Meraih Kemenangan Hakiki  (Bedah Al-Quran Surat al-Hajj ayat 40-41)

alhajj40

[40] (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan Kami hanyalah Allah’ dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid- masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. [41] (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

***

alquran muasir

Dalam benak kebanyakan orang, kemenangan mungkin identik dengan sebuah kejuaraan, pertandingan, perlombaan, dan sejenisnya. Kemenangan pun diartikan dengan adanya kekalahan di pihak lawan. Dalam konteks keislaman, kemenangan – kurang lebih – memiliki arti yang sama. Kemenangan dalam Islam berarti juga kesuksesan dalam meraih prestasi terbaik hasil dari perjuangan panjang dan melelahkan. Kemenagan dicapai karena kita telah berhasil mengalahkan sederet musuh atau lawan yang berusaha kuat untuk menjegal.

Dalam perjalanan hidup seorang manusia, perjuangan dan kemenangan adalah sebuah keniscayaan. Hal ini sudah terjadi di awal proses pembentukan janin ketika ratusan juta sel sperma ayah berlomba menuju ke satu tujuan, yakni sel telor ibu. Bersama ratusan juta “peserta” yang lain, kita berlomba untuk menjadi yang tercepat sampai finish untuk membuahi sel telor. Saat itu, hanya satu yang akan jadi pemenang dan Allah menakdirkan kita sebagai pemenang dengan tropi hak melihat dunia serta amanah sebagai khalifah di muka bumi-Nya. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30)

Menguatkan kemenangan yang telah diraih sebelumnya, Allah kemudian menyiapkan kemenangan berikutnya bagi hamba-Nya yang taat dengan ajakan untuk mendawamkan shalat. Ya, shalat adalah ajakan untuk meraih kemenangan yang dikumandangkan dalam salah satu kalimat adzan yang berbunyi Hayya ‘Alal Falah (mari meraih kemenangan). Shalat merupakan langkah pasti menuju sebuah kemenangan atau kejayaan, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak.

kalender

Tidak cukup disitu, Allah senantiasa menyandingkan kata kemenangan (umumnya dengan menggunakan kata fauzan, fathan dan nashran) dengan frasa hamba-hamba-Nya yang berprestasi dalam puluhan ayat Al-Quran.

Jika sejak pertama kali diciptakan, manusia sudah ditakdirkan sebagai pemenang, layakkah jika sekarang kita malah menjadi pecundang? Masihkah kita akan dengan sengaja mengabaikan kemenangan itu dengan melalaikan shalat sehingga akhirnya kalah oleh lawan yang menistakan kita dalam kebinasaan? Na’udzubilahi min dzalik.

Perlu untuk diingatkan kembali, kemenangan bukanlah pemberian cuma-cuma. Kemenangan bukanlah barang temuan atau harta karun yang tinggal digali. Kemenangan adalah hasil dari sebuah proses panjang berliku dengan perjuangan dan pengorbanan berpeluh keringat, air mata, dan mungkin darah. Sisi baiknya, kekuatan dan keistiqomahan dalam perjuangan meraih kemenangan itu secara otomatis akan mendatangkan pertolongan Allah sehingga akhirnya kita sampai pada pncak tangga keridoan-Nya. Dengan kata lain, pertolongan Allah adalah kata kunci dalam meraih kemenangan, apapun yang ingin diraih. Dan tentunya, pertolongan Allah tersebut spesial diberikan kepada hamba-Nya yang memiliki karakteristik yang dicintai-Nya.

Merujuk pada surat Al-Hajj ayat 40-41 tersebut, terdapat dua karakteristik penting yang kita butuhkan dalam simpati atau pertolongan Allah Swt. Pertama, karakteristik perjuangan dalam meraih kemenangan. Dan kedua, karakteristik hamba yang layak mendapat pertolongan dan dipastikan meraih kemenangan hakiki.

Pada ayat 40 dijelaskan bahwa perjuangan dalam meraih kemenangan dipenuhi dinamika perjuangan dengan bumbu pengorbanan dan lika-liku perjalanan sebelum akhirnya kita sampai pada titik yang mengharuskan kita kehilangan atau dipaksa meninggalkan segala bentuk kenikmatan dan kesenangan dunia yang sempat ada di genggaman. …………………………..Hari-hari mencekam penuh ketakutan akibat keganasan sebagian makhluk sadis yang tidak senang dengan tegaknya syari’at Allah. Allah mengetahui betul hal tersebut. untuk itu Allah berfiman :

dan Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah… ( Qs. Al-Hajj : 40 )

Dalam sejumlah ayat yang lain, diutarakan bahwa bukan hal mustahil manusia di dunia ini ada dalam satu keimanan, namun kondisi seperti sekarang merupakan kehendak Allah untuk meguji sejauh mana keimanan yang dimiliki sebagian hambaNya.

Jika dihubungkan dengan ibadah Ramadhan. maka shaum Ramadhan merupakan perjuangan yang relatif panjang untuk meraih sebuah kemenangan. Makanya tidak perlu risau dan galau dengan beratnya perjuangan dalam mengarungi Ramadhan. karena seperti itulah sebuah perjuangan dilakukan. Selama dilaksanakan dengan landasan keimanan dan keikhlasan, maka Allah akan segera menurunkan pertolongannya dan memberinya piagam kemenangan dengan terbebas dari segala dosa yang telah dilakukan.

Karakteristik kedua yang semestinya dimiliki agar dapat meraih kemenangan sejati adalah kualitas amaliyah seperti dimuat dalam ayat ke-41 surat Al-Hajj tersebut yang meliputi :

1.     Memiliki keteguhan.

Mereka adalah……………………..

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment