Tinggalkan 3 Perilaku Ini Karena Masuk Amalan Yang Tidak Produktif

debat
FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerSilakan Share

Oleh: Tate Qomaruddin*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Allah telah menurunkan Islam dan mengariskannya sebagai agama kerja (dinul ’amal). Setiap bagian ajaran Islam mengarah pada kerja dan aplikasi nyata. Dan hanya pada saat Islam benar-benar dilaksanakan itulah Islam benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamin. Karena hanya dengan cara dilaksanakan itulah Islam menjadi solusi bagi berbagai permasalahan manusia. Oleh karena itu, segala perdebatan, diskusi yang tidak membuahkan amal atau meningkatkan produktivitas, dan tidak pula meningkatkan keimanan adalah tidak sesuai dengan ruh Islam. Dan karenanya ia merupakan sesuatu yang tercela. Betapa banyak problematika yang melilit umat Islam. Ada baiknya kita menyimak apa yang dipesankan oleh salah seorang ulama Mesir, Ustadz Hasan al-Banna, “Setiap masalah yang tidak menjadi pijakan amal, maka membincangkannya adalah merupakan sikap takalluf (memaksa-maksakan), yang -secara syar’i- kita dilarang melakukannya. Di antaranya adalah: memperbanyak perbincangan detil-detil hukum yang tidak secara ril terjadi; mendalami ayat-ayat Al Quran yang belum terjangkau ilmu pengetahuan; membanding-bandingkan keutamaan para sahabat -semoga Allah meridoinya- dengan segala perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka. Masing-masing mereka memperoleh keutamaannya sebagai sahabat dan memperoleh pahala niatnya.”

Masih perlu peningkatan serius dalam mewujudkan produktivitas amal. Namun belum terlambat bagi kita untuk setia terhadap amal, betapa pun kecilnya. Misalnya saja dalam konteks penegakan syari’at Islam. Apa makna ingar bingar gembar-gembor penegakan syari’at Islam bila tidak ada keseriusan untuk melaksanakannya dari mulai tataran individu dan dari hal-hal yang detik ini sudah bisa dilaksanakan?

Ini semakin menegaskan pentingnya kita menjaga diri dari keterjebakan dalam hal-hal yang tidak produktif bahkan menambahkan persoalan baru terhadap persoalan lama yang belum juga terpecahkan. Ustadz Hasan al-Banna meberikan beberapa contoh perilaku yang tidak produktif, antara lain:

  1. Perdebatan yang tidak membuahkan amal shalih 

Sudah saatnya kita mulai mengoreksi diri, lebih-lebih bila kita mengingat kondisi umat Islam yang amat memprihatinkan ini. Kita evaluasi: adakah debat-debat, diskusi-diskusi, atau perbincangan apa pun mengarahkan kita pada peningkatan kualitas keislaman: hati semakin khusyu’ dan tunduk; iman semakin kokoh; dan amal nyata semakin besar. Ini perlu dilakukan karena dikhawatirkan segala perbincangan kita termasuk perdebatan yang menyesatkan. Rasulullah saw. pernah mengingatkan, “Tidak satu kaum tersesat setelah ia memperoleh petunjuk kcuali jika ia diberi (kesenangan) berdebat.” Perdebatan sering kali dirasakan mengasyikkan oleh sebagian kalangan. Lebih-lebih jika dalam perdebatan itu ia mampu menumbangkan lawan. Karenanya Allah swt. memberikan contoh bagaimana mengarahkan sebuah perbincangan yang berpotensi menjadi perdebatan menjadi terarah pada amal nyata. Al Quran surat Al Baqarah (2) ayat 189 merekam pertanyaan orang Arab tentang bulan sabit,

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.’”

Mereka bertanya tentang bulan sabit, jawaban Al Quran tidak memperturutkan retorika penanya. Pertanyaan penanya mengarah pada, “Mengapa bulan sabit itu mula-mula tampak halus bagaikan benang kemudian bertambah penuh hingga menjadi purnama. Dan lalu kembali seperti semula?”

Sebetulnya pertanyaan tersebut dapat saja dijawab secara ilmiah. Rasulullah saw. dapat menjelaskannya berdasarkan informasi dari Allah swt. Akan tetapi Allah mengarahkan bahwa yang paling bermanfaat untuk orang-orang yang hidup saat itu ialah apa yang harus atau sebaiknya dilakukan terkait dengan bulan sabit. Di samping, tentu saja faktor kesiapan untuk memahami gejala alam seperti itu menjadi pertimbangan penting.

Termasuk sikap memberatkan diri sendiri (takalluf) bila kita membincangkan masalah qadha dan qadar melebihi apa yang terkait dengan hal yang bisa dan harus kita lakukan. Karena Rasulullah saw. dan para sahabatnya telah memberi contoh dalam mengimani qadha dan qadar. Mereka percaya sepenuhnya bahwa tidak ada satu peristiwa pun di dunia yang berada di luar ketentuan Allah. Namun mereka pun bekerja, berusaha, dan berjuang untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Mereka juga yakin bahwa petunjuk (hidayah) ada di tangan Allah.

Namun mereka terus berdakwah untuk menyampaikan kebenaran itu. Oleh karena itu para sahabat tidak terpancing untuk memperdebatkan qadha dan qadar ini. Dikisahkan bahwa Umar bin Khattab bertanya kepada seorang pencuri. Si pencuri mengatakan, “Saya mencuri karena qadha dan qadar Allah.” Maka Umar pun menjawab, “Dan saya memotong tanganmu karena qadha dan qadar Allah.”

  1. Menyelami ayat Al Quran yang belum terjangkau ilmu pengetahuan

Al Quran diturunkan bukanlah sebagai kitab sains dan teknologi melainkan sebagai hidayah, petunjuk bagi manusia menuju jalan kebahagian dunia dan akhirat. Kitab Allah itu memang memuat sejumlah informasi dan isyarat saintis. Akan tetapi informasi dan isyarat-isyarat itu berfungsi “sekadar” memberikan bukti bahwa Al Quran bukanlah hasil daya cipta manusia. Ia datang dari Yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui.

Oleh karena itu, orang yang belum mampu menjadikannya sebagai petunjuk kehidupan, meskipun dia telah menyerap banyak manfaat dari informasi dan isyarat saintis dari Al Quran itu, belumlah berinteraksi dengan Al Quran. Apalagi orang yang hanya memperdebatkan dan mengotak-atik ayat-ayat tertentu untuk sekadar tamattu’ ‘aqli (kenikmatan akal). Ia tidak memperoleh ilmu apa pun yang mendukung teknologi; tidak mendapatkan hidayah darinya; dan tidak pula meningkatkan amal. Lebih rusak lagi orang-orang yang mengotak-atik Al Quran demi membahagiakan pihak-pihak kafir yang memang tidak senang melihat bangkitnya umat Islam.

  1. Membanding-bandingkan keutamaan sahabat

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian (generasi) sesudahnya, kemudian (generasi) sesudahnya.” (H.R. Bukhari)

Membanding-bandingkan keutamaan sahabat terlebih lagi disertai dengan pendiskreditan adalah perbuatan yang membuang-buang waktu dan bahkan bisa menjerumuskan mungkin tanpa disadari pada penolakan beberapa ayat Al Quran. Allah swt. telah menegaskan pujian untuk mereka,

Sungguh Allah telah rido kepada mukminin ketika mereka berbai’at kepadamu (Rasul) di bawah pohon itu.” (Q.S. Al Fath 48: 18)

Keutamaan setiap sahabat sebagaimana yang dicatat dalam kitab-kitab sirah adalah benar adanya. Namun hal itu bukan untuk mengurangi rasa hormat kita kepada sahabat tertentu karena kekurangannya sebagai manusia atau karena kekeliruan tertentu. Demikian pula dengan pilihan-pilihan mereka dalam bersikap –yang kemudia ternyata menimbulkan konflik, tidak lebih dari hasil ijtihad. Sehubungan dengan itu, Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah mengatakan,

“Kita berpegang teguh pada sikap menahan diri dari (membincangkan) konflik antara mereka. Kita tahu bahwa sebagian riwayat tentang itu adalah dusta belaka. Mereka berijtihad. Imma ijtihad mereka benar dan mereka dapat dua pahala. Atau mereka mendapat pahala atas amal saleh mereka dan diampuni segala kesalahannya. Atau mereka diampuni dengan taubat mereka, atau dengan kebaikan-kebaikan yang menghapuskan keburukan, atau dengan musibah yang menutup dosa-dosa, atau yang lainnya. Mereka adalah generasi terbaik umat ini.”

Sungguh sangat memprihatinkan jika umat ini lebih suka membebek kepada bangsa lain dalam hal-hal yang seharusnya melakukan pengembangan dan inovasi. Sebaliknya, untuk kawasan yang siap aplikasi misalnya ibadah malah menyuburkan perdebatan dan improvisasi. Wallahu a’lam. [ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected] atau: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

program marbot

Leave a Comment