Mendefinisikan Ulang Arti Kecantikan

jilbab hijab

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

Kata cantik selalu ditujukan kepada wanita terlebih hanya fokus pada wajahnya. Dalam kehidupan di dunia, sosok wanita ditakdirkan oleh Allah Swt menjadi satu sosok yang indah dan dicintai. Ia dilahirkan ke dunia sebagai salah satu bentuk kesenangan hidup di dunia. Hal ini bisa kita rujuk pada firman Allah Swt dalam Al-Quran:

alquran muasir

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.S. Ali Imran [3]: 14)

Penggambaran wanita seperti ini tentu bukan berarti memposisikan wanita sebagai objek kesenangan belaka. Sebaliknya, wanita diberi kehormatan oleh Allah Swt. dengan diberi potensi dan keadaan seperti itu. Bahkan, bukti dimuliakannya wanita oleh Allah Swt. adalah dengan dijadikan nama salah satu surat dalam Al-Quran, yakni surat An-Nisaa’.

Di dalam surat Ali Imran ayat 14 tersebut, kata-kata zuyyina linnaasi (dijadikan indah pada pandangan manusia) merupakan fi’il majhul atau kata kerja pasif. Menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran, hal ini mengisyaratkan bahwa susunan insting manusia memang mengandung kecenderungan tersebut. Artinya manusia (laki-laki) diberi fitrah untuk menyukai atau mencintai wanita, sedangkan wanita diberi fitrah untuk menjadi sosok indah yang disukai dan dicintai oleh laki-laki.

kalender

Cantik menurut bahasa kesehatan adalah sehat jasmani sekaligus rohani. Namun sudah tak diragukan lagi, bahwa ketika kita bicara cantik, umumnya akan menyangkut tentang wajah, kulit, dan rambut. Dewasa ini, wajah dan kulit yang putih bersih serta rambut yang panjang, lurus, dan hitam sudah menjadi standar kecantikan bagi kalangan wanita, dan pendapat ini hampir terdoktrin di setiap pikiran seluruh wanita tidak hanya yang sudah dewasa, tetapi juga para remaja bahkan anak-anak yang masih kecil.

Lalu, dari manakah doktrin “cantik” ini berasal? Bisa jadi dari media ataupun opini masyarakat, yang juga telah teracuni oleh media -baik cetak maupun elektronik-, sehingga terbangun pemahaman bahwa kecantikan hanya sebatas kulit luar. Semua orang seolah satu kata bahwa yang cantik adalah yang berkulit putih, tinggi semampai, hidung mancung, bibir merah, mata jeli, langsing, dan lain-lain. Akibatnya banyak kaum hawa yang ingin memiliki image cantik seperti yang tergambar dalam benak khalayak ramai tersebut. Mereka kemudian tergoda untuk membeli kosmetik yang dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka dan mulai melalaikan koridor syariat yang telah mengatur batasan-batasan untuk tampil cantik. Ada yang harap-harap cemas mengoleskan pemutih kulit, menggunakan pelurus rambut, mencukur alis, mengeriting bulu mata, mengecat rambut sampai pada usaha memancungkan hidung melalui serangkaian treatment silikon, dan lain-lain.

Singkat kata, mereka ingin tampil secantik model sampul majalah atau bintang iklan yang dapat memikat hati lawan jenisnya. Maka tidak heran jika di setiap kota besar/kecil berdiri  toko-toko kosmetik yang tak pernah sepi oleh riuh rendah kaum hawa yang memilah dan memilih kosmetik dalam deretan etalase serta mematut diri di depan kaca sambil terus mendengarkan rayuan manis dari penjaga toko tersebut. Kata cantik telah direduksi sedemikian rupa oleh media sehingga banyak yang melalaikan hakikat cantik yang sesungguhnya. Banyak wanita yang kini lebih sibuk memoles kulit luar tanpa peduli pada hati mereka yang kian gersang. Kelak mereka akan merugi di akhirat.

Sabda Rasulullah, “Ada dua golongan penduduk neraka yang tidak pernah aku saksikan semasa hidupku. Pertama, kaum yang memiliki cemeti seperti ekor lembu, di mana mereka menggunakannya untuk memukul manusia. Kedua, wanita yang berpakaian, tetapi telanjang. Mereka melenggak-lenggokkan tubuhnya dan rambutnya bagai punuk unta yang miring. Mereka tidak masuk surga, tidak pula mencium baunya, meskipun bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian (dan) sekian” (H.R. Muslim).

Mereka yang senang memamerkan kecantikannya secara fisik semata juga tidak memiliki jaminan akan sukses dalam membina rumah tangga. Sebaliknya, banyak kaum muslimah yang tidak cantik secara fisik, tetapi sukses dalam membina rumah tangga karena kepribadiannya amat menyenangkan. Mereka tidak terlalu fokus pada rehab kulit luar, melainkan lebih peduli pada recovery iman yang berkelanjutan sehingga tampak dalam sikap dan prinsip hidup mereka, kokoh tidak rapuh.

Cantik menurut Islam .  . . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment