Kewajiban Muslim Dalam Menghadapi Musibah

banjir-garut-1

 

Oleh: Abu Muhammad Al Anshari*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Akhir-akhir ini, kita tengah dihadapkan pada berbagai kejadian dan situasi yang memilukan dan membuat jiwa terasa teriris-iris. Kejadian-kejadian dan situasi itu menusuk-nusuk kesadaran dan nurani kita. Musibah adalah “utusan” Allah Swt. yang mengemban peran, fungsi, dan misi. Sejauh yang dipaparkan dalam Al-Quran dan sunah, musibah memiliki peran antara lain, sebagai alat ukur keimanan seseorang kepada takdir, penghapus dosa, peringatan kepada orang-orang yang lalai, azab (siksa) bagi orang-orang yang membangkang, dan yang tidak kalah penting, musibah juga menjadi alat ukur jalinan persaudaraan, kepedulian, dan kecintaan seseorang kepada saudaranya, sesama muslim, sesama manusia, dan sesama makhluk Allah.

alquran muasir

Segala ujian, datang dari Allah Swt. tanpa kecuali. Hanya, ada yang datang lewat alam; itulah banjir bandang, gempa bumi, tsunami, letusan gunung, tanah longsor, dan lain sebagainya. Ada pula ujian yang datang melalui manusia, yakni orang-orang yang ingin memadamkan cahaya hidayah Allah Swt. Pesan Allah kepada kita saat kita mendapatkan musibah adalah:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 155-157)

Pesan Al-Quran untuk orang-orang yang tengah menghadapi ujian yang datang dari manusia yang tidak rela Islam bersinar adalah, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh-hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 45-46)

kalender

Rasulullah Saw. saat hendak mengutus para sahabat untuk berdakwah kepada para penguasa di sekitar Jazirah Arab berpesan, “Sesungguhnya aku diutus untuk seluruh manusia. Maka, tunaikanlah tugas dakwah ini dan janganlah kalian bertikai” (Fathul-Bari, juz 8: 128).

Tentang sikap muslim dalam menghadapi ujian berupa musibah alam, sudah banyak dibahas. Tulisan ini lebih fokus pada sikap dalam menghadapai tantangan dalam menegakkan kebenaran.

Rasulullah Saw. bukan hanya memerintah umatnya untuk menyebarkan kebenaran, melainkan, dalam waktu yang sama, juga memerintahkan kita untuk memperkokoh persaudaraan dan kesetiaan kepada kebenaran dengan segala tantangannya dan ujian di jalannya. Perjuangan menegakkan kebenaran, selain membutuhkan kekokohan mentalitas pada setiap individunya, juga tentu saja membutuhkan keeratan jalinan antar-individu umat. Kekokohan hubungan inilah yang sering disebut dengan al-wala (loyalitas) dan ukhuwwah. Kekuatan perjuangan Rasulullah Saw. tidak lepas dari kekuatan ukhuwwah dan persatuan.

Dialah (Allah) yang telah memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan kaum mukminin. Dan yang mempersatukan hati-hati mereka. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah-lah yang mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha-perkasa lagi Maha-bijaksana” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 62-63).

Tuntutan ukhuwwah itu memang tidak sederhana. Tanpa dasar iman, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tanpa berpegang teguh kepada tali (agama) Allah mustahil ukhuwwah –dengan segala konsekuensinya itu– bisa terwujud. Tanpa dasar itu semua, pelaksanaan ukhuwwah hanya akan dirasakan sebagai amal yang amat “merugikan”. Karenanya, menurut Al-Quran, ukhuwwah bukanlah sesuatu yang harus diupayakan secara terpisah dan berdiri sendiri. Ia merupakan buah dari iman.

Sebelum melarang kita berpecah belah (walaa tatafarraqu), Allah Swt. justru memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan agama Allah Swt. (Islam). Dan, saat Al-Quran melarang kita bertikai (tanazu’) –karena hal itu dapat melemahkan kita–, pelarangan itu justru diawali dengan perintah taat kepada Allah dan Rasulullah Saw. Perhatikan ayat-ayat berikut.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 46)

megar-oke-1

 

Untuk memperkuat kesetiaan dan persaudaraan (ukhuwwah) dengan sesama mukmin, penting untuk senantiasa merenungi sabda Rasulullah Saw., “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (H.R. Muslim)

Lebih dari sekadar tuntutan perjuangan, ukhuwwah islamiyyah merupakan jembatan menuju kemuliaan di sisi Allah. Ini dijelaskan oleh Rasulullah Saw., “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada orang-orang yang bukan para nabi dan bukan pula para syuhada. Namun, mereka membuat cemburu para nabi dan para syuhada karena kedudukannya di sisi Allah Swt.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah Saw., beri tahulah kami siapa mereka itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Mereka adalah kaum yang saling mencintai dengan dasar karena Allah, tanpa ada ikatan darah antarmereka dan tidak pula ada harta yang mereka saling berikan. Demi Allah, wajah-wajah mereka adalah cahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasakan takut saat orang-orang merasa takut dan tidak merasa sedih saat orang-orang bersedih.” Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya, “Ingatlah bahwa para kekasih Allah tidaklah akan merasakan takut dan tidak akan bersedih hati.” (H.R. Ahmad)

 

Sikap Seorang Muslim Saat ada Musibah 

Mewujudkan ukhuwwah di tengah kaum muslimin tidaklah semudah mewujudkan madrasah atau masjid. Tidak semudah mendirikan partai. Bahkan tidak semudah mengumpulkan jutaan orang di lapangan Monas. Ada syarat minimal untuk terjalinnya ukhuwwah islamiyyah. Jika syarat minimal itu terpenuhi, insya Allah, ukhuwwah peringkat kedua dan ketiganya dapat diwujudkan.

  • Pertama, salamatushshadri (lapang dada dan bersih hati). Inilah syarat minimal pembangunan ukhuwwah. Jika ada bekal yang amat penting bagi para pejuang Islam –termasuk yang berjuang memakai partai– maka bekal itu adalah lapang dada. Betapa kita sering berhadapan dengan masalah, lalu menambahkannya pada setumpuk masalah yang sudah ada. Ternyata masalah itu muncul dari tidak adanya salamatushshadri. Kita sering merasa bahwa beban dakwah begitu berat. Padahal, ternyata, ketika kita renungkan, kita melihat sebuah persoalan sederhana dengan campuran iri dan dengki. Itulah yang menambah beban kita.
  • Kedua, ukhuwwah yakni mencintai saudara seiman seperti mencintai diri sendiri. Ini tingkat ukhuwwah yang lebih tinggi. Bukanlah hal yang ringan untuk bisa merasakan sukses orang (baca: partai Islam, gerakan dakwah, ormas Islam) lain sebagai keberhasilan bersama. Yang paling mudah adalah menanggapi keberhasilan saudara kita sebagai kekalahan diri sendiri. Akibatnya muncullah persaingan tidak sehat, bukan amal jama’i (kerja sama) untuk menghancurkan musuh nyata. Wajar Rasulullah Saw. jauh-jauh hari menegaskan, “Tidaklah seseorang beriman hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”
  • Ketiga, itsar. Itsar adalah mengutamakan kepentingan saudara seiman ketimbang diri sendiri. Ini merupakan tingkat ukhuwwah paling mulia dan paling tinggi. Tentang orang-orang yang melaksanakan itsar ini, Allah Swt. berfirman, “Dan mereka mengutamakan (orang  lain) atas diri mereka meskipun mereka sendiri dalam keadaan amat membutuhkan.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)

Memperkuat jalinan ukhuwwah dengan segala bentuk dan tingkatannya adalah penting, baik pada saat menghadapi ujian, maupun saat yang lain. Berbagai ujian dan musibah ini layaklah membuat kita terus memperkuat jalinan ukhuwwah dan solidaritas di antara kita. Allahu a’lam. [ ]

*Penulis adalah pendidik dan pegiat dakwah tinggal di Ciamis.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment