Pesan Suci dari Bencana di Muka Bumi

324

 

Oleh: Ahmad R*

PERCIKANIMAN.ID – – Maha Benar Allah dengan Segala Firman-Nya. Maka semua yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran merupakan pesan dan petunjuk untuk dijadikan pedoman hidup. Begitupun peristiwa bencana yang terjadi di muka bumi ini sejak zaman Nabi Adam hingga sekarang. Bencana yang terjadi merupakan kehendak-Nya, harus kita maknai sebagai fitnah (siksaan) dan rahmat. Tidak ada salahnya kita berkaca pada sejarah dan berikut contoh bencana yang sempat memusnahkan satu kaum yang semoga hal ini tidak terjadi pada kita.

alquran muasir

Pertama, bencana yang terjadi kepada umat Nabi Nuh a.s. Pada masa ini, dikenal banjir yang menenggelamkan bumi, sebagaimana yang diterangkan Al-Quran. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. la tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu.’ Nuh berdoa: ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku’” (Q.S. Al-Mu’minuun [23]: 23-26).

Doa Nabi Nuh pun dikabulkan. Umatnya dimusnahkan dalam peristiwa banjir maha-dahsyat pada zaman itu. “Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar” (Q.S. Al-Anbiyaa’ [21]: 76).

Kedua, bencana yang terjadi pada zaman Nabi Luth. Bencana ini dikenal dengan negeri yang dijungkir-balikkan. Negeri mereka Allah jungkir-balikkan dari atas ke bawah disertai gempa yang maha-dahsyat. Hujan meteor, angin kencang, dan petir pun saling menggelegar satu sama lain. Bisa dibayangkan, betapa ngerinya peristiwa itu seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Quran.

kalender

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).” (Q.S. Al-Hijr [15]: 73-76)

Ketiga, bencana pada zaman Nabi Musa a.s. Gempa yang dirasakan Nabi Musa dan kaumnya juga dimaknai beliau sebagai teguran berat. Tujuh puluh orang terpilih dikumpulkan Nabi Musa untuk melakukan pertaubatan seperti yang diungkapkan Al-Quran dalam Surat Al-A’raaf (7) ayat 155-156.

Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka ditimpa gempa bumi, Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang berakal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari-Mu. Engkau sesatkan, dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah pemberi ampun yang terbaik.’ Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, ‘Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan; rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.

Keempat, bencana pada zaman Nabi Hud a.s. karena umatnya yang mendustakannya (musnah dengan tiupan angin kencang). Sebagaimana yang diterangkan Allah Swt., kaum Tsamud dihancurkan dengan petir dan kaum ‘Ad dihancurkan dengan angin dingin yang sangat kencang, dalam Surat Al-Haaqqah (69) ayat 4-8. “Kaum Tsamud dan ‘Ad telah mendustakan hari kiamat. Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka.

Meskipun telah diperingatkan sebelumnya, mereka tidak mengindahkan peringatan dan terus menolak nabi mereka (Nabi Hud a.s.). “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’. (Bukan!) Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih” (Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 24).

Kelima, kaum Nabi Shaleh a.s. yang angkuh, kafir, dan menyembelih unta mukjizat yang tidak boleh diganggu, dilanda dahsyatnya bermacam-macam azab, seperti disebutkan dalam Surat Al-A’raaf (7) ayat 77-79. ”Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: ‘Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)’. Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat’”.

Keenam, bencana yang menimpa kaum Nabi Syu’aib a.s. di Madyan yang dihantam gempa hingga jadi mayat-mayat yang bergelimpangan karena kekafiran mereka dan sikap curang dalam menakar dan menimbang (Q.S. Al-A’raaf [7]: 85-94).

Ketujuh, bencana kepada kaum pada zaman Nabi Ibrahim yang diubah wujudnya menjadi monyet karena menyepelekan shalat (Jumat) demi menumpuk harta (Q.S. Al-Baqarah [2]: 65-66).  “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilah kamu kera yang hina.’ Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”

Kedelapan, Fir’aun (Ramses II) dan kroni-kroninya yang kafir telah dihujani bencana berupa angin topan, belalang, kutu, kodok, dan darah; kemudian minta dimohonkan oleh Nabi Musa a.s. agar mereka dilepaskan dari azab itu. Setelah azab tersebut dilepaskan oleh Allah, mereka lantas kembali kafir. Bahkan sang Fir’aun tetap memproklamasikan diri sebagai ‘Tuhan’. Maka Allah tenggelamkan mereka ke dasar Laut Merah (Q.S. Al-A’raaf [7]: 133-136).

Pada masa Rasulullah Saw. pernah terjadi bencana wabah. Aisyah r.a. menanyakan soal wabah itu, terutama keadaan orang-orang beriman yang terjebak di daerah bencana. Rasulullah Saw. mengatakan bahwa wabah thaun merupakan siksa Allah yang dikirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tetapi, Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi para hamba-Nya yang beriman. Maka, seorang mukmin yang berada di daerah yang dijangkiti wabah itu, jika sabar dan ikhlas karena ia mengerti tidak akan terkena wabah itu kecuali kalau memang sudah ditakdirkan Allah baginya, maka Allah akan mencatat baginya pahala seorang mati syahid (H.R. Bukhari).

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, pernah terjadi gempa besar. Orang-orang panik. Korban pun berjatuhan. Beberapa saat setelah kejadian itu, Khalifah menyampaikan pesannya. “Kalian suka melakukan bid’ah yang tidak ada dalam Al-Quran, sunah Rasul (hadits), dan ijma (kesepakatan umum) para sahabat Nabi sehingga kemurkaan dan siksa Allah turun lebih cepat” (Sunan Al-Baihaqi diriwayatkan dari Shafiyah binti Ubaid). Pesan suci yang disampaikan Umar bin Khaththab mengenai bencana adalah, walaupun di sekelilingnya banyak orang shaleh, bencana tetap terjadi karena adanya pelanggaran terhadap nilai-nilai ajaran Islam. Bencana adalah teguran Allah Swt. agar hamba-hamba-Nya bisa kembali kepada kebenaran. Semoga bermanfaat .Wallahu’alam. [ ]

*Penulis adalah pendidik dan penulis buku.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment