajaran yang dibawanya. Jika demikian, adalah kewajiban umat Islam yang berada di bawah bendera para Rasul untuk bangkit berdiri memprotes dan melawan para pencela Nabi Saw. Allah Swt. berfirman,

Jika mereka merusak sumpah (janji)-nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (Q.S. At-Taubah [9]: 12)

Dalam ayat tersebut, Allah menyebut orang yang mencerca agama sebagai gembong kekafiran. Tentu saja, predikat ini lebih buruk dari sekedar kekafiran belaka. Karenanya, sebagian ulama menjadikan ayat tersebut sebagai dalil untuk menyatakan wajibnya memerangi setiap orang yang mencaci agama dengan berbagai macam cara yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, termasuk dengan membuat film penghinaan terhadap Rasulullah Saw.

Semoga Allah Swt. menurunkan azab terberat-Nya kepada para penghina Rasul Saw. Semoga Allah Swt. melindungi setiap hamba-Nya yang senantiasa berada di jalan-Nya dalam melindungi kesucian dien-Nya. Amin. (Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si)

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment