Mudahnya Menyiapkan Makanan Sehat Dengan Gizi Seimbang

237

Oleh: dr. Nur Fatimah, Sp.GK., M.S.*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Berbagai slogan dan imbauan untuk membiasakan diri makan sehat kerap kita dengar.  Umumnya kita mempunyai keinginan yang kuat untuk mengikuti anjuran itu karena tahu benar efek baiknya bagi kesehatan. Akan tetapi, seringkali kita begitu sulit untuk melakukan hal tersebut karena berbagai kendala yang harus dihadapi, seperti sulitnya mengendalikan selera, keterbatasan waktu, lingkungan kerja yang tidak mendukung, dan sebagainya. Hasilnya, sampai kini, pola makan kita masih belum sesuai dengan anjuran tersebut. Begitu sulitkah kita untuk berusaha menjalani salah satu upaya hidup sehat ini?

alquran muasir

Kiat mengubah pola makan tidak sehat hendaknya tidak dipandang sebagai sesuatu yang rumit. Kita dapat mengubahnya dari hal-hal kecil dan cukup sederhana. Mengubah pola makan yang kurang baik secara drastis memang mudah, tetapi yang sulit adalah mempertahankannya. Berbagai keterbatasan menjadi alasan kuat untuk mempertahankan pola makan tidak sehat, padahal kita tahu benar bahwa kebiasaan makan jangka panjanglah yang akan mempengaruhi status kesehatan kita. Mengadakan suatu perubahan memang perlu motivasi yang kuat dan terus menerus, tetapi juga harus memperhatikan adaptasi tubuh kita sehingga mudah diterima, tidak menimbulkan keluhan dan ketidaknyamanan fisik, serta tetap memenuhi kepuasan selera makan.

Seperti kita ketahui, makanan sehat dan gizi seimbang adalah terpenuhinya kebutuhan tubuh, baik jumlah maupun jenis makanan yang kita konsumsi. Terpenuhinya jumlah makanan yang kita konsumsi harus disertai dengan pengendalian diri untuk mengontrol frekuensi makan, baik makan utama maupun makan selingan, kalau perlu, kita dapat menyusun jadwal makan sehingga kita tidak akan makan kecuali pada jam-jam tersebut. Jadwal makan yang baik akan selalu dapat memenuhi kebutuhan kita akan tenaga sehingga tetap fit dan tidak terganggu dengan berbagai keluhan, seperti rasa lapar atau kehilangan gairah untuk beraktivitas. Menghilangkan salah satu waktu makan dengan maksud dapat makan sepuasnya pada waktu makan berikutnya adalah hal yang salah karena pada saat tubuh kekurangan energi tanpa adanya pasokan makanan, maka tubuh akan membebaskan energi tidak hanya dari lemak, tetapi juga dari karbohidrat dan protein.

Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi. Namun, energi tersebut lebih diutamakan untuk sel tubuh yang memerlukan energi dalam waktu singkat dan sel yang hanya dapat memakai karbohidrat sebagai sumber energi. Sel-sel tersebut umumnya dimiliki oleh organ tubuh yang mempunyai fungsi vital, seperti sistem saraf, sistem peredaran darah, dan sistem kekebalan tubuh. Mengurangi satu waktu makan berarti mengurangi satu waktu asupan karbohidrat sehingga akan terjadi pemakaian gula darah dan cadangan karbohidrat lain oleh tubuh. Hal ini menyebabkan kadar gula darah menurun dan menurunkan kinerja berbagai sistem-sistem vital tersebut. Bila ini terjadi, umumnya kita akan merasa tidak fit, lemas, mengantuk, kurang konsentrasi belajar atau bekerja dan perubahan mood, serta merasa lapar. Saat mengalami kondisi-kondisi tersebut, biasanya kita akan mengonsumsi makanan selingan atau minuman berenergi yang mengandung karbohidrat sederhana yang meskipun akan mengembalikan kebugaran, cepat pula menimbulkan rasa lapar sehingga kita akan terus mengonsumsi makanan tersebut. Bila tidak ada kesempatan mengonsumsi makan selingan, kita akan makan berlebih pada waktu makan utama berikutnya. Kedua hal tersebut menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap pengaturan kadar gula darah oleh hormon insulin, yang menjadi salah satu faktor pemicu diabetes.

kalender

Pemakaian protein sebagai sumber energi memerlukan aktivitas hati dan ginjal cukup tinggi. Selain itu, jumlah energi yang dihasilkannya jauh lebih sedikit dibanding bila tubuh memakai karbohidrat atau lemak. Fungsi utama protein sendiri adalah sebagai pembangun, pemelihara, dan pengatur tubuh serta berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Bila tubuh dibiasakan mendapat jumlah asupan makanan dan frekuensi makan yang tidak sesuai, protein tidak dapat menjalankan fungsi-fungsi utama tersebut karena tergeser oleh fungsi lainnya, yakni sebagai sumber energi.

Makan dengan frekuensi teratur, yaitu 3 kali makan utama dan makanan selingan pagi dan sore, ditambah pengendalian jumlah asupan makanan dan pemilihan jenis makanan dan makanan penukar yang tepat, akan membantu pengendalian gula darah dengan berbagai risikonya.

Berikut caranya . . . . . . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment