Buah Kesabaran Istri Dengan Kekuatan Doa

keluarga

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Makhluk Allah yang diberi cobaan terberat adalah para nabi, kemudian orang-orang yang di bawah derajatnya, dan seterusnya. Semakin bertambah jauh kesesatan makhluk, semakin besar pula energi kesabaran diperlukan untuk menghadapinya. ”Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.”  (Q.S. Al Ahqaf 4: 35).

alquran muasir

Pendek kata, kezaliman tingkat tinggi hanya bisa dihadapi dengan kekuatan kesabaran, kesalehan, pemaafan, dan doa. Setiap kezaliman yang Anda hadapi, Anda sendirilah yang akan menorehkan skenario terbaik untuk menyelesaikannya menurut kadar keadilan-Nya, insya Allah tidak sulit Anda mengundang back-up-Nya. “Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kamu dan tingkatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (berjihad) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu berhasil.” (Q.S. Ali Imran 3: 200).

Lewat doa, orang sabar punya senjata andalan, namun senjata ini tak akan berfungsi jika tidak dibarengi dengan unsur jihad (kerja keras) yang bersumber dari ketakwaan.

Seringnya meminta energi sabar dari Allah, tidak akan membuat energi sabar yang disediakan untuk kita habis. Jadikanlah kesabaran Anda karena Allah swt. semata, bukan karena selain-Nya. “Dan orang-orang yang sabar karena mencari rido Rabbnya,…” (Q.S. Ar-Ra’du :22) ”Dan hanya karena Rabbmu, bersabarlah. (waliRabbika fashbir).”

kalender

Jadikan doa sebagai nafas Anda. Kapan saja Anda bisa mengadu pada-Nya. Apakah ketika proses itu berjalan ataukah ketika telah mencapai titik nadir/batas toleransi usaha yang telah dijalankan.

Inilah yang dialami para Nabi. Mereka mengadukan segalanya kepada Allah swt., mengadukan segalanya di saat-saat genting, di garis terluar batas toleransi upaya manusiawi. Sabar harus dengan tetap berusaha menyelamatkan diri demi keimanan dan menjaga fisik dari penganiayaan, selebihnya hanya Rabb yang bisa menyelesaikan menurut skenario terbaik-Nya. Berikut beberapa contoh kesabaran di titik nadir.

  1. Sabar terhadap umat.

Semasa hidup Abu Thalib, orang-orang Quraisy tidak berani menyakiti Nabi Muhammad Saw., namun setelah paman beliau tersebut wafat, perlawanan dan penganiayaan semakin meningkat. Inilah yang memaksa Rasulullah saw. hijrah sementara ke Thaif dengan harapan penduduk di sana mendengar seruannya.

Tetapi, di sana pun Rasulullah Saw. dan pengikutnya terluka akibat kekerasan, pemukulan, pelemparan batu dan kayu. Dengan sabar Rasulullah saw. menyelamatkan diri. Tatkala ia berlindung di suatu kebun, ia berdoa mengadu pada Allah swt.,

Ya Allah! Kami mengadu kepada Engkau akan kelemahan kami dan kerendahan kami di hadapan manusia. Ya Allah Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Melindungi orang-orang yang lemah! Kepada siapa pun Engkau serahkan kami, kepada kawan yang senantiasa berdiri di samping kami atau kepada musuh yang selamanya akan memperlihatkan amarahnya, selama Engkau tidak murka kepadaku, ya Allah, senanglah hati kami. Kami berlindung dengan cahaya wajah Engkau yang berkuasa mengusir kegelapan dan membawa damai dunia dan akhirat. Semoga kemurkaan-Mu tidak mengenai diri kami. Tak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah jua.”

Proses berdakwah membutuhkan sikap kerja keras mengajak dengan penuh kasih sayang walaupun mendapat perlakuan kejam. No problem bagi Rasulullah saw. mendapat luka, hinaan, aniaya, ataupun ditinggalkan. Limit pengharapannya ialah selama ada kesertaan Allah di dalamnya, …selama Engkau tidak murka kepadaku ya Allah senanglah hati kami.

Itulah pelepasan rasa sakit Rasulullah Saw. dari sisi kemanusiaannya yang sedang teraniaya oleh kezaliman manusia, dalam bentuk pengaduan doa, menenangkan jiwanya, menambah kepasrahan total kepada sang Khalik.

  1. Sabar terhadap anak.

Salah satuu contoh yang menghadapi titik nadir kesabaran menghadapi kehilangan anak ialah apa yang terjadi kepada Nabi Yaqub, “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf. Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, tetapi dia menahan (amarahnya terhadap anak-anaknya). Mereka berkata (anak-anaknya yang durhaka), ‘Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf, sehingga kamu menderita sakit atau termasuk orang yang binasa.’ Ya’qub menjawab, ‘Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (Q.S. Yusuf : 84-86).

Adalah kewajaran sebagai manusia kalau Anda berlinang air mata karena tekanan, tipuan, dan makar, tapi hendaknya bukan karena meratapi nasib. Adukanlah kepada Allah untuk memberikan keadilan, barangsiapa menanam kejahatan tentu akan binasa karena perbuatannya sendiri.

Dalam kejadian ini, kepasrahan si teraniaya (Yaqub) karena merasa tidak memiliki pilihan lain (idhthirary). Tidak ada jalan lain bagi Yaqub selain menerima keterangan yang diberikan saudara-saudara Yusuf. Namun Yakub masih yakin putranya belum meninggal. Ia yakin kalau merekalah yang telah mencelakai Yusuf. Saat itu ia sulit membuktikan. Terbukti sekian tahun kemudian, ia dipertemukan Allah dengan Yusuf Kesabarannya mengundang pertolongan-Nya di dunia dan akhirat, hanya tinggal menunggu waktu.

  1. Sabar terhadap orangtua.

Sikap kekejaman ayah Ibrahim a.s., “Berkata bapaknya, ‘Bencikah kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak mau berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.’” (Q.S. Maryam 19: 46).

Doa pengaduan anak (Nabi Ibrahim) terhadap kedurhakaan ayahnya, “Ibrahim berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahan kepadamu, aku akan memintakan ampunan bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku, dan aku menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain dari Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku.” (Q.S. Maryam 19: 47-48).

  1. Sabar terhadap pasangan (suami)

Di Indonesia, sudah menjadi rahasia umum bahwa para istri wajib untuk memasak, mencuci baju, membersihkan rumah dan yang lainnya? Apakah hal itu sesuai dengan syariat Islam? Allah Ta’ala berfirman:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian  yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (QS. AnNisa’ : 34)

Makanan, pakaian dan tempat tinggal merupakan sesuatu yang secara umum dipandang terlebih dahulu dalam persoalan nafkah suami. Masih banyak orang yang berfikir bahwa nafkah makanan tersebut berupa bahan mentah, akan tetapi sebenarnya nafkah yang berupa makanan tersebut adalah makanan yang sudah siap dikonsumsi. Adapun proses dalam menjadikannya siap untuk dikonsumsi adalah tugas suami.

Namun terkadang seorang suami dalam memberikan nafkahnya tidak sesuai dengan keinginan dan harapan istri. Bagi seorang istri yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia harus menerima dan bersyukur atas pemberian suaminya. Kesabaran inilah yang harus dimiliki seorang istri. Istri tidak boleh menuntut lebih dari suami diluar kesanggupannya. Wallahu ‘alam.[ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

sasa-esa-2

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment