Belajar Agama Tanpa Sanad yang Jelas, Apa Hukumnya?

kitab

Ada yang bilang bahwa belajar agama itu tidak cukup kalau hanya dengan membaca buku kemudian mendengarkan tausyiah dari beberapa sumber. Tidak cukup atau tidak boleh belajar agama secara otodidak. Alasannya, karena di dalam Al Quran terdapat ayat yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.. (Q.S. An Nisa [4] : 59)” Jadi, harus jelas narasumbernya, belajar harus dari 1 orang, harus ada gurunya. Katanya kalau belajar tidak jelas sanadnya maka tidak sah, analoginya seperti halnya pernikahan, kan ada dua bisa sah dan tidak sah, kalau tidak sah kan ada sanksinya. Jadi, dianalogikan bahwa belajar agama harus ada gurunya, harus jelas, karena nanti ada yang mempertanggunjawabkan.

 
Memang ada sebagian saudara-saudara kita yang menggunakan metode hadits untuk metode belajar bagi masyarakat. Yang diceritakan oleh teman anda itu berlaku dalam ilmu hadits, yaitu orang-orang yang spesialis belajar ilmu hadits.

alquran muasir

Zaman dulu, orang yang belajar ilmu hadits itu ada persyaratannya, yaitu harus jelas sanadnya. Permasalahannya, kodifikasi hadits saat ini sudah selesai, penyusunan hadits itu sudah selesai, yaitu disusun oleh Imam Bukhari, Imam Tirmidzi, Imam Muslim, Nasa’i, Ibn Majjah dan lain sebagainya.

Perhatikan, kalau anda membaca hadits, di situ ditemukan kata-kata rowahul Bukhari, rowahul Muslim atau riwayat Buchori, riwayat Muslim, riwayat Nasa’i, riwayat Tirmidzi. Nah, beliau-beliau ini belajarnya menggunakan metode seperti yang diceritakan oleh teman anda itu, namanya metode sanad.

Pendapat ini betul apabila mempelajari ilmu hadits. Saat ini, hadits sudah terkodifikasi, maka dengan sendirinya metodenya kembali kepada metoda umum. Yang penting kita mendapatkan wawasan tentang islam, apakah mau lewat radio, mau lewat televisi dari berbagai narasumber, mau membaca sendiri, mau diskusi, mau kuliah lagi. Itu bebas kita lakukan.

kalender

Jadi, teman anda menggunakan metoda hadits untuk metoda umum. Itu namanya kesalahan metodologi. Bisa dibayangkan kalau kita harus belajar hanya dari satu sumber dengan sanad yang konsisten di situ, bagaimana kita mau mendapatkan ilmu. Kita sudah punya pekerjaan, ada yang jadi dosen, ada yang jadi guru, ada yang jadi peneliti, ada yang jadi bagian pemasaran, lalu kapan bisa belajar kalau harus dari satu orang. Dengan demikian pernyataan itu tidak realistis.

Pada dasarnya, yang namanya belajar agama, dari sumber manapun selama berbasis dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul, kita boleh ambil.  Taroktu fiikum amroin, aku tinggalkan kepada kamu dua warisan yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul.

Jadi, dari manapun sumbernya selama itu berbasis kepada Al Qur’an dan Hadits, bisa kita ambil tidak perlu menggunakan metoda sanad, karena metoda sanad itu berlaku dalam penelaahan ilmu hadits. Dan itupun sudah terjadi karena kondisi sekarang ini hadits-hadits sudah terkodifikasi dengan baik, bahkan sudah dalam bentuk digital.

Saat ini, kita bisa membuka hadits melalui komputer tidak lagi secara manual dalam lembaran-lembaran kertas. Adapun ayat yang mengatakan ati’ulloha wa ati’u rasullo ulil amri minkum, taatlah kepada Allah dan Rasul serta pemimpin diantara kamu, tidak bicara tentang metoda sanad, ayat ini berbicara betapa pentingnya kita taat kepada seorang pemimpin.

Kita wajib taat kepada pemimpin selama pemimpin itu menyuruh kepada yang benar. Apa jadinya kalau sudah tidak ada ketaatan dalam kepemimpinan? Ketaatan dalam kepemimpinan itu adalah sebuah keniscayaan untuk meraih suatu kesuksesan. Kalau para staff di kantor sudah tidak taat kepada managernya, apa yang akan terjadi? Kalau suatu masayarakat tidak taat kepada auran-aturan hukum yang berlaku untuk mengatur kemaslahatan, apa yang akan terjadi?

Jadi ayat itu mengatakan kesuksesan suatu lembaga, suatu bangsa, suatu keluarga, ditentukan oleh ketaatan kepada pemimpin. Namun ada catatan, taatilah pemimpin yang menyuruh kepada kebaikan, pemimpin yang menyuruh kepada kebenaran.

Ayat itu berbicara tentang metoda sanad, kalaupun ada yang menggunakan ayat itu, sebenarnya itu terlalu memaksakan diri. Tolong diingat bahwa metoda sanad itu sudah berlaku, artinya sudah terjadi. Ayat itu bicara pada saat pengkodifikasian hadits. Dan sangat tidak ideal, sangat tidak logis apabila dihubungkan dengan sarat nikah dan lain sebagainya, pemikiran seperti itu terlalu dipaksakan. Wallahu a’lam. 

[AdSense-A]

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

2 Komentar Artikel “Belajar Agama Tanpa Sanad yang Jelas, Apa Hukumnya?

  1. Ama

    Ada baiknya juga utk belajar disesuaikan dg usia/kondisi masing2. Jgn sampai terus menerus menggali/belajar kesana kemari tnp punya pegangan harus bagaimana ?
    Hal demikian bisa dialami apabila kita belajar dari berbagai sumber, yang telah kita semua ketahui dlm kenyataannya sumber2 tsb kadang bisa juga berlainan dlm menafsirkan suatu keterangan (misal dr Quran & hadist).
    Bisa utk diselami, cari lah ilmu sesuai dgn yg kita butuhkan, setahap demi setahap
    Sekedar ikut sedikit berbagi pengalaman pribadi.

    Terima kasih

  2. Permana

    Assalamualaikum
    Saya ingin hijrah dan belajar islam
    Bolehkah saya minta bantuannya

    Terimakasih

Leave a Comment