Politisi Belanda Anti Islam Segera Hadapi Pengadilan Atas Hasutan Rasial

geert-wilder-2

PERCIKANIMAN.ID – – Politisi anti-Islam Geert Wilders bisa diadili atas tuduhan menghasut kebencian rasial, pengadilan di Den Haag memutuskan pada Jumat akhir pekan lalu seperti dilansir antaranews . Pengadilan itu akan menjadi ajang untuk menguji hak kebebasan berpendapat yang dilatarbelakangi unsur politik di Belanda.

Hakim Hendrik Steenhuis menolak argumen pengacara Wilders bahwa kliennya mendapat perlakuan diskriminatif. Steenhuis mengatakan jaksa punya peluang yang luas dalam menentukan kapan mereka pikir seseorang telah melewati batas pernyataan yang bersifat menyerang menjadi pernyataan yang berunsur diskriminasi.

alquran muasir

Steenhuis menetapkan persidangan tersebut akan berlangsung selama tiga pekan yang dimulai tanggal 31 Oktober, yang berarti vonis cenderung akan dijatuhkan pada bulan Desember, menjelang pemilihan nasional pada Maret mendatang.

Partai sayap kanan asal Wilders, yaitu Partai Kebebasan, bersaing ketat dengan partai konservatif VVD yang merupakan partai asal Perdana Menteri Belanda Mark Reutte, dalam beberapa poling jajak pendapat.

Wilders menanggapi keputusan pengadilan tersebut dengan mengatakan bahwa dia diadili atas “apa yang jutaan orang (Belanda) pikirkan”. Dalam sosial media Twitter, dia mengindikasikan proses hukum yang dijalankan terhadap dirinya memiliki motif politis.

kalender

Sebelumnya, Wilders dituduh diskriminatif dan menghasut secara rasis dalam pidatonyanya pada 2014 lalu dalam sebuah acara televisi, di sebuah ruangan penuh pendukungnya yang meneriakan mereka ingin “lebih sedikit” orang Maroko di Belanda.”

Beberapa melihat pernyataan itu sama dengan menyerukan orang-orang Maroko untuk diusir dan ribuan orang lainnya mengajukan pengaduan resmi.

Pemimpin partai kanan-jauh Belanda, Partai untuk Kebebasan (PVV) Geert Wilders menunjukkan gambar juru foto yang diambil menggunakan kamera telepon seluler menjelang sidang dirinya di ruang sidang gedung pengadilan di Schiphol, Belanda, Jumat (18/3/2016). (REUTERS/Michael Kooren/djo/16)
Pemimpin partai kanan-jauh Belanda, Partai untuk Kebebasan (PVV) Geert Wilders menunjukkan gambar juru foto yang diambil menggunakan kamera telepon seluler menjelang sidang dirinya di ruang sidang gedung pengadilan di Schiphol, Belanda, Jumat (18/3/2016). (REUTERS/Michael Kooren/djo/16)

Dalam sidang praperadilan, pengacara sang politisi Geert-Jan Knoops berargumen bahwa pernyataan kliennya dilindungi oleh hukum kebebasan berpendapat yang menurutnya harus ditafsirkan kebebasan terutama ketika mereka adalah bagian dari wacana politik. Pada 2011, Wilders dibebaskan dari dakwaan atas penghasutan rasis yang menyebut Al-Quran harus dilarang dan “para penjahat” Maroko harus dideportasi.

Para hakim persidangan itu mengatakan Wilders dalam pidatonya memang menyatakan beberapa hal yang bersifat menyerang, namun dalam batasan yang sah dalam wacana politik. Banyak pengamat merasa persidangan tersebut membantu meningkatkan popularitasnya karena ia mampu menampilkan dirinya sebagai juara dari kebebasan berpendapat.

Sebagaimana dilansir oleh Al Jazeera, kasus yang terjadi pada Jum’at (18/3/2016) datang saat Wilders dan politisi terkemuka lainnya – termasuk Donald Trump di Amerika Serikat dan Marine le Pen di Perancis – telah meningkatkan seruan untuk melarang imigrasi Muslim.

Jaksa Belanda mengatakan bahwa Wilders mengajukan pertanyaan kepada kerumunan pendukungnya pada Maret 2014: Apakah mereka ingin sedikit atau lebih sedikit orang Maroko di Belanda?

Pertanyaan itu disambut dengan teriakan dari pendukungannya: “Lebih sedikit! Lebih sedikit! Lebih sedikit”. Wilders sambil tersenyum menjawab: “Kami akan mengurus hal itu.”

Anggota parlemen itu menghadapi tuduhan diskriminasi dan menghasut kebencian terhadap orang Maroko, yang membentuk sekitar 2 persen dari total penduduk Belanda yang berjumlah sekitar 17 juta.

Selain komentar “lebih sedikit”, Wilders juga menyebut orang Maroko sebagai “sampah” dalam pernyataan yang disiarkan televisi. Dia bisa diancam hukuman penjara selama satu tahun dan bisa didenda maksimal 7.400 euro ($ 8.400).

“Dalam perjalanan ke pengadilan dalam pengawalan polisi. Tidak ada yang akan membungkam saya. Bukan teroris, bukan perdana menteri dan bukan pula pengadilan.” Tulis Wilders di akun Twitter-nya.

Dalam kasus sebelumnya, Wilders dibebaskan dari tuduhan pada 2011 setelah ia menyamakan Al-Quran dengan Mein Kampf-nya Adolf Hitler. Pada sat itu, dia juga mengatakan bahwa “penjahat Muslim” harus dilucuti kewarganegaraan Belanda-nya dan dideportasi.

Hakim menyimpulkan bahwa pernyataan Wilders dulu mungkin kasar, tapi ia dibebaskan karena pernyataan-pernyataan itu menargetkan agama, bukan ras.

“Itulah perbedaannya dengan yang sekarang,” kata juru bicara kejaksaan Ilse de Heer. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment