Jangan Bersedih, Mari Cari Sisi Positif Dari Musibah

Puing-puing bekas masjid

PERCIKANIMAN.ID – – Bersedih ketika ditimpa musibah adalah sebuah hal yang wajar. Umumnya, manusia membutuhkan waktu tiga sampai enam bulan untuk recovery, sebelum akhirnya benar-benar terbebas dari tekanan kesedihannya. Kesedihan yang melebihi enam bulan memerlukan penanganan serius dengan bimbingan terapi konseling.

Ada kalanya manusia memakai ‘topeng’ untuk menutupi kesedihannya. Dia berpura-pura ceria di hadapan orang lain padahal hatinya menangis. Hal ini ini juga merupakan kondisi psikis yang tidak sehat. Diperlukan seseorang yang ia percaya untuk membagi masalahnya, misalnya teman dekat atau ustadz kepercayaan.

alquran muasir

Psikolog Alva Handayani mengungkapkan, tak jarang musibah yang menimpa seseorang atau kelompok menimbulkan kesedihan yang dialami berakibat pada timbulnya trauma pada diri seseorang.  Menurutnya trauma adalah kejadian yang teramat sangat mengganggu kestabilan emosional.  Penyebab trauma sangat variatif. Kematian, musibah, kecopetan, bahkan digodain –sampai dicolek, misalnya– dapat menjadi penyebab trauma, tergantung pada kondisi kejiwaan setiap orang. Lebih jauh, reaksi trauma seseorang dapat berupa phobia, ketakutan yang irasional.

“Cara menyembuhkannya yaitu dengan bantuan psikolog. Oleh psikolog, pasien akan dibawa –salah satu caranya dihipnotis– ke masa lalu untuk mengungkap dan menyelesaikan permasalahan yang ia pendam ke alam bawah sadarnya. Dari psikoterapi akan digali berbagai informasi yang mungkin menjadi penyebab trauma,”ujarnya kepada percikaniman akhir pekan lalu.

Ia menyarankan bagi korban musibah jika mengalami trauma untuk melakukan konsultasi khususnya pada psikolog. Namun Alva menyarankan sebaiknya konsultasi jangan dilakukan sendirian. Karena kalau sendirian, akan ada perasaan bahwa dia adalah orang paling malang sedunia.

kalender

“Sama misalnya seperti orang yang kena AIDS, jiks masuk dalam komunitas penderita AIDS, dia tidak akan merasa sendirian. Dia akan melihat bahwa orang lain juga memiliki masalah, dan hal ini dapat membangkitkan semangatnya untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Orang yang sedang depresi akan berpikiran negatif tentang diri, lingkungan, dan masa depannya.  Kalau sendirian, dia akan tetap dengan pikirannya itu dan tidak ada yang mengoreksi.  Teman atau orang-orang di dekatnya bisa mengoreksi persepsinya yang salah,”imbuhnya.

Alva menambahkan kalau dia dalam kondisi yang emosional, yang harus diredakan itu adalah emosinya dulu, agar dia bisa berpikir. Karena emosi dan rasio itu tumpang tindih. Ketika emosi terlalu banyak, rasio tidak efektif berfungsi. Tapi kalau emosi sudah diredakan, kita bisa masuk untuk mengajaknya berpikir. Jadi kita hanya perlu menemani dia agar mau bercerita.

“Setelah orang-orang terdekat dianggap tidak mampu membantu menyelesaikan masalah, baru meminta bantuan ahli untuk menangani. Patokan jarak waktu yang ada dalam Pedoman Pendirian Diagnosis untuk psikologi dan kedokteran jiwa menyebutkan bila dalam waktu tiga bulan ia masih juga sedih, ada baiknya kita dekati pelan-pelan. Mungkin dalam waktu tiga bulan tersebut dia masih ingin sendiri. Kalaupun sulit membawa dia langsung ke psikolog, orang terdekatnya pun boleh yang pergi ke psikolog untuk mendapatkan solusi yang dibutuhkan,”jelasnya.

Ketika seseorang sudah bisa mencapai titik balik ke normal lagi tandanya dia sudah menerima apa yang menjadi cobaan baginya. Harus dimulai dari dirinya sendiri. Tidak lagi melakukan penyangkalan terhadap apa pun yang menimpanya. Harus yakin, bahwa bisa menjadi orang baru kelak. Penerimaan dan keinginan untuk berubah merupakan hal yang perlu kita hargai.

“Tegar adalah skill yang dialami seseorang ketika sudah memerima musibah. Ketika seseorang bisa mengambil manfaat dari musibah yang ia terima, ketegaran akan muncul. Kalau dalam Islam disebutkan bahwa setiap masalah pasti ada hikmahnya, dalam psikologi dikatakan bahwa setiap kejadian (buruk) pasti ada sisi positifnya,”ujarnya.

Setiap orang sering kali melakukan dialog dengan dirinya sendiri, ada bagian diri yang selalu positive thinking (berpikir positif) dan ada pula yang bad thinking (berpikir buruk) yang saling bertentangan. Makanya, selalu usahakan sisi positif dari diri kitalah yang menang. Kalau kita sudah tidak bisa memegang kendali diri sendiri, sisi negatiflah yang selalu menang. Jadi, yang paling berpengaruh terhadap segala sesuatu adalah diri sendiri.  Dan lawan yang paling sulit ditaklukan, adalah diri sendiri. Ketika kita menyadari bahwa kita sebenarnya punya masalah, justru pada saat itu kita bisa berpikir untuk mencari penyelesaian. Karena, pada saat kita tak mau mengakui kalau sebenarnya kita memang punya masalah maka kita tak akan berusaha untuk mencari jalan keluarnya. Pada saat problem solving itulah kita melakukan identifikasi masalah, mencari alternatif jalan keluar, dan akhirnya melakukan sesuatu. Makanya, ketika kita menolak mempunyai masalah, kita tidak akan pernah melakukan identifikasi.

Ada macam-macam defense mekanism dari seseorang untuk melindungi diri dari kemungkinan disakiti atau mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan, di antaranya dengan membuat benteng, ketika seseorang pernah disakiti, secara emosional dirinya akan menjaga jarak dengan orang lain. Cara lain yaitu dengan melupakan masalah atau melarikan diri dari persoalan.  Semua hal tersebut tidak akan memecahkan permasalahan.

“Hal tersebut hanya cara seseorang untuk mempertahankan dirinya. Sebaiknya, bila kita punya masalah, harus dihadapi dan diselesaikan. Karena, sebesar apa pun usaha kita untuk melupakan masalah, hal tersebut sebenarnya tidak akan menyelesaikan masalah,”pungkasnya.

 

Rep: Indi & Rika

Editor: iman

Ilustrasifoto: norman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment