Fakta Seputar Tindak Kekerasan Terhadap Anak

248

PERCIKANIMAN.ID – – Dua payung hukum yang kini ada, terkait tindak kekerasan terhadap anak, ialah Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Kedua payung hukum ini cukup gencar disosialisasikan banyak lembaga yang konsern terhadap hak anak seperti Lembaga Hak Advokasi Anak (LAHA) yang mengenalkan Restorative Justice kepada para aparat penegak hukum dan masyarakat. Restorative Justice merupakan alternatif penyelesaian perkara terhadap anak di bawah umur yang melakukan tindak pidana, melalui jalan musyawarah.

alquran muasir

Sejak terpublikasikannya beberapa kasus kekerasan terhadap anak di media massa, aparat penegak hukum kini sudah menggunakan dua undang-undang tersebut untuk menjerat para tersangka. Proses ini melibatkan korban, pelaku, tokoh masyarakat, dan pihak terkait lainnya. Sehingga nantinya tak ada hukuman fisik yang jika salah penerapannya bisa membuat seorang anak mendapat cap anak nakal. Terlebih bagi anak yang telanjur dimasukkan sel bersama narapidana dewasa.

Meski Indonesia telah memiliki undang-undang tentang perlindungan terhadap anak dari tindak kekerasan namun faktanya kejadian memilukan dengan korban anak masih kerap terjadi. Ada beberapa fakta yang perlu diketahui terkait hal ini.

Fakta Seputar Tindak Kekerasan Anak

kalender
  • Sebagian tindak kekerasan dilakukan orang-orang yang memiliki hubungan darah atau masih keluarga korban.
  • Korban kekerasan cenderung tidak dapat mengendalikan emosinya, impulsif, dan tidak bertanggung jawab.
  • Perilaku nyata dari korban kekerasan, di antaranya sering bolos, mencuri, bohong, vandalisme, bergaul dengan orang jahat, kejam pada binatang, dan prestasi sekolah yang buruk.
  • Tindakan kekerasan yang berlangsung terus-menerus bisa menyebabkan seorang anak (bahkan generasi mendatang) menderita paranoid, skizoid, dan sociopath.
  • Bersikap empati dan melakukan komunikasi dengan baik kepada anak, merupakan upaya terbaik untuk memutus mata rantai tindak kekerasan dalam keluarga.
  • Masih banyak masyarakat enggan melaporkan tindak kekerasan terhadap anak dengan alasan tak ingin ikut campur urusan keluarga orang lain.
  • Pola kehidupan pasangan suami istri yang sering menghina bahkan melakukan tindak kekerasan kepada pasangannya, bisa mempengaruhi jiwa anak untuk melakukan tindakan serupa.

 

Belajar Mengasuh Anak dari Rasulullah Saw.

Rendahnya pemahaman hak anak sering menjadi sebab munculnya tindak kekerasan terhadap anak di dalam sebuah keluarga. Sehingga orang tua maupun anggota keluarga lain menerapkan metode salah dalam mendidik anak.

Rasulullah saw. memberi contoh nyata agar umatnya terhindar dari perbuatan keji dan aniaya. Terutama terhadap anak-anak. Salah satunya adalah tidak berkata dengan nada membentak kepada siapa pun. “Sepuluh tahun melayani Nabi saw., belum pernah beliau berkata kepadaku dengan membentak. Juga tidak mengatakan mengapa engkau kerjakan dan juga tak mengatakan: Ingat engkau harus kerjakan,” ungkap Anas r.a.

Nabi juga mengajarkan kepada kita untuk menyayangi anak-anak. Sebab, sayang kepada anak-anak bisa menjadi pintu rahmat buat kita. Aisyah r.a. berkata, “Seorang Arab datang pada Nabi saw. Dia bertanya, ‘Apakah tuan mencium anak-anak sebagai tanda kesayangan. Sedangkan kami tidak menciumnya?’ Nabi saw. bersabda, “Bagaimanakah aku akan menolong engkau jika Allah akan mencabut dari hatimu sifat rahmat.”

Anak adalah generasi masa depan baik anak sendiri maupun anak orang lain selayaknya kita perlakukan dengan baik. Kita tidak tahu siapa kelak yang akan menjadi pemimpin masa depan, apakah anak kita sendiri atau anak orang lain yang kita santuni dan sayangi tersebut. Dengan demikian siapapun kita hendaknya tetap menyayangi anak-anak dengan segala “kreativitasnya” sesuai dengan masanya.[ ]

 

Red: ricky

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment