Sudah Merasa Takwa? Hindari Amal Ini Agar Tak Celaka Di Akhirat

54

Oleh: Tate Qomaruddin*

PERCIKANIMAN.ID – – Beramal shalih sudah merupakan kewajiban yang harus kita kerjakan setiap waktu sebagai bukti keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. selain itu amal shalih tersebut juga sebagai upaya kita dalam rangka mendapat rahmat dan ridho dari Allah Swt, sehingga jika kedua hal tersebut didapatkan maka hidup kita ada dalam lindungan dan kecintaan-Nya.

alquran muasir

Namun demikian, jangan lantas telah merasa beramal shalih membuat kita terlena bahkan sombong bahwa amal shalih lah yang akan menyelamatkan kita dari azab dan murkanya. Coba kita simak dan kaji hadis ini dimana Rasulullah Saw menginformasikan kepada kita tentang nasib di hari kiamat kelak:

(Rasulullah Saw. bersabda) “Ada tiga (golongan manusia) yang tidak akan dipandang oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan disucikan, dan bagi mereka siksa yang pedih: seseorang yang mempunyai kelebihan air di tengah perjalanan dan menolak memberikannya kepada orang yang tengah menempuh perjalanan; orang yang membaiat seorang imam tidak lain kecuali karena dunia, jika dia (imam itu) memberinya dia puas dan jika tidak dia marah; dan seseorang yang menjajakan dagangannya setelah ashar seraya mengatakan, ‘Demi Allah Yang tiada tuhan selain Dia, barang ini telah dihargai sekian,’ lalu seseorang mempercayainya.’ Kemudian Rasulullah Saw. membacakan ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.’” (H.R. Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Hadits sahih di atas menepis anggapan bahwa derajat kesalehan seseorang dapat dicapai dengan semata-mata ibadah ritual yang menghubungkan dirinya dengan Allah Swt.; menolak dugaan bahwa jika seseorang sudah banyak shalat Tahajud sambil terisak-isak dan banyak lembar Al-Quran yang dibacanya setiap hari, seseorang sudah berada dalam puncak keimanan. Tidak. Semua kekhusuan shalat dan kekhidmatan membaca Al-Quran akan bermakna sebagai ketinggian iman manakala menjelma menjadi sesuatu yang bermanfaat dan dapat dirasakan oleh orang lain.

kalender

Al-Quran mengecam shalat orang munafik yang dilakukan secara riya, sehingga tidak berdampak pada kehidupan nyata dan tidak mendorong untuk melakukan perbuatan yang dapat dirasakan manfaatnnya oleh orang banyak. Firman-Nya, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu mereka yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan menolong dengan barang berguna.” (Q.S. Al-Maa‘uun [107]: 4-7)

Hadits ini menyebutkan perilaku orang-orang yang dimurka Allah Swt. Kemurkaan itu ditunjukkan dengan cara pertama, Dia tidak memandangnya atau mengabaikannya. Atau, kalaupun memandang, tidak dengan pandangan kasih sayang, melainkan dengan pandangan kemarahan. Kedua, Dia tidak akan mensucikannya. Artinya, Allah tidak akan membersihkan dosa-dosanya. Bandingkan dengan orang yang Allah cintai. Dia akan membersihkan dan menghapuskan kesalahan dan dosanya. Ketiga, mereka akan memperoleh siksa yang memedihkan dan menyakitkan tiada tara.

Meskipun menyebut hanya tiga perilaku atau tiga kelompok manusia, namun ini bukan batasan dan bukan berarti tidak ada lagi selain yang tiga itu. Sebab, dalam hadits atau bahkan ayat lain, masih banyak lagi perbuatan-perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan yang membuat Allah murka atau orang-orang yang tidak Allah sukai. Sementara, setiap muslim begitu merindukan kecintaan Allah, namun alih-alih mendapatkannya, dia akan mendapatkan murka-Nya.

Dalam hadits tersebut, ada tiga golongan manusia yang tidak akan dipandang oleh Allah di akhirat kelak.

  • Pertama, mempunyai kelebihan air di tengah perjalanan dan menolak memberikannya kepada orang yang tengah menempuh perjalanan.

Para ulama membahas hal ini dengan memcontohkan seseorang yang mempunyai sumur air tempat yang biasa dilewati para pengembara dan para penempuh perjalanan (ibnu sabil). Dia sudah mengambil air yang dibutuhkannya dan masih mempunyai kelebihan, tetapi enggan membagi. Maka, orang itu tidak mendapatkan kecintaan Allah Swt., bahkan mendapatkan murka-Nya.

Air merupakan karunia Allah yang diberikan-Nya secara gratis kepada manusia. Air merupakan kebutuhan manusia yang tidak dapat digantikan oleh yang lain. Terlebih, bagi seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Boleh jadi, air lebih berharga dari apa pun. Jika ada orang yang mempunyai kelebihan air sementara ada orang lain yang membutuhkan, namun dia tidak memberikannya, wajar saja jika Allah tidak menyukai orang tersebut.

Dari situ kita dapat mengambil pelajaran bahwa ketika memiliki sesuatu–yang hakikatnya adalah pemberian Allah Swt. merupakan sikap yang buruk jika kita menolak berbagi dengan orang yang amat membutuhkan. Islam sangat membenci sikap individualistik.

Inilah bukti keadilan dan moderatnya Islam. Jika kapitalisme berpijak pada prinsip bahwa setiap individu memiliki hak tanpa batas untuk memperkaya diri sendiri dengan tidak perlu memertimbangkan faktor orang lain dan sebaliknya–di kutub ekstrem yang lain—komunisme tidak mengakui hak individu, Islam berada di tengahnya. Dalam milik seseorang ada hak orang lain yang membutuhkan. Rasulullah Saw. bersabda,

Tidaklah beriman kepadaku orang yang tertidur dalam kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya dan dia mengetahuinya.” (H.R. Thabrani)

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment