Lempar Janji Sembunyi Iman (Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 100-102) Bag. 3

tembok ratapan

Oleh : Dr. H. Aam Amiruddin


“Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu. Karenanya, janganlah menjadi kafir.’ Maka, mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat memisahkan antara suami dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka sudah tahu, siapa saja yang menggunakan sihir itu, pasti tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Sesungguhnya, sangat buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir sekiranya mereka tahu.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 102)

alquran muasir

Yahudi gagal telah berlindung di balik kitab Taurat dalam aksi menentang kedatangan Nabi Muhammad Saw. dan Al-Quran yang memang isinya sesuai dengan Taurat. Untuk menutupi rasa malu, mereka mencari “pelarian” agar kedua-duanya (Al-Quran dan Taurat ) dapat ditentang. “Pelarian” itu mereka dapatkan dari sebuah “catatan” bernuansa gaib yang sempat ada pada zaman Nabi Sulaiman.

Mengenai kisah “catatan” tersebut, selengkapnya dimuat dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim yang diterima dari Ibnu Abbas yang kami rangkum sebagai berikut.

Nabi Sulaiman mempunyai seorang sekretaris bernama ‘Ashif. Tugas ‘Ashif adalah mencatat segala hal yang menjadi kepentingan Nabi Sulaiman. Kemudian, catatan itu disimpan oleh Nabi Sulaiman di bawah singgasana beliau.

kalender

Setelah Nabi Sulaiman wafat, catatan itu dikeluarkan oleh setan dengan sengaja dengan menyisipkan hal-hal yang berbau kekufuran dan sihir pada setiap dua barisnya. Selesai melakukan itu, setan mengatakan bahwa yang ada dalam catatan itulah yang selama ini diikuti oleh Nabi Sulaiman.

Versi riwayat lain menyebutkan bahwa sejumlah peramal di zaman Nabi Sulaiman biasa menerima informasi dari setan yang sering mengintip rahasia-rahasia di langit. Setelah para peramal tersebut manggut-manggut pada yang disampaikannya, setan lantas memanfaatkan situasi tersebut dengan menambahkan sebagian kabar bohong pada info yang disampaikan yang kemudian dicatat dalam lembaran-lembaran khusus. Perilaku tersebut diketahui oleh Nabi Sulaiman semasa hidupnya. Lalu, Nabi Sulaiman melakukan tindakan dengan membasmi dan menyita catatan-catatan tersebut yang kemudian beliau tanam di bawah singgasana dan dijaga dengan ketat. Setelah Nabi Sulaiman dan pengikutnya yang mengerti persoalan tersebut tiada, setan mengambil kesempatan ini untuk mengelabui dan membuat tipu daya kepada generasi yang masih awam, termasuk Bani Israil. Dan, sebagian Bani Israil mempercayai iming-iming setan tersebut.

Perbuatan setan itu menyebar ke seantero negeri sehingga sebagian besar penduduk menganggap bahwa Sulaiman telah kafir dengan mengajarkan ajaran yang sesat dan mereka pun memaki-maki Sulaiman. Sementara, orang-orang yang mengerti hanya diam karena tidak banyak yang bisa mereka perbuat.

Tersebut pula dalam riwayat lain bahwa menurut Ibnu Abbas, Nabi Sulaiman biasa mendatangi istri-istrinya dengan terlebih dahulu menitipkan cincinnya kepada pembantunya. Kebiasaan itu dimanfaatkan oleh setan untuk mendukung aksi jahatnya dengan menyudutkan dan memfitnah Nabi Sulaiman. Suatu ketika, setan menjelma menjadi Nabi Sulaiman dan kemudian berpura-pura mendatangi pembantu dan meminta cincin yang sebelumnya dititipkan Nabi Sulaiman. Beberapa waktu kemudian, Nabi Sulaiman yang asli datang kepada pembantu tersebut dan seperti biasa meminta cincin yang dititipkannya. Namun, pembantu tersebut berkata bahwa orang ini (Nabi Sulaiman yang asli) berdusta dan menyebut beliau sebagai Sulaiman palsu. Menyadari ada yang salah, Nabi Sulaiman pasrah dan memahami bahwa fitnah sedang menerpa dirinya. Ketika berita itu tersebar, orang-orang yang semula mengikutinya, kini menjauh dan bahkan mengkafirkan Nabi Sulaiman.

Membantah aksi setan yang menyebar isu tidak sedap mengenai Nabi Sulaiman, Allah Swt. menurunkan ayat ke-102 surat Al-Baqarah tersebut.“Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir.”

Tuduhan keji yang dilancarkan setan berikutnya adalah bahwa Nabi Sulaiman merupakan pengajar dan pengguna sihir. Hal itu dibantah oleh Allah Swt. dengan menyatakan sesungguhnya setanlah yang justru telah membuat sihir tersebut.

Perbedaan pendapat terjadi di kalangan ahli tafsir mengenai asal muasal adanya sihir dan siapa sebenarnya Harut dan Marut yang disangkut-pautkan dengan sihir dalam ayat tersebut. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa keberadaan sihir memang dimulai sejak zaman Nabi Sulaiman dan Nabi Daud (ayahanda Nabi Sulaiman). Namun, sebagian ahli tafsir yang lain mengatakan bahwa sihir ada sejak zaman Nabi Musa a.s. Ada pula yang megatakan bahwa sihir sudah ada sebelum Nabi Musa a.s.

Sementara mengenai siapa Harut dan Marut dalam ayat tersebut, sebagian ahli mengatakan bahwa mereka adalah nama orang di Babil (Babilonia) yang mendapat pengajaran sihir dari setan. Sebagian ahli tafsir yang lain menyatakan bahwa keduanya adalah nama kabilah di Babilonia. Ada pula yang mengatakan bahwa keduanya adalah malaikat yang diutus untuk mengajarkan sihir sebagai ujian bagi manusia. Melihat redaksi ayat tersebut, dikuatkan dengan sejumlah riwayat dan atsar yang tidak bisa kami paparkan selengkapnya di sini, pendapat terakhir lebih kuat untuk diterima. Harut dan Marut merupakan dua Malaikat yang diutus oleh Allah sehubungan dengan adanya protes di kalangan malaikat yang heran melihat perilaku manusia. Sebelum diturunkan, Harut dan Marut ini mengikat janji kepada Allah untuk tidak mengikuti kelakuan manusia. Bersamaan dengan diturunkannya dua malaikat ini, Allah menurunkan malaikat lain yang menjelma menjadi perempuan super cantik bernama Zahrah untuk menguji dua malaikat tersebut. Allah menurunkan Harut dan Marut dengan diberi nafsu syahwat. Zahrah pun berpura-pura mengadukan masalah suaminya dan meminta nasihat. Ketika nasihat yang mereka berikan dirasa tidak adil, Zahrah pun beranjak pergi namun segera dihalangi oleh Harut dan Marut yang berhasrat terhadap Zahrah. Pendek cerita, Zahrah mengajukan syarat agar keduanya mengikuti ajaran sesat yang dianutnya. Demi hasrat syahwat, keduanya mengikuti syarat tersebut dan karenanya Allah memberikan teguran dan kutukan. Terlepas dari rahasia di balik riwayat yang cenderung aneh ini, kisah Harut dan Marut menjadi kisah tambahan mengenai adanya malaikat yang membelot seperti Iblis. Wallahu a’lam.

Harut dan Marut menjalankan tugas utama untuk menguji manusia dengan ilmu sihir. Itulah sebabnya sebelum manusia datang meminta, mereka selalu mengatakan, “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.”

Selain menjadi penjelas bagi rangkaian kisah penolakan kaum Yahudi pada kedatangan Nabi Muhammad Saw., ayat ini menjadi petunjuk bahwa sihir merupakan perbuatan terlarang yang mengancam autentisitas keimanan seseorang. Karenanya, jangan sekali-kali melacurkan diri dalam perbuatan sihir yang hanya membawa kesengsaraan dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment