Kisah Haji Mallaleng, Pergi ke Tanah Suci dengan Perahu Kecil

perahu pinisi

INI adalah kisah nyata. Di peda­laman masyarakat Sulawesi Selatan terletak sebuah desa kecil bernama Desa Ujung, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone. Begitu jauh dan terpencilnya desa ini maka namanya pun disebut desa Ujung. Meskipun desa terpencil tetapi penduduknya memiliki kekhusuusan sebagai perantau ulung (Passompe’).

Masyarakatnya juga dikenal reli­jius. Di desa ini, ada mesjid tua yang konon menggunakan jasa orang-orang Belanda ketika membangunnya. Menara yang menjulang tinggi yang masih bisa disaksikan sampai sekarang. Umumnya, masyarakat di desa ini mengikuti tarekat Khalwatiah yang berpusat di Maros, 30 kilometer dari kota Makassar.

alquran muasir

Salah seorang warga desa ini melakukan perjalan nekad menuju ke tanah suci Mekah dengan menggunakan perahu Phinisi kecil yang dimilikinya. Perahu Phinisinya hanya mengandalkan layar karena pada saat itu be­lum ada mesin yang bisa membantu pelayaran sebagaimana halnya perahu-perahu phinisi dewasa ini. Dari Teluk Bone Sulawesi Selatan ia bertolak menuju benua Australia dengan perahu sederhana.

Di Australia transit dan menanam jagung di sebuah lahan kosong. Setelah panen jagung yang kemudian menjadi perbekalannya ke tanah suci, ia meninggalkan Australia menuju anak benua India, sayang nama daratannya tidak diketahuinya. Di India, ia menanam jagung dan menunggu sampai panen untuk menjadi bekalnya diperjalanan, akhirnya ia sampai di tempat tujuan, kota Mekkah dan pada akhirnya menunaikan ibadah haji.

Setelah menunaikan rukun Islam kelima, ia kembali melalui rute yang sama dan dengan cara yang sama. Menyambung hidup dengan cara menanam jagung di tempat persinggahan. Yang luar biasa, karena ia mendarat di daratan yang dituju dalam kondisi memungkinkan untuk menanam jagung. Kemampuan ilmu bintang yang dikuasainya mampu mendeteksi musim apa yang sedang terjadi di negara tempat tu­juan. Dengan berbekal perahu layar, sendirian menunaikan ibadah haji dengan cara yang unik. Ia menghabiskan waktu dua tahun pulang pergi ke tanah suci dalam tahun 50-an, ketika negara kita masih menghadapi cobaan politik yang begitu rumit. Hubungan diplomatik belum terlalu umum seperti halnya sekarang, tetapi H. Mallaleng sudah berhasil menjadi seorang Haji.

kalender

Niat warga desa Ujung ini berhasil menem­bus laut bebas hingga menelusuri sepanjang selat atau laut Merah dan tiba di pelabuhan Jeddah. Tidak lama setelah tiba di Tanah Suci musim haji tiba dan dia pun menunaikan haji dengan baik. Yang menarik dari orang ini tidak bisa sama sekali menguasai bahasa lain selain bahasa Bugis.

Bisa dibayangkan bagaimana besar rintangan yang dialami seorang peran­tau seorang diri, tanpa perbekalan mamadai tetapi mampu menyempurnakan pelaksanaan ibadah hajinya di Mekkah. Setelah rangkaian haji sudah selesai dan tiba kembali di desanya setelah menempuh perjalanan panjang selama tiga tahun. Ia semula disangka oleh keluarganya sudah mati syahid karena tidak pernah mengirim kabar. Ia diberi gelar oleh keluarga dan warga desanya dengan nama Haji Mallaleng (Bugis: Haji Pejalan kaki).

Mungkin tidak akan pernah lagi orang yang bisa senekad dengan Haji Mallaleng, karena dalam era ini sudah era pesawat terbang ber­badan lebar. Haji Mallaleng telah menggores sejarah dan kini hanya makamnya yang masih tegar bisa disaksikan di Desa Ujung. Semoga ia wafat dengan haji Mabrur. ***

Sumber : Rakyat Merdeka

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment