Berpegang Teguh pada Sunnah

masjid

Oleh: Tate Qomaruddin*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Sumber utama amaliah dan ibadah dalam Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah, berikutnya qiyas dan ijtihad. Terkait dengan sunnah kita bisa merujuk pada hadis Rasulullah Saw yang disampaikan dari Abi Najih ‘Irbadh bin Sariyah –semoga Allah meridoinya–, ia berkata, Rasulullah Saw. menasihati kami dengan nasihat yang begitu indah yang membuat hati bergetar  dan airmata berderai. Kami berkata,

alquran muasir

Wahai Rasulullah, tampaknya nasihat ini nasihat perpisahan, maka berwasiatlah untuk kami.” Rasulullah Saw. bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun dipimpin oleh seorang hamba bangsa Ethiopia (berkulit hitam). Dan sesungguhnya siapa yang hidup (berusia panjang) di antara kalian pasti akan menyaksikan banyak pertikaian. Maka, kalian wajib berpegang-teguh kepada sunnahku dan sunnah para  khulafur-rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi taring. Dan hindarilah perbuatan yang diada-adakan. Karena setiap bid’ah adalah sesat.” (H.R. Abu Dawud dan Attairmidzi, hadits hasan shahih)

Rasulullah Saw. Memang sering dan biasa memberikan nasihat (mau’izhah). Tetapi, kali ini para sahabat merasa bahwa nasihat Rasulullah berbeda dari biasanya. Mereka menangkap nasihat kali ini adalah nasihat perpisahan dan setelah itu beliau tidak akan lagi memberi nasihat karena tidak lama lagi akan dipanggil ke haribaan-Nya.

Lantas nasihat apakah gerangan yang dimaksud oleh ‘Irbadh bin Sariyah dalam hadis itu sebagai nasihat perpisahan. Dalam hadis tersebut memang tidak disebutkan langsung apa yang dimaksud dengannya. Akan tetapi, dalam hadis-hadis lain terdapat beberapa pernyataan Rasulullah Saw yang oleh Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya yang berjudul Jami’ul-‘Ulumi Wal Hikam dinilai sebagai bagian dari nasihat (yang bernuansa) perpisahan.

kalender

Di antaranya, pernyataan Abdullah bin Umar –semoga Allah meridoinya–, “Rasulullah Saw. keluar menemui kami pada suatu hari seperti akan berpisah dengan kami, seraya mengatakan, ‘Aku Muhammad adalah nabi yang tidak baca tulis –mengucapkannya tiga kali– dan tidak ada nabi sepeninggalku. Aku dikarunia kunci-kunci  kalimat (ajaran), penutupnya dan kalimat yang ringkas-padat. Aku juga mengetahui berapa jumlah penjaga neraka, pemikul arasy…’”

Uqbah bin ‘Amir mengatakan bahwa Rasulullah Saw. naik mimbar bagaikan seseorang yang mengucapkan selamat tinggal kepada yang hidup seraya mengatakan, “Aku tidak takut kalian kembali menjadi musyrik sepeninggalku. Yang aku takutkan adalah kalian berlomba-lomba mengejar dunia dan saling bunuh. Maka kalian akan binasa sebagaimana binasanya umat sebelum kalian.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Nah itulah beberapa kemungkinan yang disebut dengan mau’izhati muwaddi’in (nasihat perpisahan). Dan, begitulah sensitifitas para sahabat terhadap isyarat-isyarat yang disampaikan oleh Rasul. Mereka memandang masa depan dengan penuh antisipasi terhadap segala kemungkinan. Mereka selalu berfikir tentang nasib mereka di kemudian hari sepeninggal Rasulullah Saw.  Karenanya, mereka memanfaatkan kesempatan yang tidak akan pernah kembali itu dengan membekali diri dengan hal-hal yang berguna untuk menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat.

Bekal itu memang mereka dapatkan. Sebab, Rasulullah Saw. memenuhi permintaan mereka dan memberikan wasiat, “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun dipimpin oleh seorang hamba bangsa Ethiopia (berkulit hitam). Dan sesungguhnya siapa yang hidup (berusia panjang) di antara kalian pasti akan menyaksikan banyak pertikaian. Maka kalian wajib berpegang-teguh kepada sunnahku dan sunnah para khulafur-rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi taring. Dan hindarilah perbuatan yang diada-adakan. Karena setiap bid’ah adalah sesat.”

Salah satu wasiat penting itu adalah agar umat Islam berpegang teguh pada Kitabullah yakni Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. serta sunnah para khulafaurrasyidin (pengganti Rasulullah Saw. yang mendapat bimbingan Allah). Sikap ini adalah satu-satunya pilihan agar umat manusia mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, terutama saat menghadapi berbagai silang sengketa berbagai pendapat manusia dan saat terjadi banyak perselisihan.

Dengan redaksi lain, Rasulullah Saw. bersabda,

Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Nabi-Nya.” (H.R. Imam Malik)

Apa itu sunnah?……….

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment