Wahai Generasi Islam, Mengapa Masih Menunda Menikah ?

3-a

Oleh: M. Iqbal*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Belum lama ini masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kabar pernikahan putra sulung dai kondang KH. Muhammad Arifin Ilham. Bukan apa-apa sebab putra pimpinan Majelis Adz Dzikra tersebut yakni Muhammad Alvin Faiz bdikabarkan baru berusia 17 tahun sementara yang sang wanita mualaf bernama Larrisa Chou yang berganti nama menjadi Siti Raisya juga masih 19 tahun.

alquran muasir

Pernikahan tersebut mengundang berbagai spekulasi khususnya di jagad lini masa (netizen). Ada yang setuju, kagum dan salut dengan keputusan besar tersebut dimana diusia muda begitu mereka sudah berani membangun rumah tangga. Namun ada juga netizen yang berkomentar miring tentang mereka.

Meski begitu sebagai sesama saudara muslim tentu sikap terbaik adalah mendoakan keduanya menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan senantiasa penuh rahmah. Sebab dalam ajaran Islam menikah adalah jalan terbaik dan mulia ketimbang pacaran yang penuh dosa dan mendatangkan kemurkaan Allah.

Selain itu fenomena pernikahan Alvin dan Larrisa juga menarik untuk dicermati sebab diluaran sana banyak kaum muda yang lebih memilih untuk hidup menjomblo atau bahkan hubungan tanpa status bahkan sibuk dengan pacaran yang tidak ada komitmen untuk mengakhiri dengan pernikahan. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan baik dalam masyarakat khususnya para orangtua yang tega membiarkan putra putrinya berpacaran, padahal jelas hukumnya haram.

kalender

Ada beberapa alasan yang menyebabkan seseorang untuk menunda menikah. Meski setiap orang mempunyai ragam alasan namun secara umum alasan ini yang kerap mengemuka.

  1. Belum Cukup Fulus

Tentu semua orang mengidamkan sebuah pernikahan yang baik. Tapi karena peristiwa ini sangat ‘sakral’ bagi beberapa orang, hingga banyak dari mereka menempatkan pernikahan di bagian akhir episode hidup mereka. Salah satu alasan utama biasanya dikaitkan dengan urusan ekonomi. Soal belum mapan, penghasilan belum cukup, atau belum memiliki pekerjaan tetap kerap muncul. Masih lumrah dalam benak kebanyakan orang, bahwa menikah dan berumah tangga pastilah ‘menyedot’ biaya yang tak sedikit. Sehingga memerlukan modal besar pula untuk memulainya.

Kekhawatarian eknomi macam ini sangatlah wajar. Bahkan, disinyalir faktor ekonmis merupakan pengganjal utama seseorang menunda pernikahan. Terdapat pola pikir yang sangat keliru dibenak masayrakat kita, yakni pola pikir linear. Misalkan, biaya hidup bila seorang adalah dua juta maka bila dua orang harus empat juta dan seterusnya. Nah, dengan berpikir seperti itu banyak orang beranggapan bahwa pernikahan dan berkeluarga sangat membebani secara ekonomi. Selama pola pikir dan gaya hidup ala kapitalis macam ini masih mengakar, sepertinya akan sulit bagi para pemuda Islam untuk melangkah ke jenjang pernikahan di usia muda.

Sebenarnya bila hendak kita telaah lebih dalam, nilai-nilai ekonomis yang tinggi malah muncul dari hal sepele yang bahkan tidak terlalu penting. Misalkan, para calon suami-istri di buat takut oleh biaya resepsi pernikahan yang begitu mahal. Padahal, walimah yang diisyaratkan Islam tentu tidak sampai ‘bermegah-megahan’ seperti itu. Kita telah terlanjur terperangkap dalam budaya materialisme yang kita buat sendiri. Bagaimana tidak, di zaman sekarang semua prestasi dan tolak ukur kehidupan di hitung melalui materi. Seseorang dikatakan sukses bila ia mempunyai materi yang lebih dari orang lain. Pun demikian dengan membina keluarga, ukuran serba materialisme justru malah mengikis nilai-nilai agung pernikahan itu sendiri.

Pernikahan semula punya kedudukan mulia yang bernilai ibadah luar biasa, digeser maknanya oleh budaya materialisme menjadi hubungan ekonomis antar insan semata. Makin rendahnya pemahaman akan keagungan ibadah ini menjadikan pernikahan terlihat sangat membebani. Tentang keutamaan menikah Rasul pernah bersabda,

Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah  maka menikahlah dikarenakan  dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan  dan menjaga kemaluan … (HR. Bukhari).

Tujuan semula pernikahan dalam Islam adalah agar umat terhindar dari fitnah dan bahaya zina. Selain itu, bukankah dengan pernikahan kita akan mendapatkan keturunan? Dan salah satu amal yang tak terputus adalah doa dari anak shaleh.

Tapi yang terjadi sekarang adalah pengkerdilan makna pernikahan. Bahkan, terkadang masyarakat dan para orang tua pun sama-sama mengusung visi materialisme. Mereka berkata ingin yang terbaik bagi anak-anak mereka dengan ukuran dan tolak ukur yang keliru. Coba perhatikan, berapa banyak orang tua yang memerhatikan urusan agama saat menilai calon suami bagi putrinya? Saya rasa tidak banyak. Biasanya, pertanyaan yang kerap muncul adalah; “Kerja dimana? Apa sudah punya penghasilan tetap? Berapa gaji perbulannya?” Sangat jarang yang memerhatikan kualitas iman dan agama dari calon menantu. Mereka berpikir bahwa materilah yang mampu menjamin anak-anak mereka kelak menjadi pasangan yang berbahagia. Kebiasaan inilah yang kemudian diwariskan secara turun-temurun kepada anak-anak mereka : berhala-berhala materialisme.

  1. Belum Ketemu Yang Cocok

Tak dipungkiri bahwa salah satu alasan orang adalah karena keduanya menemukan kecocokan satu dengan yang lain. Kecocokan itu seperti soal hobby, pekerjaan, dan cocok sesuai yang idamkannya. Dalam ajaran Islam juga ada salah satu syaratnya adalah sekufu ( sederajat atau lebih pasnya semisi dan visi). Namun ini bukan berarti harus seimbang dalam harta,kepribadian, hobby dan sebagainya. Tepatnya adalah seimbang dalam pemahaman keagamaan.

Sikap pilih-pilih juga akan membuat pemuda atau pemudi lebih lama dalam menikmati kesendirian. Tak dipungkiri bahwa setiap orang pasti menginginkan pasangan yang sempurna sesuai dengan kriteria yang diidamkannya. Namun yang sering dilupakan adalah kenyataan hidup bahwa tidak ada manusia yang sempurna yang sesuai impian. Ada kelebihan pasti mempunyai kekurangan atau kelemahan yang tak terlihat.

Dalam ajaran Islam sendiri kriteria dalam milih pasangan hidup (suami atau istri) sudah sangat jelas dan sederhana. Sebagaimana yang diperintahkan Allah Swt dalam Al Qur’an:

Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik [dengan wanita-wanita mu’min] sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya [perintah-perintah-Nya] kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (QS.Al-Baqarah: 221).

Semantara Rasulullah Saw sendiri juga memberi tuntunan dalam memilih pasangan rumah tangga ini seperti yang sampaikan dari Abu Hurairah ra dimana Nabi Saw bersabda:

Seorang wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, niscaya selamat tanganmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Meski ayat dan hadis tersebut berbicara tentang kriteria dalam memilih calon istri namaun hal ini juga berlaku dalam dalam menentukan calon suami. Intinya adalah kita memilih pasangan hidup kita calon suami atau istri adalah karena takwa. Jika seseorang yang memiliki takwa maka apa yang dilakukannya adalah baik dan daam penjagaan Allah Swt. Untuk itu sempurnakan hidup dengan menikah dengan saling melengkapi.

Solusinya adalah lakukan ini . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment