Bagaimana Peran Akal dalam Menafsirkan Al-Qur’an?

alquran, tafsir,

Ustadz Aam Amiruddin, sejauhmana peranan akal dalam menafsirkan Al-Qur’an? Pasalnya, ada yang mengatakan kita tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an dengan akal. Kalau begitu, sejauhmana peranan akal?

 



Islam memberikan nilai yang amat tinggi terhadap akal manusia, hal itu dapat dilihat pada poin-poin berikut. Pertama, akal sehat merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah Swt. Hukum-hukum syari’at tidak berlaku bagi mereka yang akalnya tidak berfungsi. Rasulullah Saw. bersabda, “Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan, di antaranya orang yang gila sampai ia kembali sadar (berakal).” ( H.R. Abu Daud dari Ali, Sunan Abu Daud, Kitab al-Hudud, vol.II, hal.339. Daar el-Fikr).

alquran muasir

Kedua, Allah Swt. hanya menyampaikan firman-Nya kepada orang-orang yang berakal karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syari’at-Nya. Allah Swt. berfirman, “...Dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat.” ( Q.S. Śād [38]: 43).

Ketiga, Al-Qur’an menyebut sejumlah proses dan aktivitas pemikiran sebagai amalan yang sangat mulia, seperti tadabbur, tafakkur, ta’aqqul. Kalimat semacam “la’allakum tatafakkarun” (mudah-mudahan kamu berfikir), atau “afalaa ta’qiluun” (apakah kamu tidak berakal), atau “afalaa yatadabbaruun” (apakah mereka tidak merenungi), banyak mewarnai firman-firman-Nya dalam Al-Qur’an.

Keempat, Islam mencela taqlid (mengikuti pendapat orang lain tanpa pemikiran jernih) yang membatasi dan melumpuhkan fungsi
dan kerja akal. Allah berfirman, “Jika dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.’ Mereka menjawab, ‘Tidak! Kami akan mengikuti apa yang dilakukan nenek moyang kami.’ Pada hal, nenek moyang mereka tidak mengetahui apapun dan mereka tidak mendapat petunjuk.” ( Q.S. Al-Baqarah [2]: 170)

kalender

Kelima, Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran. Allah berfirman, “…Oleh karena itu, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” ( Q.S. Az-Zumar [39]: 17-18).

Mencermati poin-poin di atas, tampaklah betapa Islam menghargai kedudukan akal. Pertanyaannya, benarkah kita dilarang menafsirkan Al-Qur’an dengan akal? Padahal, Islam begitu banyak memberikan penghargaan pada akal. Kita diharamkan menafsirkan Al-Qur’an dengan akal apabila penafsiran itu dilakukan dengan serampangan alias tidak mengikuti kaidah-kaidah yang baku. Namun, kalau penafsiran dengan akal itu mengikuti metode-metode tafsir Al-Qur’an yang baku, tentu saja itu tidak dilarang.

Atas dasar itu, para ulama telah menyusun sejumlah prinsip dan kaidah umum agar terhindar dari berbagai bentuk kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu:

Pertama, menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an sendiri. Apa yang tidak jelas pada salah satu bagiannya, akan dijelaskan pada bagian lainnya. Yang kita lakukan di sini adalah kembali kepada penjelasan Allah Swt. sebab Dia-lah yang lebih tahu tentang apa yang Ia sampaikan dan apa yang Ia inginkan daripadanya.

Kedua, jika penjelasan itu tidak dapat kita temukan dalam Al-Qur’an, langkah selanjutnya adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan Sunah Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. adalah utusan yang bertugas menyampaikan wahyu dari Tuhannya, sehingga Ia akan lebih mengerti maksud dan kehendak-Nya. Allah Swt. sendiri telah menjamin bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah mengucapkan sesuatu dari hawa nafsunya. Karena itu, merujuk pada tafsir beliau tentu lebih utama dan lebih layak daripada yang lain. Firman-Nya, “…Agar kamu terangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka berpikir.” (Q.S. An-Naĥl [16]: 44).

Allah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah (Sunnah) kepada mereka meskipun sebelumnya mereka dalam kesesatan nyata.” (Q.S. Al-Jumu‘ah [62]: 2). Yang dimaksud dengan mengajarkan kitab kepada mereka artinya menjelaskan makna-makna dan hukum-hukumnya.

Sunah Rasulullah adalah penjelasan dan tafsir yang dapat menyingkap rahasia, muatan, dan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ia menafsirkan ayat-ayat yang masih bersifat umum dan menjelaskan ayat-ayat yang masih samar. Karena itu, hilangnya satu bagian dari Sunah Rasul sama buruknya dengan hilangnya satu bagian dari Al-Qur’an. Oleh karena itu, ummat Islam sepanjang sejarah telah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan memelihara kelangsungan keabsahan dan validitas sunah Rasulullah.

Ketiga, jika kita tidak menemukan penjelasan itu dalam sunah Rasulullah Saw., langkah selanjutnya adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapat para sahabat. Sebab para sahabat menyaksikan proses turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah Saw., mengetahui sebab-sebab, serta berbagai situasi dan peristiwa saat Al-Qur’an diturunkan. Di samping itu, merekalah generasi yang lebih memahami pelik-pelik bahasa Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka. Di atas semua itu, mereka telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, percaya pada seluruh kandungan dan makna Al-Qur’an,
serius dalam memahami dan merenungi makna-maknanya, kemudian konsisten dalam mengamalkannya sepanjang hayat mereka.

Kempat, jika kita tidak menemukan penjelasan dari para sahabat Rasulullah Saw., langkah selanjutnya adalah mencari penjelasan dari para tabi’in (menafsirkan Al-Qur’an dengan penjelasan para tabi’in). Tabi’in adalah murid para sahabat. Rasulullah Saw. sendiri telah menyatakan bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah generasi sahabat. Sabdanya, “Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman sesudahku, kemudian zaman sesudahnya lagi.” ( H.R. Muslim dari Abdullah, Sahih Muslim, Fadhoilu al-Shahabat, vol.II, hal.503, Daar el-Fikr). Itulah sebabnya, merujuk pada penjelasan dan tafsir mereka jauh lebih baik dan lebih layak dibandingkan tafsir yang lain.

Apabila keempat tahapan ini sudah dilewati, baru kita menggunakan kekuatan rasio atau akal untuk memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Kesimpulannya, Islam sangat menghargai kedudukan akal manusia. Kita diperkenankan menafsirkan Al-Qur’an dengan akal asalkan mengikuti aturan-aturan baku dalam penafsiran Al-Qur’an, yaitu sebelum menafsirkannya dengan kekuatan akal, terlebih dahulu kita harus menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, kalau tidak ada tafsirnya dalam Al-Qur’an kita tafsirkan dengan sunah Rasul, kalau tidak ada dalam sunah kita tafsirkan dengan pendapat sahabat, dan kalau tidak kita temukan penafsiran mereka, kita tafsirkan dengan pendapat tabi’in. Setelah itu semua dilewati, barulah kita tafsirkan dengan kekuatan akal. Wallahu A’lam.
* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

[AdSense-A]

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah