Adab Melayat Orang yang Meninggal (Takziyah)

kematian

PERCIKANIMAN.ID – Kullu nafsin dzaaiqatu-l-maut. Setiap jiwa pasti akan mati dan tidak seorang pun tahu kapan ia akan menghadap Sang Khaliq. Oleh karena itu, bekal amalan harus benar-benar dipersiapkan karena kematian bukan hanya milik orang yang sudah tua.

Sebagai muslim, salah satu kewajiban kita adalah melayat orang yang sudah meninggal (takziyah). Ketika bertakziyah, tentu kita tidak bisa berbuat seenaknya. Ada aturan atau adab bertakziyah yaitu:

alquran muasir

–  Takziyah harus dijadikan sarana untuk merenungi kematian. Kita harus sadar bahwa suatu saat, akan tiba giliran kita untuk meninggalkan dunia ini dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Seringlah bertanya pada diri sendiri, apakah amal kita sudah cukup?

–  Kabarkan berita duka yang kita terima kepada sanak kerabat, teman, dan handai taulan. Hal ini agar semua orang yang mengenal almarhum/ah turut mendoakan agar amalannya diterima di sisi Allah.

–  Membantu pengurusan janazah dan pemakamannya untuk meringankan beban keluarga dan sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka, berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah ra bahwa  Rasulullah Saw bersabda :

kalender

رِقَابِكُمْ عَنْ نَهُ تَضَعُوْ فَشَرٌّ ذلِكَ سِوَى تَكُ وَإِنْ إِلَيْهِ تُقَدِّمُوْنَهَا فًخَيْرٌ صَالِحَةً تَكُ فَإِنْ بِالْجَنَازَةِ أَسْـرِعُوْا

“Segerakanlah jenazah tersebut, sebab jika dia shaleh maka kalian telah mensegerakannya kepada kebaikan, namun jika selain itu, maka kalian telah melepaskan beban keburukan dari diri kalian”.

Disebutkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah bahwa termasuk petunjuk Nabi Muhammad Saw, tidak menguburkan mayit saat terbit dan terbenamnya matahari, dan tidak pula saat matahari berada di tengah langit. Rasulullah Saw menegaskan bahwa menguburkan mayit pada waktu malam tidak dianjurkan kecuali dalam keadaan darurat atau demi kemaslahatan yang lebih kuat, hal ini didasarkan pada kesimpulan para ulama setelah mengumpulkan beberapa hadits.

[AdSense-A]

–  Dianjurkan mengantarkan janazah sampai jenazah tersebut dikuburkan. Rasulullah Saw bersabda :

“Barangsiapa yang menghadiri penyelenggaraan jenazah sampai dishalatkan, maka dia akan mendapatkan pahala sebesar satu qiroth, dan barangsiapa yang menghadirinya sampai dimakamkan maka dia mendapat dua qiroth, beliau ditanya: Berapakah dua qiroth tersebut? Rasulullah Saw menjawab: Seperti dua buah gunung yang besar”.

Masih menurut Ibnul Qoyyim, di antara tuntunan Rasulullah Saw dalam mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya adalah:

a.Jika seseorang berjalan, maka hendaklah berada di depan jenazah.
b.Jika berkendaraan, maka hendaklah berada di belakang jenazah.
c.Mempercepat jalan dan tidak diperkenankan berjalan dengan pelan.
d.Tidak mendahului duduk sampai jenazah tersebut diletakkan di atas tanah.

Kita juga dibolehkan mendahulukan shalat jenazah jika tidak dikhawatirkan habisnya waktu shalat fardhu. Berkaitan dengan liang lahat, kita diperintahkan untuk memperdalamnya serta memperluas kuburan dari sisi kepala dan kedua kaki mayit.

–  Tidak menangisi mayit dengan suara yang tinggi, meratapinya, menyesali kematiannya, meratapi jasa-jasanya bahkan sampai melakukan sesuatu di luar kendali seperti merobek-robek kantong baju.

–  Memuji mayit dengan menyebut-nyebut perbuatan dan sifat baiknya dan tidak menyebut keburukannya, berdasarkan sabda Nabi Saw:

“Janganlah engkau mencaci orang yang telah meninggal sebab mereka telah digiring kepada apa yang telah mereka perbuat”.

–  Memintakan ampun bagi orang yang telah meninggal setelah dikuburkan. Dari Ibnu Umar ra menceritakan bahwa apabila Rasulullah Saw selesai menguburkan janazah, maka beliau berdiri di atas kuburnya kemudian bersabda:

“Mintakanlah ampun bagi saudaramu dan berdo’alah baginya agar diteguhkan sebab dia sekarang sedang ditanya”.

– Takziah tidak memiliki hari dan waktu yang khusus, namun disyari’atkan dari sejak kematian seseorang, baik sebelum shalat atau sesudahnya, sebelum dikuburkan atau setelahnya, dan menyegerakannya lebih baik, pada saat musibah tersebut terasa berat.

– Dianjurkan meringankan beban keluarga orang yang telah meninggal dan membuatkan makanan bagi mereka, berdasarkan sabda Nabi :

“Buatlah makanan bagi kelurga Ja’far sebab telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka”.

Adat atau kebiasaan masyarakat saat ini, yang membuat makanan justru keluarga sang almarhum/ah. Padahal Rasul tidak pernah mengajarkan seperti itu. Rasul juga tidak pernah mengajarkan tahlilan.

– Bersedekah untuk mayit baik berupa harta atau pun doa.

Penulis : Sevi

[AdSense-A]

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment