Hati-Hati Menuju Hari Akhir

galaksi

Kiamat pasti terjadi. Tapi waktunya datang kiamat adalah rahasia Allah Swt. yang tak dapat dijangkau manusia. Begitu kata Dr. H. Afif Muhammad, MA. Sebagai seorang mukmin, katanya, kita harus memahami bahwa kiamat merupakan bagian dari rukun iman yang terkait dengan keyakian pada hari akhir, hari hisab, surga dan neraka. Karenanya, kalau kita tidak mengimani hari akhir ini maka kita patut mempertanyakan kualitas keimanan kita kepada-Nya.

“Meyakini datangnya kiamat berarti kita sadar bahwa Allah Swt. yang menciptakan alam semesta bersifat kekal, sementara kita sebagai ciptaannya tidak kekal hidup di muka bumi ini. Sehingga bila kita memahaminyasecara kafah, hal itu akan menjadi pemicu kita untuk senantiasa hidup diliputi dengan kehati-hatian. Entah itu kehati-hatian dalam menjalankan segala bentuk ibadah maupun kehati-hatian dalam menjauhi segala larangannya karena kita paham betul segala amal perbuatan kita akan dihisab,” ujarnya.

alquran muasir

Adapun bila kita bicara tentang tanda-tanda kiamat, menurutnya, Al-Quran telah rinci menerangkan banyak hal mengenai bakal datangnya kiamat itu. Dan semua ilmu Allah Swt. dapat dipelajari berdasarkan kemampuan terbatas manusia. “Seperti saat kita melemparkan benda ke atas dan jatuh. Ketika itu dipelajari lalu orang menemukan gravikasi. Ketika ditemukan grativikasi, orang lalu ingin membuat suatu benda yang bisa melayang yang tidak bisa tertarik gravitasi. Maka ada kapal terbang, ada orang bisa samapi ke bulan. Semuanya ini ilmu Allah Swt. yang bisa dipelajari,” Afif menerangkan.

Hancurnya diri manusia atau kematian juga dapat disebut kiamat diri. Afif mencontohkan, kalau seseorang mengalami sakit yang parah. Dokter dengan berbagai kempengathuan kedokterannya dapat memperediksikan gejala-gajala menuju kematian pasiennya. Atau para ahli klimatologi dapat memprediksi turunnya hujan berdasarkan gejala alam. Tapi semua prediksi manusia bisa benar atau salah. Sehebat-hebatnya manusia yang bisa memprediksi, tetap saja prediksi itu bersifat nisbi.

Prediksi memiliki nilai manfaat. “Dari segi positif, semestinya adanya isu kiamat ini kita lebih mampu meningkatkan keimaman dan ketaqwaan. Berhati-hati dalam menjalani hidup. Dengan arti lain, apa pun profesi kita harus mampu bertanggungjawab, amanah dan berani jujur atas kebenaran. Selain itu, hal yang perlu ditingkatkan kita juga harus baik dan shaleh, menjadi mukmin yang produktif dalam mengumpulkan amal untuk bekal kita di akhirat,” pesan Afif.

kalender

Allah Swt. mengajarkan kita untuk selalu melakukan yang seimbang dalam segala urusan. “Jangan sampai kita menyalahgunakan kasih sayang Allah. Jangan sampai keimanan terhadap kasih sayang Allah terlalu tinggi sehingga menjadi lupa daratan. Dalam pengertian ini, bila orang terlalu memfokuskan diri kepada kasih sayang Allah, dia menjadi pasif. Ambil contoh, tipe orang seperti ini akan selalu memiliki pikiran akan diampuni Allah ketika akan dan sudah melakukan kemaksiatan. Ini bahaya bila terus terjadi,” ungkapya”.

Sehingga menurut Afif, kita harus paham bahwa Allah Swt. itu maha Adil. Segala amal kita akan mendapatkan balasan dari-Nya dan segala siksaan Allah itu begitu berat. Makanya kalau hal ini benar-benar ditanamkan dalam hati, insya Allah, hidup kita akan seimbang dan tidak akan menjadi insane yang pasif.

Kiamat itu ada dua. Kiamat kematian diri kita dan kiamat sebagai hari akhir kehancuran alam semesta. Bila kita tanya takut mana menghadapi kiamat diri dan kiamat alam semesta. Pastinya kematian diri kita yang telebih dahulu dijawab. Tapi pertanyaan yang sangat urgen itu adalah sudah siapkah kita menghadapi kiamat diri? Menurut Afif, kita sebagai masyarakoat Indonesia ini harus sering-sering diberi “peringatan”, salah satunya dengan isu kiamat yang pernah rame beberapa bulan lalu. Tapi kita juga tahu bahwa bangsa kita beberapa lalu mendapat peringatan nyata seperti terjadinya bencana sunami dan gempa yang menelan banyak meninggal. Bukankah ini juga kiamat bagi mereka yang dalam ketentuan-Nya meninggal waktu itu?

Selanjutnya Afif menegaskan. Jangan pernah kita membuat Allah Swt. murka terhadap segala perbuatan kita yang semakin hari malah semakin jauh dari agama, melakukan tindakan kemaksiatan yang melwati batas, melakukan pengrusakan terhadap alam, atau pun melakukan penistaan terhadap agama dan rasul-Nya. Sudah saatnya, sekarang ini kita memperbaiki diri agar dalam menjalani kehidupan ini jauh dari perilaku-perilaku yang jauh dari tuntunan-Nya.

Kalau ditanya apa peran akademis dalam menciptakan kondisi umat kembali ke jalannya? Afif menjawab, sebagaimana peran dan fungsinya. Para pakar akademisi tidak dapat merubah sesuatu menyangkut umat itu sendirian, peran ulama dan ustad, serta umat sendiri yang dapat memperbaiki terjadinya suatu yang buruk di negeri ini. Sehingga aas nama agama dan Islam, kita tidak perlu mengkotak-kotakan status dan profesi, yang pokok adalah bersatu padu dalam menegakan ajaran Allah Swt. Sehingga bicara kiamat atau kematian bukanlah hal yang mengerikan lagi, justru bila kita yang senantiasa berimand an bertaqwa kepada-Nya, kita akan senantiasa rindu bertemu dengan-Nya, baik emlalui hari ekmataiannya maupun hari kiamat. Ahmad.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment