Perilaku Amoral Remaja, Telaah Keefektifan “Sex Education”

300a

Oleh: Wijaya Kurnia*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Maraknya tindak asusila yang dilakukan oleh para remaja yang masih duduk di bangku sekolah akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan dan  merisaukan bagi para orangtua. Berbagai kasus tindak asusila ini semakin terungkap jelas layaknya fenomena gunung es yang  mulai terbongkar satu per satu.

alquran muasir

Selain perilaku asusila yang dilakukan banyak remaja sekarang, ternyata remaja juga rentan terjangkiti Penyakit Menular Seksual (PMS), salah satunya adalah penyakit HIV/AIDS(HIV stadium 4). Menurut UNAIDS di dunia, setiap hari terdapat lebih dari 5 ribu orang pengidap HIV dan AIDS berusia antara 15-24 tahun (promkes.depkes.go.id). Sedangkan di Indonesia tercatat bahwa tidak ada Provinsi yang dinyatakan bebas dari HIV dan AIDS, bahkan sekarang diperkirakan sudah menjangkit lebih dari separuh Kabupaten/Kota yang ada di Tanah air. Di Jawa Timur penderita HIV/AIDS terus meningkat dari tahun ke tahun. Di tahun 2013 ini saja, penderita HIV/AIDS sudah mencapai 17.775 orang.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola perilaku dan pergaulan remaja saat ini. Maraknya porno aksi dan pornografi yang bisa diakses dengan mudahnya menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya perilaku seks bebas di kalangan remaja. Dengan alasan seni dan budaya konten yang mengandung pornografi menghiasi tontonan remaja di media cetak maupun elektronik. Dengan dalih kebebasan berekspresi dan seni, pornografi dan pornoaksi menjadi legal di bawah payung demokrasi dan menjadi konsumtif masyarakat termasuk remaja. Selain itu kurangnya  perhatian keluarga maupun sekolah menjadi salah satu pemicu terjadinya perilaku menyimpang tersebut.

Banyak orang tua hanya memperhatikan pendidikan formal anak-anaknya saja, tanpa peduli pendidikan agama mereka. Para orang tua sudah merasa puas jika anak-anaknya melakukan shalat, membaca Al-Qur’an dan menutup aurat, tetapi orang tua kadang tidak begitu memperhatikan pergaulan anak-anaknya bahkan terkesan membiarkan, bahkan hingga anak-anaknya berpacaran. Padahal aktivitas seperti berpelukan, berciuman bahkan hingga berzina sudah dianggap hal biasa dalam aktivitas pacaran para remaja pada masa sekarang ini. Faktor utama penyebab adanya pergaulan bebas dan perilaku seks bebas adalah merosotnya nilai dan pemahaman agama. Agama tidak lagi dijadikan filter, sehingga pola pergaulan remaja sekarang ini seakan tanpa batas. Walau mayoritas masyarakat negeri ini adalah umat islam, namun nilai-nilai keislaman tak terlihat dalam aktivitas masyarakat.

kalender

Menurut BKKBN jumlah remaja di Indonesia yang mencapai 64 juta jiwa rentan menjadi pengguna narkoba, seks pranikah dan HIV/AIDS. Untuk mengatasi hal tersebut maka BKKBN berusaha untuk mengawal remaja agar dapat menghindari hal-hal tersebut. Namun sejauh ini usaha yang dilakukan oleh pemerintah belumlah optimal. Hal ini terbukti dengan banyaknya kasus seks bebas yang terjadi di kalangan remaja bahkan para pelajar. Pemerintah selama ini lebih fokus menangani pencegahan penyakit menular seksual (PMS) saja tanpa pernah memperhatikan akar masalah penyebab perilaku seks bebas tersebut. Pemerintah hanya melakukan tidakan pencegahan yang sejatinya malah membuat masalah baru dan tidak menyentuh sama sekali kepada akar masalah yang ada.

Adanya pekan kondom nasional (PKN) yang sempat digagas, walaupun akhirnya program tersebut dihentikan karena mendapatkan reaksi keras dari berbagai ormas islam, menunjukkan bahwa pemerintah justru mengambil tindakan penyelesaian yang tidak tepat, bahkan cenderung malah membahayakan perilaku masyarakat. Pemerintah juga memperluas program penyebaran kondom ini kepada remaja. Menurutnya mempermudah akses remaja untuk mendapatkan kondom diharapkan dapat menekan angka aborsi dan kehamilan yang tidak diinginkan (detik.com, 15/6/2012).

Kampanye penggunaan kondom ini tidak akan menyelesaikan masalah yang ada, karena akar masalahnya bukan karena tidak menggunakan kondom, melainkan perilaku seks bebas. Kampanye tersebut seolah malah membolehkan melakukan seks bebas asal menggunakan kondom. Maka program kondomisasi sama artinya kampanye dan mensponsori seks bebas.

Dalih yang digunakan bahwa kondom bisa menangkal penularan HIV/AIDS juga terbukti sebagai pembohongan publik, pasalnya pada Konferensi AIDS sedunia di Chiangmai, Thailand tahun 1995, diumumkan hasil penelitian ilmiah, bahwa kondom tidak dapat mencegah penularan HIV/AIDS. Sebab ukuran pori-pori kondom jauh lebih besar dari ukuran virus HIV. Ternyata kondom juga tidak ampuh menangkal penyakit lainnya. Dr. Ricki Pollycove, pakar kesehatan dari California Pasific Medical Center San Fransisco, mengatakan bahwa didapatkan sejumlah temuan, kondom tidak bisa mencegah penyakit herpes. Sejumlah orang tetap terinfeksi herpes meski mereka sudah menggunakan kondom dengan benar (sfgate.com, 21/1/2013).

Selain kampanye kondom, pendidikan seks usia dini juga digencarkan kepada remaja. Harapannya adalah para remaja mengetahui dampak dari seks yang tidak aman dan resikonya. Tapi justru Pendidikan seks yang terlalu dini dan terlalu vulgar apalagi minus penjelasan mengenai moral dan agama hanya akan menimbulkan rangsangan dan keinginan anak untuk mencoba mempraktekan apa yang telah mereka ketahui. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendapat yang mengatakan perlunya pendidikan seks untuk anak dalam rangka mengurangi angka peningkatan kehamilan diluar nikah adalah salah. Di sisi lain, kondisi perekonomian yang memprihatinkan dan gaya hidup yang konsumtif juga membelit remaja. Kemiskinan selalu menjadi alasan klasik yang mendorong remaja ke jurang prostitusi, dengan alasan menyambung hidup mereka rela menjadi PSK. Tidak semua remaja menjadi pelacur karena faktor ekonomi. Ada segolongan remaja memilih menjadi pelacur karena gaya hidup. Keinginan akan barang-barang yang mahal dan mewah memancing sebagian remaja masuk ke lembah dunia pelacuran.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment