Haruskah Mencolek atau Tepuk Punggung Saat Masbuq?

shalat

Pak Ustadz, kalau kita masbuq pada orang yang shalat sendirian apakah kita harus menepuk punggung? Kalau tidak menepuk bagaimana? Terus bila ada dua orang yang sedang shalat berjamaah sejajar, kalau ada yang ikut lagi, apakah sebaiknya imam yang maju ke depan atau ma’mum yang mundur?

Kalau Anda berma’mum sebenarnya tidak ada keharusan untuk menepuk pundak atau pungung. Yang penting, orang itu tahu Anda sedang berma’mum. Misalnya dengan cara Anda bertakbir atau Anda berdiri di sebelahnya. Itu sudah cukup jelas kalau Anda sedang berma’mum.

alquran muasir

Ada kebiasaan di kita ini suka culak-colek, menepuk punggung, lalu takbir. Hal ini sebenarnya tidak perlu dilakukan. Tetapi yang penting, si imam tahu bahwa ada orang yang sedang berma’mum, supaya  suara takbir  imam lebih keras. Kesimpulannya, tidak ada keharusan tepuk-menepuk punggung.

Kemudian kalau ternyata Anda sedang berjamaah berdua, itu kan posisinya sejajar. Lalu ada orang yang masbuq. Caranya harus bagaimana? Apakah imam yang harus maju ke depan atau ma’mum yang mundur?

Silakan liat situasi. Kalau di depan imam itu ada dinding, tentu imam tidak mungkin untuk maju ke depan, berarti si ma’mum yang harus mundur. Tetapi di depan masih kosong, dan ma’mum di sebelah kanan tidak mengerti, maka si imam bisa bergerak ke depan.

kalender

Jadi tergantung situasi dan kondisi, bisa imam yang melangkah ke depan atau ma’mum yang mundur ke belakang. Dua-duanya boleh dilakukan. Yang penting kata Nabi, Shalat berjamaah itu lebih afdhal dari pada shalat sendirian. Perbedaannya bisa sampai 27 derajat.  Ada juga yang berpendapat perbedaannya bisa sampai 25 derajat. Itulah keutamaannya.

Berarti pada saat masuk masjid, kita cari apakah ada yang sedang shalat atau tidak. Siapa tahu, kita dapat berma’mum agar bisa meraih pahala shalat berjamaah.

Lalu ada pula kasus ketika kita sedang shalat rawatib, tiba-tiba ada yang ma’mum ikut shalat di belakang kita. Hal ini tidak perlu menjadi masalah.  Dalam situasi seperti ini, imam dan ma’mum berbeda niat  tidak  menjadi persoalan.

Saat imam berniat shalat rawatib, lanjutkan niat rawatibnya, yang berma’mum pun lanjutkan dengan niat shalat wajibnya. Setelah imam selesai shalat dua rakaat rawatibnya, si ma’mum bisa melanjutkan rakaat shalat wajibnya. Ini dapat terjadi karena ma’mum tidak tahu Anda sedang berniat shalat rawatib.

Apakah ma’mum mendapat pahalas shalatnya? Ya tentu saja. Karena dia sudah berikhtiar untuk shalat berjamaah. Akan tetapi bila kita sudah tahu kalau orang tersebut sedang shalat rawatib, ya kita tentu jangan berma’mum. Kalau Anda tahu di depan Anda sedang shalat rawatib, Anda tidak perlu berma’mum kepadanya. Tapi kalau Anda tidak tahu, tentu tidak perlu khawatir, ikutlah berma’mum demi ikhtiar shalat berjamaah. Wallahu’alam..

 

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

[AdSense-A]

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment