Menumbuhkan dan Membangun Rasa Percaya Diri Pada Anak (bag.1)

251

Oleh:dr.Zulaehah Hidayati*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Suatu hari seorang anak laki – laki pulang dari sekolahnya dengan wajah muram. Namun sang bunda justru menyambutnya dengan senyum lembut dan sapaan hangat. Setelah mendengar cerita sang bunda baru tahu bahwa  buah hatinya tersebut di sekolah sering diolok temannya karena memiliki tubuh yang pendek. Peristiwa tersebut tidak hanya sekali terjadi namun berkali-kali. Seperti saat usai pulang bermain sang anak mengeluh bahwa dia tidak memiliki wajah yang tampan,ini pun menjadi bahan ejekan teman-temannya.Akhirnya ia ingin menjadi orang lain yang tinggi dan tampan.

alquran muasir

Menghadapi keluhan sang anak,bundanya tidak sedikit pun terpengaruh. Sikap yang sama selalu bunda berikan saat anaknya mengeluh.Sang bunda merasa tidak ada masalah soal penampilan sang anak.Untuk itu setiap kali sang anak mengeluh,bunda selalu meyakinkan bahwa baginya sang anak telah sempurna,tidak ada yang kurang. Ungkapan terseut bukan sekedar menghibur dirinya sendiri,dengan penuh keyakinan sang bunda berkata. “Sayang,kau tidak perlu kawatir. Semua yang kau keluhkan bukan masalah.Kau tidak perlu menjadi orang lain,karena kau sudah sangat sempurna.Ketahuilah bahwa setiap orang dilahirkan unik dan tidak ada yang sama satu lain. Kau memiliki seseutau yang indah untuk dibagikan pada semua orang. Bunda mencintaimu apa adanya.”

Perkataan tersebut mungkin terdengar sepele bagi orang lain. Namun bagi sang anak itu sangat berarti dan membekas dalam hati serta sikapnya. Selang bertahun kemudian keajaiban menghampiri kehidupan sang anak,berkat kata-kata bundanya tersebut.Anak laki-laki yang hanya tamatan sebuah sekolah menengah pertama tersebut telah menjelma menjadi sosok yang begitu dikagumi ratusan juta orang di seluruh dunia karena karyanya. Dunia pun akhirnya jatuh hati padanya.

Ayah bunda tahu siapa anak yang beruntung itu?. Dialah Billy Joel,yang namanya menjadi salah satu legenda musik pop dunia karena lagu yang diciptakannya yang berjudul “Just The Way You Are” mampu menghipnotis dunia. Kata-kata sang bundanya tidak pernah hilang dari sanubarinya. Ia akhirnya memilih untuk menjadi diri sendiri bukan menjadi orang lain. Kata – kata sang bunda telah mendorongnya untuk sukses dan menjadi idola jutaan penggemarnya.Bahkan untaian lirik lagunya kemudian membuatnya dianugerahi penghargaan Grammy Award.

kalender

Perjalanan sukses Billy Joel adalah sebuah kisah sukses tentang orang tua (bunda) yang mencintai anaknya tanpa syarat. Kisah salah satu orang tua yang sukses membangun dan menumbuhkan rasa percaya diri pada sang anak.  Di saat sang anak belajar mengenal siapa dirinya dengan membandingkan dengan orang lain. Sang bunda menuntunnya untuk yakin bahwa menerima dan menjadi diri sendiri adalah hal terbaik untuk menjalani hidup selanjutnya.

Menumbuhkan dan membangun rasa rercaya diri pada anak sebenarnya bukan hal yang susah jika tahu ilmu dan caranya.Disini kita akan belajar tips-tipsnya yang kita singkat menjadi PARENTING yang kalau dijabarkan menjadi:Pengasuhan anak yang benar,Anak adalah anugerah,Redam amarah,Empati mendengarkan,Notifikasi pembicaraan dan tindakan,Tanamkan energi positif,Istiqomah (konsisten),meNGadakan time out. Berikut penjelasannya:

  1. P = Pengasuhan anak yang benar.

Sebagian besar para orang tua secara umum menerapkan pola kepengasuhan anak yang konvensional. Orang tua mendapat cara mengasuh anak secara turun temurun,baik “warisan”orang tuanya maupun dari masyarakat sekitar.Cara konvensional tersebut telah menjadi tradisi sehingga muncul anggapan pola pengasuhan tersebut sudah pasti benar dan tidak perlu diganti.Jika kita runut pola konvensional ini mempunyai beberapa pola yang hampir sama,yaitu seperti anggapan orang tua menjadi pusat kebenaran sehingga anak menjadi pihak yang selalu salah,orang tua selalu memaksakan kehendak,orang tua lebih sering melarang dan sebagainya.

Dengan pola tersebut maka orang tua akan membentuk anak-anaknya dengan kebiasaan sesuai yang diajarkannya.Mengutip sebuah puisi karya Dorothy Law Nolte yang menuliskan, Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,dia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan,dia belajar percaya diri.

Oleh karena itu dijaman modern ini para sahabat anisa yang telah menjadi orang tua harus belajar tentang cara mengasuh anak yang baik dan benar sesuai dengan ilmu kepengasuhan. Untuk itu para orang tua harus mengubah cara mengasuh anak yang tidak lagi berdasar pengalaman orang tuanya mengasuh dirinya dulu. Dengan mempunyai pola pengasuhan yang baik dan benar maka otomatis orang tua mampu membangun anak-anaknya mempunyai rasa percaya diri sejak dini.

  1. A = Anak adalah anugerah

Ada ungkapan bahwa anak adalah amanah atau titipan dari Allah swt.Maka berbahagialah dan bersyukurlah bagi sahabat anisa yang telah menjadi orangtua yang telah diberi amanah, itu berarti Allah telah percaya pada kita. Karena tidak sedikit pasangan yang belum mendapat amanah tersebut atau dikarunia anak.  Anugerah yang tak ternilai ini harus kita syukuri,salah satunya dengan cara melaksanakan kewajiban kita untuk mendidiknya dengan baik.

Menjadikan mereka anak-anak yang saleh dan salehah adalah keingin semua orang tua,karena dengan begitu insya Allah akan mengurangi dosa-dosa kita. Ketika kita telah tiada,maka pahala tersebut akan terus mengalir kepada orang tuanya. Anak-anak yang saleh akan senantiasa berbuat kebajikan dan tiada henti mendoakan orang tua baik ketika masih ada maupun telah tiada.

Oleh karena itu,mestinya orang tua tidak terpikir sedikit pun menghancurkan jiwa mereka yang masih polos dan lugu dengan jalan memarahi,membentak dengan disertai ancaman serta segala bentuk larangan yang tidak berasalan. Mereka bukan beban orang tuanya,maka tidak sepatutnya orang tua banyak mengeluh dalam mendidik,mengasuh hingga membesarkannya baik jiwa maupun raganya. Sekali lagi syukurilah anugerah ini dengan tulus.

  1. R = Redam kemarahan

Tidak dipungkiri tingkah polah anak terkadang membuat para orang tua jengkel,kesal hingga menimbulkan rasa marah. Namun harus dipahami bahwa tidak ada satu pun anak yang mempunyai niat untuk membuat marah orang tuanya. Apa yang dilakukan anak-anak adalah wujud ekspresinya yang wajar ketika mendapat kegembiraan,kurang suka pada sesuatu atau ekspresi kesedihannya karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Hendaknya para   orang tua bisa menggali penyebabnya lalu memahaminya dengan bijaksana.

Apapun ekspresi anak jangan sampai orang tua memarahinya,apalagi secara berlebihan yang disertai dengan ancaman atau tindakan kasar. Ingat,memarahinya hanya akan memancing anak lebih emosional dan bersikap lebih agresif.Untuk itu jangan lawan “kemarahannya” dengan kemarahan kita,sikap ini hanya akan melahirkan sikap permusuhan. Berusalah untuk bersabar dalam menghadapi sikapnya dan tetap redam amarah.  Kembali jika kita baca sebuah puisi karya Dorothy Law Nolte yang lain menuliskan, Jika anak dibesarkan dengan celaan,dia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,dia belajar berkelahi.

Dalam Islam sendiri Rasulullah sudah mengajarkan kepada kita bahwa ketika marah,secepatnya kita berlindung kepada Allah Swt dengan membaca ta’awud. Sebab disaat itu setan membisiki manusia untuk berbuat dosa,yakni lewat marah. Untuk itu :

bersabarlah,tahan kemarahan ayah bunda,

diamlah,

jika sedang berdiri,duduklah.Jika sedang dudung ,berbaringlah,

jika masih marah,segera ambil wudu

  1. E = Empati mendengarkan

Setelah menyikapi semua perilaku anak dengan rasa syukur karena kita telah diberi anugerah dan dapat mengelola amarah,hal selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah sikap empati mendengarkan. Sebagian besar para orang tua terbiasa berkomunikasi dengan anak-anaknya hanya satu arah. Dalam mengungkapkan ekspresi kepada anak orang tua lebih banyak menggunakan  kalimat perintah dan larangan.

Ketika mendidika anak dalam setiap kejadian yang kita temui,saat itu juga kita menanamkan satu nilai di dalamnya.Untuk menanamkan nilai yang sempurna,tentunya kita harus paham dulu alur berpikir anak.Setelah itu.barulah kita bisa menanamkan suatu nilai yang disesuaikan dengan alur berpikir anak. Hal ini bisa dilakukan apabila kita mau mendengarkan terlebih dulu hal yang ada dalam pikiran anak. Mendengarkan juga mempunyai efek yang sangat besar bagi perkemabangan jiwa anak. Seorang anak yang didorong untuk mengungkapkan perasaannya dan didengarkan akan merasa dihargai sehingga dapat menjadi anak yang percaya diri.

Kebiasaan mendengarkan dalam keluarga juga berpengaruh positif pada ikatan antara anak dan orang tua,sehingga dapat menjadi benteng pertahanan dari hal-hal atau pengaruh buruk di luar rumah. Sikap orang tua yang mau mendengarkan akan membuat anak tumbuh dan berkembang dengan rasa percaya diri yang besar karena anak merasa kata-katanya didengarkan oleh orang lain (orang tuanya). Insya Allah bersambung. [ ]

*Penulis adalah seorang dokter,Pendiri Rumah Parenting,Penulis buku-buku parenting,praktisi,trainer dan narasumber seminar tentang parenting.

dr zule 2

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment