Haruskah Saya Pertahankan Rumah Tangga Penuh Sandiwara?

rumah tangga

Menjelang berganti tahun, saya mengajak istri mengevaluasi hubungan kami setahun ke belakang dengan harapan tahun depan akan lebih baik. Namun, setelah kami saling berbicara secara jujur, ternyata banyak yang sandiwara yang telah kami lakukan. Apa yang harus kami lakukan, Ustadz? Apakah kami harus mempertahankan pernikahan yang penuh sandiwara ini atau menyelesaikannya lewat perceraian karena kami sama sekali tidak cocok? Mohon pencerahannya.  

 

Begini, Anda kira bila suami istri saling jujur itu pasti baik? Hidup itu terletak di antara realitas, impian, dan kebohongan. Itulah sebabnya ada saatnya bohong itu diperbolehkan, misalnya untuk menjaga perasaan orang lain. Tentu saja hal itu ada batasannya. Yang tidak boleh adalah bohong dengan niat buruk.

alquran muasir

Akan tetapi kalau misalnya, suami memuji istri dengan sedikit melebih-lebihkan dari keadaan yang sesungguhnya tentu saja diperbolehkan. Maksudnya, kehidupan berumah tangga bukan berarti harus terbebas dari sandiwara. Saya rasa tidak ada keluarga yang dibangun dari 100% kejujuran, pasti ada saja ‘kebohongan’ positif agar hubungan suami istri nampak indah dan terus langgeng.

Akan tetapi, sangat nista bila rumah tangga di bangun di atas kebohongan alias lebih banyak sandiwara daripada kejujurannya. Sehingga, kebohongan yang dimaksud di sini haruslah proporsional dan tidak berlebihan. Itulah sebabnya Rasul membolehkan kita berbohong kepada pasangan dengan niat menyenangkan hati mereka. Tentu saja, bohong yang dimaksud jangan sampai menyalahi syariat.

[AdSense-A]

kalender

Karena, bisa jadi rumah tangga terasa lebih manis bila ditambah bumbu ‘kebohongan’. Tapi ingat! Jangan sampai Anda menganggap bahwa kebohongan adalah modal utama untuk membina keluarga. Tentu hal itu sangat keliru. Sangat berbeda antara bahan baku dan bumbu dalam masakan, bukan? Malah dalam beberapa kasus, kejujuran yang ditampilkan ada saja yang menyakitkan perasaan pasangan.

Kembali ke pertanyaan, sebenarnya Anda tidak sedang bersandiawara karena bila kita hendak menyenangkan hati pasangan, tentu itu adalah sesuatu yang baik. Misal, sebenarnya kita kesal dengan suami. Tetapi, saat suami pulang kita menunjukan wajah yang ramah, tentu itu adalah amal ibadah.

Rasul bersabda, “Wajah ramahmu adalah sedekah,” terlebih bila diamalkan kepada pasangan. Tentu saja, setelah situasi kondusif dan membaik, kita utarakan kekesalan kita dengan cara yang baik sebagai bagian dari evaluasi. Sehingga, janganlah kita berpikir bercerai bila kebohongan itu masih bisa di toleransi. Wallahu a’lam.

 

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/  

 

iklaninden

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment