Mengawali Hijriah: Selalu Ada Harap

bulan baru

Setiap akan tiba tahun baru, mindset kita sudah terfokus pada suasana yang meriah, aneka kembang api, pesta pora, dan sejumlah hiburan lainnya akan mengawali langkah di tahun baru. Yah, itulah fenomena pesta tahun baru masehi, yang gebyarnya selalu terasa bersamaan dengan hari natal sebelumnya.

Berbeda dengan pergantian tahun baru Islam, -meski- gebyarnya dirasa kurang ‘merasuk’ pada setiap masyarakat muslim, namun –sesungguhnya- substansi hijrah itulah yang diharapkan mampu menjadikan kita memiliki harap yang lebih besar dibanding dengan perayaan tahun baru masehi. Harapan baru tentang bagaimana –sejatinya- seorang muslim melangkah, tentang bagaimana seorang Haji mempertahankan kemabrurannya. Dan tentang bangsa yang harus keluar dari jeratan sakit yang berkepanjangan. Harapan baru di awal berkahnya Hijriah.

alquran muasir

Hampir disetiap peralihan tahun baru, setiap kita selalu memiliki harapan lebih baik dalam melangkah. Beralih dari hal tidak baik menuju yang lebih baik, dari kondisi menjenuhkan pada situasi yang penuh dengan inspiratif. Dan dari hal-hal yang berbau usang menuju kondisi serba anyar. Pola kerja, sistem kerja, dan hal-hal “kata kerja” inilah yang –sesungguhnya- terlampau usang untuk dibicarakan. Tetapi yang patut dijadikan inspirasi dalam mengawali tahun baru justru berada pada kata sifat ‘Semangat’ dan ‘Harapan’. Yah, bagaimana konteks semangat dan harapan itu dapat menguasai setiap jejak yang akan terpijaki.

Bukan hanya di awal tahun baru tentunya semangat dan harap itu harus tetap terjaga. Tetapi menjadikan tahun baru sebagai momentum re-charge. Semangat Baru adalah sesuatu yang sejatinya berkobar di setiap mengawali tahun baru. Jika semangat telah terpatri, maka apapun yang dikerjakan akan sangat mudah dan penuh dedikasi. Itulah kenapa Umar bin Khattab mencetuskan ide pembuatan kalender Hijriah, sepenuhnya karena dilandasi semangat keislaman yang sangat kuat.

[AdSense-A]

kalender

Begitu pula dengan Sultan Shalahudin Al-Ayubi, ketika menjadi Panglima perang Islam saat menghadapi kaum salibis, ia membakar semangat umat Islam yang pada saat itu terkesan berada pada titik stagnan. Sultan Shalahudin menabuh perang dengan mencetuskan sebuah perayaan ‘Maulid Nabi’ yang tak pernah ada sebelumnya.

Dengan perayaan itu, Sang Sultan berharap semangat umat Islam kembali naik dengan mengenang sekaligus merefleksi bagaimana perjuangan Rasulullah dalam menegakkan agama Islam. Begitu juga dengan Panglima Thariq bin Ziyad yang mampu menguasai Spanyol dengan membakar satu-satunya kapal laut milik umat Islam setelah di kepung oleh tentara Nasrani di pesisir pantai. Ide pembakaran itu tiada lain mengobarkan semangat juang tentara Islam untuk menghadapi musuh yang sudah di depan mata. Walhasil, Islam berhasil masuk dan menguasai Andalusia.

Sejarah dan pembelajaran di atas, tentunya mengandung hikmah yang sangat dalam di mata umat Islam. Betapa pentingnya mencipta dan memelihara semangat dan memiliki harap, karena tanpa semangat dan harapan, mustahil Islam akan berada di belahan bumi yang secara letak geografis sangat sulit tuk disinggahi.

Jika pada peralihan tahun baru hijriah ini, kita tidak memiliki harap dan semangat dalam melangkah, maka peristiwa besar dalam dunia Islam itu kita lewatkan seperti hari biasa saja, flat dan tak bergairah. Tidak menjadikan momentum Hijriah sebagai tolak ukur perubahan sikap. Setidaknya, -pada kesempatan itu- kita berharap bahwa tahun depan semua langkah kita masih tetap terjaga dan terberkahi.

(Teguh A. Deswandi,  Mantan Ketua Ikatan Alumni Pesantren Persatuan Islam 1 & 2 Bandung (IAPPI 2000))

[AdSense-A]

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment