Hukum Tanpa Pandang Bulu (Tafsir Surat An-Nisaa ayat 58 )

alquran

Oleh : Dr. H. Aam Amiruddin

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

alquran muasir

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

***

Masalah penegakan hukum adalah hal yang sering kita keluhkan di negara kita. Kita sering kali membaca dan mendengar pemberitaan mengenai ketidakadilan hukum yang dipertontonkan oleh aparat di negara tercinta ini. Ini membuktikan bahwa hukum di republik ini masih pandang bulu.

kalender

Hukum terasa mandul ketika menghadapi para pejabat, kalangan elit tertentu atau para wakil rakyat.  Tetapi anehnya, hukum baru berlaku secara tegas pada kasus yang menimpa rakyat kecil tak berdaya alias tidak berduit.

Ayat ke-58 surat An-Nisaa akan kita tafsirkan tersebut merupakan gambaran peradilan Islam yang tanpa pandang bulu, tidak bisa dibeli, dan paling penting adalah kualitas yang seharusnya dimiliki oleh penegak hukum yang menjadi nakhoda peradilan. Ayat tersebut kurang lebih memuat dua unsur penting dalam sebuah peradilan. Pertama adalah sumber daya manusia (SDM) peradilan dan kedua adalah sistem peradilan. Nah, mari kita coba ulas bagaimana pesan-pesan Al-Quran mengenai hukum dan peradilan (sebagaimana diungkapkan dalam salah satu ayat surat An-Nisaa tersebut) dari sudut pandang para mufassir sekaligus menelaah indahnya peradilan yang dilandaskan pada syariah (Al-Quran dan sunnah).

Ayat ke-58 surat An-Nisaa tersebut diturunkan sehubungan dengan kejadian Futuh Mekah (penaklukan Mekah ) yang dilakukan oleh Rasulullah bersama para sahabat. Beberapa saat setelah Mekah berada dalam kekuasan Rasulullah Saw., beliau meminta salah seorang penjaga Kabah (saat itu diemban oleh Utsman bin Talhah) untuk meyerahkan kunci pintu Kabah. Utsman keberatan dan menahan diri untuk memberikan kunci tersebut kepada Rasulullah. Namun, ketika Rasulullah kembali memintanya, Utsman pun memberikannya. Kemudian, Rasulullah masuk ke dalam Kabah dan beliau menemukan patung Nabi Ibrahim yang memegang piala yang terbuat dari kayu. Lalu, Rasulullah saw. menghancurkan patung tersebut. Setelah Rasulullah keluar menemui para sahabat, kunci itu pun dikembalikan kepada Utsman seraya membacakan ayat ke-58 surat An-Nisaa.

Dalam ayat tersebut, sebelum membahas perihal hukum dan peradilan, terlebih dahulu Allah mengungkapkan perihal amanah dengan kalimat-Nya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” Jika kita tarik benang merah, maka boleh jadi ayat ini memberi isyarat bahwa persoalan hukum pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari pembahasan amanah. Secara bahasa, amanah sering kali kita artikan sebagai titipan. Orang yang amanah berarti orang yang jujur dan hati-hati dalam menjaga titipan. Misalnya, seseorang yang menjadi staf keuangan akan dikatakan amanah jika pengelolaan dan pembukuan keuangan dilakukan dengan tertib dan tidak ada indikasi kebocoran.

[AdSense-A]

Berbicara amanat berarti berbicara tiga komponen, yaitu pemberi amanah, orang yang diamanahi, dan sesuatu yang diamanahkan. Amanah dalam ruang lingkup ayat tengah kita tafsirkan pun kurang lebih memuat ketiga komponen tersebut. Komponen pertama bisa berarti Allah dan juga manusia, komponen kedua adalah manusia, dan komponen ketiga bentuknya bisa bermacam-macam. Jika Allah sebagai pemberi amanah, maka yang diamanahi adalah hamba-hamba-Nya, dan yang diamanahkan adalah hak-hak Allah untuk dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya. Shalat, zakat, shaum, kejujuran, akhlak mulya, dan lain sebagainya merupakan amanah Allah yang mesti dipenuhi oleh setiap hamba. Jika amanah terjadi antara sesama manusia sebagai komponen pertama dan kedua, maka yang diamanahkan kurang lebih berupa barang titipan yang harus dijaga dan diberikan atau disalurkan kepada yang berhak.

Dapat kita bayangkan jika amanah itu betul-betul dipenuhi oleh segenap manusia, khususnya bangsa Indonesia yang merupakan komponen yang diamanahi, maka dipastikan tidak akan ada satu pun kasus hukum akan muncul. Kalaupun ada, maka persoalan hukum akan dengan segera terselesaikan karena pemegang amanah (hukum) dapat menegakkan hukum dengan sebaik-baiknya. Hukum akan diberlakukan berdasarkan kearifan dan pertimbangan kemaslahatan bersama. Para pemangku amanah pun akan betul-betul memahami betapa beratnya siksa yang akan menimpa jika dengan segaja menyelewengkan amanah tersebut. Rasulullah Saw. bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقْتَصَّ لِلشَّاةِ الْجَمَّاءِ مِنْ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ تَنْطَحُهَا وَقَالَ ابْنُ جَعْفَرٍ يَعْنِي فِي حَدِيثِهِ يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ

“Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: ‘Pada hari kiamat kelak masing-masing hak akan dikembalikan kepada yang berhak menerimanya, hingga seekor kambing yang bertanduk akan diqishash atas perbuatannya menanduk kambing yang tidak mempunyai tanduk’.” (H.R. Ahmad)

Setelah membuka ayat dengan kalimat mengenai amanah yang menjadi tonggak terselenggaranya peradilan yang tidak memihak, kemudian Allah menegaskan kembali dalam kalimat berikutnya, “…dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil…” Merupakan sebuah pesan nyata bahwa dipastikan ada orang yang tetap saja berkhianat pada amanah yang diberikan meski sudah ditekankan untuk selalu menjaganya. Dengan demikian, sekarang bola panas itu ada pada sistem peradilan. Peraturan peradilan yang ada harus betul-betul bisa menjaga agar amanah sampai kepada yang berhak. Pihak yang terlibat dalam peradilan itulah yang kini diserahi amanah lebih berat lagi. Beratnya sebuah peradilan yang dilakukan dengan adil (karena bukan per-adil-an atau peng-adil-an namanya kalau tidak adil), tentu membawa dampak yang berat pula bagi pelakunya (pahala yang melimpah ). Mari kita cermati beberapa hadits berikut ini:

عَنِ ابْنِ أَبِى أَوْفَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَعَ الْقَاضِى مَا لَمْ يَجُرْ فَإِذَا جَارَ وَكَلَهُ إِلَى نَفْسِهِ

“Dari Ibnu Abi Aufa ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa bersama seorang qadhi (hakim) selama ia tidak berbuat aniaya dalam keputusannya. Maka apabila ia berbuat aniaya, Allah menyerahkannya pada dirinya’.” (H.R. Baihaqi)

Dalam sebuah atsar disebutkan, “Adil dalam satu hari sama artinya dengan ibadah dalam 40 tahun.” Sebaliknya, jika keadilan dalam sebuah hukum masing compang camping, maka pihak yang bertanggung jawab akan menjadi orang pertama yang akan merasakan getirnya api Jahanam yang tiada tandingannya.

Adil tidak selalu bermakna sama rata meski memang sebagian kecil dari adil itu adalah sama rata. Adil lebih dimaknai sebagai proporsionalitas dalam menempatkan suatu perkara. Adil berarti menempatkan yang salah pada yang salah dan yang benar pada yang benar.

Begitulah Allah memberikan pelajaran berharga agar kita senantiasa menjaga amanat dan berlaku adil, khususnya dalam hal hukum. Tidak semata Allah mengajarkan dan memerintahkan itu semua kecuali di dalamnya ada sejumlah kemanfaatan, kemaslahatan, dan menjamin ketentraman hidup umat manusia. Yakinkanlah bahwa Allah senantiasa memantau apapun yang diperbuat hamba-Nya. Allah Maha Mendengar atas bisik-bisik jahat dalam mempermainkan dan menjual-belikan hukum dan peradilan. Allah pun Maha Mengetahui manusia-manusia yang hendak mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya.

Wallahu a’lam bishshawab.

[AdSense-A]

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment