Memaknai Emansipasi Yang Hakiki

260a

Oleh: Riska Nursyafitri*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Membicarakan masalah emansipasi yang dikaitkan dengan peran aktif wanita di ranah publik selalu menarik untuk didiskusikan. Pro dan kontra adalah sebuah kewajaran atas argumentasi dari masing-masing pihak. Sebagian orang berpendapat bahwa gelombang emansipasi dimulai sekira abad 17 dimana dua wanita Amerika, Mercy Otis Warren dan Abigail Smith Adams yang merupakan isteri petinggi Amerika, menuntut hak pekerjaan dan hak pemilihan bagi wanita.

alquran muasir

Abigail Smith Adams yang merupakan isteri dari presiden kedua Amerika, dengan lantang menulis surat untuk suaminya pada waktu kongres seluruh Amerika guna menyusun Undang-Undang Dasar Negara Amerika. Surat tersebut berisi tuntutan, bukan hanya hak suara dan hak perwakilan, ia juga menuntut terbukanya gerbang sekolah bagi kaum wanita.

“Satu negara, yang mau menjelmakan pahlawan-pahlawan, ahli-ahli Negara dan ahli-ahli falsafah, haruslah mempunyai ibu-ibu cerdas di tempat-tempat yang terkemuka”, demikian sebagian tuntutannya.

Aksi keduanya tidak seratus persen berhasil.Namun cukup ampuh membuka jalan bagi kaum wanita mengenyam bangku sekolahan.Walaupun hak suara belum diberikan sepenuhnya di seluruh wilayah negara bagian Amerika.

kalender

Semangat perjuangan wanita-wanita Amerika ini sampai ke telinga wanita Perancis.Para wanita hartawan Perancis pun berontak, akhirnya dibuka jugalah sekolah-sekolah untuk wanita disana.Pendidikan sudah didapat, namun perihal politik masih menjadi hal tabu dikalangan wanita.Tidak hanya diam, wanita-wanita hartawan itu kembali mengadakan aksi dengan menyebarkan brosur-brosur, surat-surat tuntutan agar wanita diberi hak menjadi anggota Majelis Perwakilan.

Namun ternyata, gerakan wanita tersebut tidak benar-benar diperuntukkan bagi keseluruh kaum wanita. Wanita hartawan menuntut bagi kalangannya. Sedangkan wanita proletar tetap harus berjuang membela kepentingannya sendiri.

Pada tanggal 16 Oktober 1789 telah berkumpul 8.000 wanita jelata yang kebanyakan dari kalangan buruh. Berarak-arak menuju Versailles, istana Raja.Bersama ratusan pria dan wakil-wakil Majelis Nasional, mereka mengemukakan kesengsaraan, kemiskinan, ketidaknyamanan, dan keinginan mendapat perbaikan.Raja didesak menandatangani naskah tentang “Hak-hak manusia” yang telah disiapkan. Raja kalang kabut, bingung harus berkata apa. Ia merasa kemuliaan mahkotanya terancam.Karena dengan menandatangani naskah itu berarti memvonis mati kepada hak Raja yang tak terbatas.Diluar kerajaan, masih menunggu ribuan wanita yang tetap bertahan meski hujan turun dengan lebat. Apa boleh buat, Raja pun menandatangani naskah tersebut. Oleh karena desakan wanita Paris itu, tanggal 6 Oktober adalah hari kehormatannya kaum wanita di Perancis.

Walaupun pada kenyataannya, hak wanita dalam perpolitikkan masih saja dibatasi.Namun pada hari itu menjadi tanda bahwa wanita Perancis telah bangkit dan berani bersuara.Saat itu menjadi awal berdirinya perserikatan-perserikatan wanita yang menjadi alat pergerakan wanita Perancis selanjutnya. Dari situ, didapat satu nama yang tercatat dalam buku sejarah, yaitu Olympe de Gouges. Pendekar dari kalangan bawah yang merupakan organisator dan agitator wanita penuh aksi yang pertama dalam sejarah pergerakan revolusioner. Ia berhasil menyulut api semangat para wanita. Ia menghanguskan alasan-alasan pihak pria yang menolak wanita dari pekerjaan masyarakat dan Negara.

Boleh jadi Mercy Otis Warren dan Abigail Smith Adams adalah  kalangan atas yang lebih dulu mengeluarkan ide, namun Olympe de Gouges adalah wanita pertama yang mengorganisasikan tuntutannya menjadi ide dan merupakan wanita yang berasal dari kalangan bawah.

Tapi tetap saja, kaum pria menganggap penentangan ini menyalahi kodrat alam. Pria merasa aksi penentangan wanita ini adalah aksi pemberontakkan terhadap kodrat. Kaum pria saat itu menganggap kodrat wanita adalah di rumah. Mengurusi segala hal rumah tangga, hal tentang anak, bersolek, dan melayani suami. Anggapan pria ini menitikberatkan bahwa kedudukan wanita tidak boleh lebih dari pria. Kaum pria di Paris pun saat itu tetap bersitegas bahwa organisasi wanita di Paris harus dibubarkan. Kaum pria masih menentang pemberontakan wanita yang dianggapnya sama sekali tidak dapat mengurusi masalah politik dan urusan pemerintahan yang sulit digapai otak wanita.

Pada saat itu, perjuangan dan pergerakan wanita benar-benar menuntut persamaan karena memang terdapat perlakuan yang tidak manusiawi terhadap wanita oleh kaum pria.Wanita berontak karena nyatanya wanita pun benar-benar memiliki hak untuk mendapat kehidupan dan pendidikan yang layak.Wanita bukan hanya sebagai pemanis rumah tangga, atau sekedar memenuhi segala kebutuhan pria. Hal ini sejalan dengan yang dituntut Abigail Smith Adam dan nampaknya latar belakang inilah yang banyak tidak dipahami oleh wanita masa kini.

Dari pergerakan diabad pertengahan itulah, kehidupan dan pemikiran wanita berkembang hingga muncul yang namanya emansipasi. Tapi semangatnya tak lagi sama seperti awal pergerakannya. Banyak yang memahami emansipasi sekedar penuntutan hak wanita agar disamakan dengan pria dalam berbagai hal, bahkan disemua hal.Saat ini wanita sangat berbangga dengan segala pencapaian karir di luar rumah.Pria dan wanita seakan selalu menciptakan persaingan.Wanita seolah kehilangan jati diri. Banyak wanita yang tidak sadar ada hal yang lebih penting daripada sekedar penyamarataan kemampuan.

Bagaimana dengan emansipasi di Indonesia . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment