Bagaimana Pembagian Daging Kurban Supaya Afdhal?

sapi, kurban

Di lingkungan masjid tempat saya tinggal, bila Idhul Adha banyak keluarga yang berkurban. Oleh pihak masjid, daging kurban tersebut dibagikan secara merata baik kepada keluarga yang berekonomi lemah maupun yang berkecukupan. Terkecuali bagi yang berqurban, akan mendapatkan bagian yang lebih banyak lagi.  Apakah hal seperti itu dibenarkan? Mohon penjelasannya, bagaimana pembagiannya supaya afdhal?

 
Sebenarnya, kalau kita bicara masalah kurban, sasaran kurban itu aslinya fokusnya harus ditujukan kepada fakir miskin. Tetapi, orang yang berkecukupan mendapatkan bagian daging kurban, ya boleh-boleh saja. Namun, sebaiknya panitia itu berfokus kepada fungsi kurban itu sendiri, yang salah satunya adalah untuk memberikan santunan kepada fakir miskin.

alquran muasir

Pada prinsipnya, tidak salah cara yang dilakukan oleh panitia kurban di tempat anda itu, tetapi kurang afdhal. Orang yang berkurban itu boleh mencicipi, tetapi kalau tidak mencicipi berarti pahalanya akan lebih besar. Kenapa?

Karena dia sudah tidak membutuhkan itu lagi, dia ingin daging kurban itu menjadi hidangan bagi fakir miskin. Oleh karena itu, yang terkena kewajiban kurban itu adalah orang yang punya keleluasaan harta. Man kaana lahu sa ‘atun walam yudohyii fa la ya’ robbana musholana.  Barang siapa yang punya keleluasaan harta tapi dia tidak berkurban, jangan pernah dekat-dekat ke tempat solat kami. Ini hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majjah. Di situ ada kata-kata sa’atun, maksudnya keleluasaan oleh sebab itu qurban diperuntukkan bagi yang tidak mampu berqurban. Itu afdhalnya.

[irp posts=”12261" name=”Tips Bisa Kurban Dengan Gaji UMR, Begini Caranya”]

kalender

Ada keterangan yang lebih jelas lagi dalam Bukhori Muslim, Ali bin Abi Tholib mengatakan, Ammaroni rosulullohu solallohu ‘alaihi wassalama an akuuma ala budnihi wa an ukosima lukhu maha wa juludaha wa jillalaha alal masakiin wa laa u’toofii jazarotihasai’an minha.

Nah, ini lebih jelas lagi bahwa kata Ali bin Abu Tholib, Rasulullah pernah menyuruh aku menangani binatang kurbannya. aku bagikan kulit dan dagingnya, kepada kaum miskin. Dalam hadits ini ada keterangan kepada kaum miskin.

Oleh sebab itu, kepada para panitia kurban agar lebih mencermati lagi bahwa daging kurban itu harus diprioritaskan untuk masakin (kaum miskin). Kalau kita baca riwayat Bukhori Muslim ini, wa an ukossima lukhu maha wa julu daha wa jilalaha ‘alal masakin. Dan aku diperintahkan untuk membagikan daging kurban itu kepada kaum miskin.

Jadi, kalau di lingkungan anda ada yang kaya, ada yang miskin, daging kurban itu dibagi rata kepada semua golongan, ini sebenarnya kurang afdol.

Bapak, ibu, sahabat-sahabat, kalau mau berqurban perlu anda lihat dulu, kalau di lingkungan kita banyak orang yang sudah berkecukupan, maka qurban itu bisa dititipkan ke daerah-daerah minus.

[i[irp posts=”12214" name=”Ingin Berkurban Tapi Tidak Cukup Uang, Boleh Diganti Sedekah ?”]p>

Di Yayasan Percikan Iman sudah mempunyai pemetaan daerah minus, daerah miskin, oleh karena itu Yayasan Percikan Iman sering menerima titipan hewan qurban. Nah titipan hewan qurban orang Setrasari boleh jadi akan dibagikan ditempat lain bukan di Setrasari dan bukan di Setra Duta. Orang-orang Setrasari kan sudah berkecukupan, sudah tidak memerlukan daging qurban lagi, sehingga hewan qurban tersebut didistribusikan ke daerah-daerah minus.

Sebagai orang yang berkurban, kita bisa menggunakan logika. Kalau di lingkungan kita sudah banyak orang yang berkecukupan, pendistribusiannya mencari tempat lain di lingkungan minus. Apabila kita tidak bisa mencari lingkungan minus, kita bisa menitipkannya ke lembaga terpercaya.

Yayasan Percikan Iman memiliki data. Silakan titipkan kurban Anda ke Yayasan Percikan Iman, nanti akan distribusikan kepada orang yang memang benar-benar sesuai dengan hadits nabi, wa an ukossima lukhu maha wa julu daha wa jilalaha ‘alal masakin. Supaya qurban itu bisa dibagikan kepada kaum miskin.

Bila Anda mau berkurban, anda misalnya tinggal di Bandung, kurbannya bisa dilakukan di kampung halaman, misalnya di Garut. Boleh, tidak apa-apa. tidak harus di tempat tinggal kita di sini. Malaikat tidak akan bertanya, kamu itu bagaimana, tinggal di Bandung kok kurbannya di Garut. Tidak akan begitu. Dimana saja silahkan, yang menurut perhitungan kita, itu yang paling berhak untuk menerima. Wallahu a’lam.

[irp[irp posts=”8161" name=”Bolehkah Berkurban untuk Laksanakan Niat Orangtua yang Sudah Meninggal?”]

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment