Menyikapi “Broadcast” yang Hubungkan Musibah dengan Ayat Al-Qur’an

ponsel

Saat ini banyak beredar di broadcast (BC) khususnya di media sosial seperti Facebook, Whatsapp atau BBM yang menghubungkan musibah atau fenomena alam dengan ayat-ayat tertentu. Sekilas nampak ada kesesuaian antara kejadian musibah dengan isi ayat Al Quran tersebut. Bagaimana pendapat ustadz apakah ini dibenarkan dan ada dalilnya? Terima kasih.

(Ulil)

alquran muasir

 
 
 
Tak dapat dipungkiri, di zaman sekarang ini dengan kemajuan teknologi komunikasi, penyebaran informasi menjadi sangat cepat. Salah satunya adalah ada orang yang suka menghubungkan sesuatu kejadian tanggal, bulan hingga tahu bahkan dengan waktunya dengan ayat tertentu dalam Al Quran.

Jika dibaca dalam ayat yang dimaksud memang menjelaskan sesuatu yang terjadi tersebut. Ada yang berkesuaian antara ayat dengan kejadian tersebut, namun ini bukan sebuah kebenaran yang dimaksud sang penyebar BC, melainkan sebuah kebetulan semata.

Sesuatu yang bersifat kebetulan itu bukanlah dianggap sebagai sebuah ilmu yang harus dipercayai. Al Qur’an sendiri ada 6 ribuan ayat dan 113 surat sehingga jika dihubungkan dengan suatu peristiwa (tanggal,jam dan tahun) kemungkinan besar peluangnya ada. Jika ada korelasi antara ayat dan kejadian maka bisa jadi berhubungan namun kan kejadian tersebut hanya sebagian saja.

kalender

[AdSense-A]

Satu hal lagi ketika mendapat BC maka jangan langsung menyebarkannya (share) kepada orang lain. Kita khawatir itu adalah sebuah kebohongan dari sumber tidak kita ketahui keakuratannya. Namun jika di BC jika itu berasal dari orang atau lembaga yang terpercaya, maka bisa saja kita ikut mengsharenya.

Misal, tentang debu vulkanik yang berbahaya bagi kesehatan jika itu berasal dari lembaga atau orang yang kompetan maka boleh dipercaya dan disebarkan namun sekiranya ragu-ragu sebaik tahan untuk tidak mengesharenya.

Demikian juga dengan urusan ibadah jika ada BC harus membaca surat tertentu, shalat, dzikir dan sebagainya sebaiknya tanya atau konfirmasi kepada yang ahlinya atau ulama. Kita dituntut untuk cerdas, arif dan bijaksana menelusuri sumber terpercaya terlebih dahulu. Sekiranya meragukan maka bertanyalah kepada ahlinya. Apalagi jika dikaitkan dengan ibadah maka sumber atau dalilnya harus jelas dan shahih. Wallahu’alam. [ ]
* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

[AdSense-A]

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment