Mencari Pemimpin Harapan Ummat

155

Oleh: Uckay Subqy*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Masalah kepemimpinan adalah salah satu isu yang menarik untuk dibahas dan diperbincangkan. Kepemipinan atau boleh dikata regenerasi memang pelik yang untuk rumuskan meski dalam Al-Qur’an dan Hadis sudah jelas panduannya namun dalam prakteknya seringkali terjadi perdebatan.

alquran muasir

Masalah kepemimpinan juga yang tidak jarang menimbulkan prahara dari sekedar konflik lokal hingga perang antar kelompok atau wilayah. Sejarah telah mencatat beberapa peperangan juga disebabkan oleh masalah kepemimpinan yang menjadi rebutan kelompok. Sebagai seorang muslim maka ada baik masalah kepemimpinan ini kita mengacu ke hadis Rasulullah Saw,

Setiap kalian adalah pemimpin, maka kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Penguasa adalah pemimpin, maka akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin keluarganya, maka akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin (rumah tangga suaminya), maka akan dimintai pertanggungjawabannya. Pelayan adalah pemimpin (atas harta tuannya), maka akan dimintai pertanggungjawaban atas pengelolaannya. Oleh karena kalian adalah pemimpin, maka kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.” (H.R. Bukhari-Muslim)

Menurut para ulama, secara sosiologis masyarakat dan kepemimpinan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Syari’ati berkeyakinan bahwa ketiadaan kepemimpinan menjadi sumber munculnya problem-problem masyarakat, bahkan masalah kemanusiaan secara umum. Menurut Syari’ati, pemimpin adalah pahlawan, idola, dan insan kamil. Tanpa pemimpin umat manusia akan mengalami disorientasi dan alienasi.

kalender

Ketika suatu masyarakat membutuhkan seorang pemimpin, maka seorang yang paham akan realitas masyarakatlah yang pantas mengemban amanah kepemimpinan tersebut. Pemimpin tersebut harus dapat membawa masyarakat menuju kesempurnaan yang sesungguhnya. Watak manusia yang bermasyarakat ini merupakan kelanjutan dari karakter individu yang menginginkan perkembangan dirinya menuju pada kesempurnaan yang lebih.

Menjadi pemimpin adalah keharusan tiap individu. Tiap orang harus mampu menjadi pemimpin. Setidaknya menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Artinya, mengenali diri sendiri hingga ke dalam diri. Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Mengendalikan hawa nafsu dari keserakahan dan gemerlapnya dunia membutuhkan penghayatan yang dalam mengenai hakikat diri dan tujuan hidup. Pemimpin sejati bertumpu pada kemampuannya memimpin diri sendiri, menguasai dan mengendalikan dirinya sendiri.

Menurut  KH Miftah Faridl (Ketua MUI Kota Bandung) dalam sebuah kesempatan menyampaikan bahwa amanah kepemimpinan bukanlah perolehan pemimpin itu sendiri. Al Quran menjelaskannya dalam surat Ali Imran ayat 26, “Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki.“

Jadi, betul-betul absolut dari Allah dan Dia Maha Kuasa memberikan wewenang kepemimpinan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana juga Allah Maha Kuasa untuk mengambil kekuasaan yang ada pada manusia,” papar tokoh ulama Bandung ini kepada Mapi di rumahnya.  Baginya, yang jelas amanah kepemimpinan itu harus diemban oleh orang yang tepat.

Pemimpin yang sesungguhnya

Pemimpin dalam konteks masyarakat dan umat memiliki peran penting dalam membentuk budaya dan karakter suatu bangsa. Jika pemimpinnya memberlakukan sistem yang bathil, niscaya kehidupan masyarakatnya pun mengarah ke sana. Oleh karena itu, kita harus menemukan pemimpin sejati. Pemimpin yang mampu mengarahkan umatnya kepada kemajuan dan kebaikan serta kesejahteraan.

Pemimpin sejati adalah sosok yang sangat dicari. Ia merupakan panutan yang senantiasa mengedepankan kepentingan kolektif umatnya. Ungkapan ‘the fish rots from the head’, atau peribahasa ‘bayangan selalu mengikuti sang badan’ menggambarkan bahwa pemimpin adalah lokomotif.

Sementara itu menurut ketua mantan Ketua MPR RI Dr Hidayat Nurwahid dalam situs resmi pribadinya menyatakan intinya adalah pada budaya paternalistik kita yang masih kuat.  Dimana rakyat cenderung melihat contoh dari apa yang dilakukan pemimpinnya.  Karenanya, budaya paternalistik ini seyogianya mampu kita kelola untuk merekonstruksi perubahan mental pada elitnya.

Pemimpin yang peduli tidak akan membiarkan kemungkaran terjadi di depan mata mereka.  Mereka tidak saja menjaga fisik dan lingkungan sosial yang bersih, namun lebih dari itu kebersihan moral dan nurani akan selalu dipelihara.  Mereka merasa kepemimpinan adalah amanah yang harus dijunjung tinggi, namun tetap dengan sikap bersahaja terhadap rakyat yang dipimpinnya.

“Mereka yang bersahaja akan jauh dari sikap tamak yang selalu menginginkan kelebihan materialisme dan hedonisme,” imbuh Hidayat.

Sejatinya, model pemimpin sejati ada pada diri Rasulullah Saw. Sifat-sifat yang dimilikinya seperti Shidiq, amanah, fathanah, dan tabligh menjadi kriteria dasar pemimpin ideal. Bahkan Allah Swt pun telah lebih dulu mengakuinya.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Jangan salah pilih

Islam senantiasa mengajarkan kebersamaan. Ibadah-ibadah wajib dalam agama ini semuanya menekankan nilai-nilai sosial yang sangat tinggi. Mulai dari ibadah sholat sampai dengan ibadah haji tak lepas dari pandangan bahwa kita hidup dalam komunal manusia, sebuah jamaah.

Setiap jamaah harus ada imam atau pemimpin. Jamaah tidak akan terbentuk tanpa adanya pemimpin. Namun pada kenyataannya tidak semua anggota jamaah layak dan mampu jadi pemimpin. Dalam ibadah sholat saja sang imam harus memiliki kriteria tertentu sehingga ia layak mengomandoi makmumnya. Mulai dari Kapabilitas bacaan dan pemahaman Alqurannya, pengetahuan agamanya, sampai pada kondisi fisik dan penampilannya harus diperhatikan.

Kesalahan dalam memilih imam menjadi tanggungan kolektif jamaah. Begitu pula ketika imam yang salah melakukan kesalahan sehingga jamaahnya mengikuti gerakan yang salah. oleh karena itu, amanah kepemimpinan harus dipegang oleh oleh orang yang cocok, kompeten, dan memang ahlinya. Rasulallah Saw bersabda, “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Jika bangsa menghendaki perubahan, perubahan itu pun harus dimulai dari pucuk pimpinan.  “Mustahil mengharapkan muncul perubahan budaya melawan korupsi, apabila elit pemimpin justru merasa nyaman dengan praktik tersebut,” imbuh Hidayat menanggapi banyaknya pemimpin yang tidak amanah.

Munculnya sosok pemimpin

Kebesaran seorang tokoh pemimpin yang bersahaja, bersih dan peduli tidak datang secara sekejap dan tiba-tiba.  Ia terlahir dari proses transformasi nilai yang lama ditempa sejak dini dalam lingkungan keluarga.  Transformasi nilai tidak datang mendadak dalam kuliah-kuliah di perguruan tinggi atau lembaga-lembaga pendidikan formal.

Mengutip kata-katanya Nurcholish Madjid, bahwa kepuasan kita selama ini hanya pada verbalisme, yaitu perasaan telah berbuat sesuatu karena karena telah mengucapkannya sehari-hari. Seolah-olah kalau kita bicara kitab suci, sabda Tuhan, sabda Allah, dan suri tauldan para Rasul, para nabi, para aulia itu semuanya sudah selesai (Mohamad Sobary, 2004).

Kalau kita tengok sejarah, transformasi nilai yang dialami tokoh-tokoh pemimpin berawal dari didikan sejak kecil pada keluarga mereka.  Di rumah tangga, patut diadakan dialog-dialog tata nilai atau ajaran yang meskipun normatif, tidak melulu diajarkan secara normatif.  Diperlukan pendekatan secara dialektis  dalam keluarga sehingga terlatih jika ada bandingan-bandingan.

Ketika orang bicara bersih dan bersahaja, maka bersih dan bersahaja tidak bisa dijejalkan kepada anak sebagai sesuatu yang jadi.  Ketika masih kanak-kanak kita  tentu hapal bahwa kebersihan sebagian dari iman, namun bagaimana kebersihan sebagian dari iman itu supaya tidak tinggal kata-kata.

Kita menginginkan pemimpin adil, bersahaja, bersih dan peduli bukan karena kebetulan bersahaja, bersih dan peduli.  Namun karena bersahaja yang betul, tidak karena kebetulan.  Bersih dan perduli pun yang betul, bukan karena kebetulan.  Barangkali inilah saatnya tatkala elit pemimpin kita justru perlu belajar dari kebersahajaan, kebersihan dan kepedulian dari rakyatnya.Semoga kita dianugerahi pemimpin yang demikian sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadis. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah pendidik dan pegiat dakwah.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment