Anak Terlihat Lambat “Tumbang” ? Coba Kenali Sebab dan Solusinya

251

Oleh: Eddy Fadlyana, dr., SpAK., M Kes

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya dapat tumbuh kembang (Tumbang) dengan baik sesuai dengan usianya. Sebaliknya orangtua selalu merasa khawatir mengenai pertumbuhan anaknya yang dianggap mengalami keterlambatan. Misalnya, mereka sering bertanya mengenai tinggi anaknya kelak ketika ia dewasa. Kekhawatiran ini semakin bertambah, jika ternyata anaknya tidak setinggi teman sebayanya, walaupun tinggi mereka masih dalam kisaran normal dalam potensi genetiknya.

alquran muasir

Seperti kita ketahui bahwa anak memiliki suatu ciri yang khas, yaitu selalu tumbuh dan berkembang (tumbang) sejak saat konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler yang berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan. Jadi, bersifat kuantitas sehingga dengan demikian dapat kita ukur dengan mempergunakan satuan panjang dan satuan berat.

Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT 2010) menunjukan bahwa prevalensi perawakan pendek 32,3% pada balita dan 35% pada anak usia sekolah 5-9 tahun. Sedangkan, gizi kurang atau gizi buruk masih terdapat pada 26% balita. Meski data ini agak “usang” namun rasanya masih relevan dalam kondisian kekinian. Oleh karena itu, kegiatan deteksi pertumbuhan masih perlu terus ditingkatkan.

Deteksi pertumbuhan merupakan kegiatan rutin pelayanan kesehatan, baik di tingkat pelayanan kesehatan dasar atau Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) maupun di tempat rujukan atau Rumah Sakit, yang dilakukan untuk memantau dan menentukan apakah pertumbuhan seorang anak berjalan normal atau tidak, baik dilihat dari segi medis maupun statistik. Anak yang sehat akan menunjukkan pertumbuhan yang optimal, apabila diberikan lingkunagn bio-fisiko-psikosal yang adekuat. Deteksi pertumbuhan dimulai dengan cara pengukuran dan penggunaan kurva pertumbuhan yang baku (standar). Pada umumnya, dokter mulai memikirkan seorang anak mengalami perawakan pendek bila tinggi badan terhadap umur kurang dari persentil ke-5 pada kurva baku, apalagi bila sudah di bawah persentil ke-3 maka upaya mencari penyebab harus segera dilakukan.

kalender
  • Kenali Penyebabnya

Evaluasi perawakan pendek ini sangat dibutuhkan untuk menilai proses pertumbuhan yang terganggu. Diharapkan, dengan menilai pola pertumbuhan serta melakukan beberapa analisis serta pemeriksaan tertentu, kita dapat membedakan apakah gangguan pertumbuhan tersebut patologis atau bukan sehingga kalau diperlukan terapi dapat diberikan lebih awal dengan harapan hasil yang lebih optimal.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab seseorang dengan perawakan pendek, yaitu keturunan (familial), sindrom genetik (kelainan genetik, kelalinan tulang), pertumbuhan intra uterine (dalam kandungan) yang terhambat, gizi kurang, kelainan endokrin, penyakit kronik berat, sindrom deprivasi emosional.

  • Penanggulangan

Berbagai keadaan medis dapat menggangu pertumbuhan dan mengakibatkan perawakan pendek yang patologis, seperti penyakit kronis pada anak, khususnya yang mengenai paru, jantung, pencernaan, dan ginjal. Penyakit-penyakit ini dapat memperlambat pertumbuhan.

Pada anak perawakan pendek akibat kekurangan hormon pertumbuhan, akhir-akhir ini sudah banyak dilakukan pengobatan pemberian hormon pertumbuhan dengan cara disuntikan. Dari berbagai penelitian mutakhir, telah dapat dilihat bahwa hasil tinggi akhir anak yang mendapat hormon pertumbuhan jauh lebih baik dibandingkan prediksi tinggi badan pada awal pengobatan.

Diagnosis dan pengobatan penyakit tersebut, dapat mengembalikan proses pertumbuhan. Selain penyakit kronis, perawakan pendek juga dapat disebabkan oleh nutrisi yang tidak adekuat, terutama jika terjadi pada masa bayi dan pubertas. Berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki perawakan menuju distribusi normal sesuai dengan penyebabnya. Pengobatan anak dengan perawakan pendek harus sesuai dengan dasar penyebabnya. Anak dengan variasi normal perawakan pendek biasanya tidak memerlukan pengobatan sedangkan anak dengan kelainan patologis yang mendasarinya memerlukan pengobatan sesuai dengan penyebabnya.

  • Lakukan Pencegahan

Faktor genetik merupakan modal dasar untuk pertumbuhan. Jadi, kedua orang tua yang memiliki postur tinggi, lebih memungkinkan memiliki anak dengan postur tubuh yang sama atau bahkan lebih tinggi ketika dewasa jika anak mendapat lingkungan yang baik, yang mengakomodir kebutuhan dasarnya.

Memantau pertumbuhan secara berkala merupakan tindakan yang paling mudah untuk mengetahui tinggi seorang anak dalam batas normal atau terjadi kelainan. Belajar dari kemajuan negara-negara tetangga, ternyata nutrisi yang baik serta faktor stimulasi atau latihan merupakan kata kunci untuk meningkatkan tinggi badan suatu generasi, semoga hal ini dapat juga terjadi di negara yang kita cintai ini, tentunya orang tua menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kemajuan negara di kemudian hari.

Meski bentuk fisik bukanlah menjadi ukuran kesempurnaan seseorang namun juga harus disadari bahwa memaksimalkan potensi yang dimiliki adalah salah satu bentuk kesyukuran kepada Allah Swt. Jika potensinya mampu tumbuh kembang dengan memiliki tubuh yang tinggi besar namun normal maka mewujudkannya adalah sebuah bentuk memenuhi amanah-Nya. Dengan juga jika sebaliknya. Selain itu mempunyai fisik yang normal dan sempurna sesuai usianya juga akan mempunyai anak mempunyai rasa percaya diri. Jadi orangtua jangan abai memaksimalkan potensi tumbuh kembang (tumbang) anak. Selamat mencoba. [ ]

 

Penulis adalah pegiat dan konsultan tumbuh kembang anak serta penulis buku.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment