Berbagi Tugas Dengan Suami

keluarga

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

 

 

Kerepotan dalam rumah tangga khususnya yang dialami kaum ibu yang sudah mempunyai anak-anak apalagi masih kecil-kecil sungguh sangat terasa. Apalagi jika rumah tidak ada pembantu atau pengasuh maka dibayangkan kerepotannya. Jika ibu mengalami hal demikian maka saatnya bagi suami untuk turun tangan membantu meringankan bebannya. Beberapa poin ini kiranya dapat dipahami bahwa peran suami istri dalam rumah tangga adalah saling melengkapi.

promoawaltahun
  • Tanggung jawab Ayah dominan pendidikan, kasih sayang.

Yuk kita sejenak melihat bagaimana rumah tangga Rasulullah saw dibangun:  “Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada suri-tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan ( keridaan ) Allah , hari Akhirat dan ia banyak mengingat Allah.” ( QS Al Ahzab , 33 : 21). “Juga pada diri nabi Ibrahim as. Sesungguhnya ada bagimu suri tauladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya  “ ( QS Al Mumtahanah  60 : 4)

Dari sahabat Anas ra. ia suka membantu Rasulullah saw. Katanya bahwa Rasulullah saw adalah seorang suami dan ayah yang paling tulus dan setia , ia menggambarkan , “ Saya tidak pernah melihat seseorang yang dapat mencintai anggota keluarganya lebih besar dari pada Rasulullah saw. “ ( HR. Bukhari )

Rasulullah saw selalu menegakkan shalat, “Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya “ (QS 20 :132), Perlu disadari bahwa waktu yang tepat mengajarkan shalat adalah sejak batita dan balita. Mereka konsisten diajak, dibiasakan, dimotivasi sehingga saat memasuki usia 7 tahun mereka sudah terbiasa, “Suruhlah anak-anakmu shalat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun ( bila malas ) & pisahkanlah tempat tidur mereka ( putra-putrimu ) (HR.Abu Daud ) , perlu diketahui bahwa Rasulullah saw tidak pernah memukul siapa pun. Disampaikan Abdullah bin Abbas Ra,bahwa Rasulullah saw. bersabda  , “ Sayangi-lah anak-anakmu dan berilah mereka pendidikkan yang pantas. “( HR. Ibnu Majah ).Tekunilah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka.” (HR.Ibnu Majah)

kalender

Dari sejumlah keterangan di atas, terlihat jelas bahwa peran ayah sangat proaktif, “ Tidak ada pemberian yang paling utama dari seorang ayah kepada anaknya , selain ( pemberian ) berupa akhlaq yang baik . “ ( HR. Tirmidzi ).

  • Tanggung jawab nafkah Ayah dan beri nama anak yang baik

Dari Abu Qulabah menyatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda , “ Siapakah yang paling pantas menjadi orang yang diberi pahala ( oleh Allah SWT.) daripada orang-orang yang mengeluarkan hartanya untuk anak-anaknya agar mereka selamat dari pada kemungkinan mengemis/meminta-minta dan menjadi makmur”          ( HR.Tirmidzi )

Kewajiban ayah adalah memberi nama anak yang mengandung doa dan harapan yang baik, Rasulullah saw berkata , “ Engkau akan dipanggil dengan namamu dan nama ayahmu , Jadi berilah nama-nama yang bagus untuk anak-anak-mu.” (HR.Abu Dawud )

Apabila ayah sedang  sibuk mencari nafkah, maka tentunya kalau memang dibutuhkan ibu darurat mencari pendamping pengasuh untuk mengasuh anak ibu sementara waktu, ayah bisa saja darurat mencarikan partner untuk menjaga anaknya, dan mengeluarkan ekstra biaya untuk pendamping pengasuh tersebut. Dengan catatan tentu di bawah pengasuhan dan pengawasan Anda berdua dengan suami. Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah lalu kikir dalam menafkahi keluarganya.( HR.Adailami )

  • Anak adalah amanah orang tua dan perlakukan dengan adil

Anak 4 orang, maka empat kepribadian, secara personal  mereka memang butuh perhatian, kasih sayang dan waktu,  sesuai dengan perkembangananya. Maka dibutuhkan niat  kuat, iman kepada Allah swt dan akhirat, meneladani Rasulullah saw dalam membina rumah tangga, dengan menjadikan mereka investasi akhirat. Jangan sampai terbetik niat jahat, menyesal punya anak, seperti ada kasus kriminal seorang ibu yang tega membunuh anaknya karena kufur nikmat dan tidak tahan atas ujian materi, ujian tidak ada komunikasi dengan suaminya.

Firman Allah swt. “ Jangan lah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan , Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya supaya kamu memahami-nya.” ( QS  Al An’aam  6 : 151).

Senantiasa jaga keramahan dan kelembutan seletih apa pun kondisi ibu dan bapak ketika berinteraksi dalam keluarga.Ketahuilah bahwa keramahan itu merupakan akhlak yang baik . Kebalikan dari keramah tamahan adalah kata–kata kasar,kotor, kekejaman,.“ Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri …. ia sangat ingin keselamatan bagimu dan suka berbelas kasihan dan suka kasih-sayang, lemah lembut  terhadap orang yang beriman.“  (QS At Taubah  9 : 128)

  • Membangun Rumah tangga dengan tanggung jawab dan keteladanan

“ Hai orang-orang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” ( QS At Tahrim  66 : 6 ) “ Barang siapa memberi  teladan didalam islam dengan teladan yang baik, maka baginya memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya dengan tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa memberi teladan didalam islam dengan teladan yang buruk , maka ada baginya memperoleh dosanya & dosa orang yg mengerjakannya dengan tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka. “ ( HR. Muslim & Nasai.)

Maka  tugas ibu semampunya memberi arahan, teladan  nasehat yang terbaik bagi anak-anak  juga ajakan berbuat kebaikan dalam kasih sayang. Wahai para Isri jadilah teladan yang baik bagi anak-anak putrimu , dengan menjadi istri sesuai ketentuan yang telah diatur Allah swt dalam Al Qur’an  dan Sunnah RasulNya, Insyaallah , kelak dikemudian hari anak lelaki akan bisa menjadi suami yang baik bagi para istri (sebaliknya)

Mendidik anak sejak dini Sabda Nabi s.a.w.: “Tidak ada seorang bayi yang lahir melainkan ia lahir di dalam keadaan fitrah. Maka kedua-dua ibu bapanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Riwayat Bukhari & Muslim) Allah berfirman: “Peliharalah diri kamu dan ahli keluarga kamu dari api neraka…” (QS At-Tahrim: 6) Memberi contoh teladan, merawat penuh cinta kasih dan kelembutan dan senantiasa mendoakan anak-anak. Ridhai anak-anak karena keridhaan Allah bergantung pada keridhaan ibu bapa dan Rasulullah s.a.w. menekankan bahawa syurga terletak di bawah tapak kaki ibu. Oleh itu amat penting seorang ibu meri dhai anaknya demi kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Kasih sayang seorang ibu dan juga bapak terhadap anaknya mesti dapat mengatasi dari keletihan dan kemarahannya. Maka hanya dengan ketaqwaan ibu dan bapak bisa bahu membahu mengurus dan membesarkan anak sambil tetap khusyu ibadah, disesuaikan dengan kondisi anak per anak, karena Rasulullah saw pun adakalanya sambil shalat, cucu beliau Hasan dan Husein putranya  Fatimah Azzahra ra dan Ali bin Abi Thalib ra dibiarkan bermain-main di punggung Rasulullah saw, hingga mereka turun sendiri dan dalam keadaan aman nyaman, tidak dijadikan alasan beliau tidak khusyu, beliau tetap khusyu dalam shalatnya. Ingatlah sebuah hadist mengatakan, “Bertaqwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu ” ( HR. Bukhari & Muslim). Kebutuhan anak balita berekspolasi dan berimitasi, semoga anak-anak kelak jadi anak yang shaleh dan shalehah, bertaqwa karena atas izin Allah swt menjadikan orang tua yang shaleh dan sabar mendidik mereka sejak kecil..aamiin [ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Komentar Artikel “Berbagi Tugas Dengan Suami

  1. dewiana

    Tanya Ustad,saya wanita yang sudah pernah menikah,dan akan menikah lagi.apakah boleh saya menikah tanpa bapak saya? Bolehkah wali nikah di wakilkan oleh wali hakim?

Leave a Comment