Mengambil Hikmah Pada Setiap Musibah

189

PERCIKANIMAN.ID – – Musibah, baik bencana alam, penyakit kronis, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya tidak bisa tidak akan selalu menumpahkan air mata bagi korban maupun keluarganya.  Dari sekadar satu dua tetes air mata, sampai histeris tak berkesudahan karena menolak percaya. Tak hanya itu, kesedihan yang mendalam, membekas trauma.

Lalu, apakah air mata yang tertumpah mampu mengembalikan yang telah pergi?  Ternyata tidak. Kalau sebagian orang beranggapan bahwa air mata adalah terapi yang manjur untuk menghadapi kesedihan, lalu sampai kapan tangsi itu ditumpahkan?  Semakin dalam tangis yang kita isakkan, semakin dalam pula ruang hampa dalam diri kita. Kalau begitu, apa yang ahrus dilakukan?

alquran muasir

Banyak. Asalkan kita memiliki keinginan untuk melihat segala sesuatunya secara lebih saksama, kita akan menemukan sebuah sudut pandang lain yang dapat membantu kita memahami yang sebenarnya terjadi. Sudut pandang tersebut adalah reliji yang terpatri dalam jiwa sanubari.

Dalam Islam, banyak sekali metode atau kaidah yang dapat diterapkan agar kita memiliki kemampuan menguak hikmah di balik musibah.

Tiga Makna Musibah 

kalender

Musibah bisa menimpa siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Orang kaya atau miskin, pejabat negara atau rakyat, artis ibukota atau artis jalanan, guru atau murid, nenek atau cucu, paman atau keponakan, tante atau sepupu, mertua atau orangtua, bayi atau manula, semuanya bisa tertimpa musibah. Di rumah atau di kantor, di tempat tidur atau di jalan raya, di udara atau di darat, di pasar atau di dapur, di kota atau di desa, musibah juga ada. Siang hari atau malam hari, ketika terang atau gelap gulita, saat beribadah atau saat melakukan maksiat, saat menggali sumur atau waktu mendengkur, musibah bisa datang dengan tiba-tiba.

Dalam pandangan dan perasaan manusia, semua jenis musibah pasti merupakan sesuatu yang jelek, menyakitkan, atau menyedihkan. Dengan kata lain, secara manusiawi kita tentu tidak menginginkan musibah, apa pun bentuknya, kapan pun dan di mana pun. Namun, apabila kita membaca beberapa keterangan ayat Al Quran dan hadis Nabi, akan kita dapati bahwa musibah yang dialami oleh manusia dalam pandangan Allah ternyata memiliki makna. Paling tidak tiga makna bisa kita terjemahkan dari sebuah musibah. Pertama, sebagai hukuman Allah atas pembangkangan yang dilakukan manusia terhadap aturan yang telah ditetapkan-Nya, atau merupakan sebuah hukum sebab-akibat. Kedua, sebagai penghapus dosa. Artinya, di akhirat nanti ada dosa yang tidak diperhitungkan lagi karena hukumannya sudah ditunaikan oleh Allah di dunia. Ketiga, sebagai ujian untuk kenaikan derajat manusia di mata Allah.

  1. Musibah sebagai hukuman

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Demikaianlah salah satu hadis Nabi menjelaskan tentang manusia. Kita bisa berbuat salah apabila kita tidak tahu petunjuk atau ilmunya. Akan tetapi, perbuatan salah tidak selalu berkaitan dengan ketidaktahuan. Sering pula manusia berbuat salah padahal sudah tahu petunjuk atau ilmunya. Atau, bisa jadi bukannya tidak tahu tetapi memang tidak mau tahu dengan petunjuk-petunjuk atau aturan-aturan yang sudah ada.

Allah telah memberikan petunjuk dan ilmu yang bisa digali oleh manusia di dalam firman-firman-Nya yang juga didukung dengan hadis-hadis Nabi. Itu semua merupakan peraturan yang patut dilakukan agar manusia mencapai kebahagiaan dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Ketika Allah membuat peraturan maka Allah juga membuat ‘hadiah’ dan ‘hukuman’ bagi peraturan itu. Dalam bahasa yang lebih tepat, itu disebut dengan konsekuensi logis atau ‘hukum alam’.

Jadi, ketika manusia ditimpa suatu malapetaka atau musibah, itu juga merupakan suatu konsekuensi logis atas apa yang telah dilakukannya. Musibah itu merupakan akibat dari sesuatu yang diperbuat atau diabaikan oleh manusia. Dalam salah satu ayat Al Quran Allah swt. berfirman, “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. Asy-Syuuraa 42: 30). Dalam ayat yang lain, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (Q.S. An-Nisa 4: 79).

Kita sering mengaitkan malapetaka atau musibah yang terjadi dengan takdir Allah. Musibah memang sebuah takdir, tetapi bukan berarti tidak ada kaitannya sama sekali dengan amal perbuatan atau usaha manusia. Para ulama mengungkapkan bahwa adalah keliru apabila seseorang mengingat takdir ketika terjadi malapetaka. Dan lebih keliru lagi apabila ia menyalahkan takdir atas malapetaka yang menimpanya itu. Lebih lanjut, Beliau menjelaskan bahwa adalah benar kita tidak bisa terlepas dari takdir Tuhan. Tetapi, takdir-Nya tidak hanya satu. Kita diberi kemampuan untuk memilih berbagai takdir Tuhan. Runtuhnya tembok yang rapuh dan berjangkitnya wabah merupakan takdir-takdir Tuhan, berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Sehingga apabila seseorang tidak menghindar darinya pasti ia akan menerima akibatnya, dan itu adalah takdir. Tetapi apabila ia mengindar dan luput dari marabahaya, itu pun adalah takdir. Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia kemampuan untuk memilih?

Dengan melihat penjelasan tersebut maka dapat kita pahami bahwa malapetaka atau musibah yang menimpa manusia bisa jadi merupakan hukuman dari Allah atau konsekuensi logis atas kesalahan yang dilakukan manusia. Kesalahan itu bisa berupa kelalaian, kebodohan, atau pengingkaran kita terhadap hukum yang sudah ada. “Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.”  (Q.S. Ar-Rum 30: 36).

Di dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Akan datang suatu zaman atas manusia. Perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka. Perempuan-perempuan menjadi kiblat mereka. Dinar-dinar menajdi agama mereka. Kehormatan mereka terletak pada kekayaan mereka. Ketika itu, tidak tersisa iman sedikit pun kecuali namanya saja. Tidak tersisa Islam sedikit pun kecuali upacara-upacaranya saja. Tidak tersisa Al Quran sedikit pun kecuali pelajarannya saja. Masjid-masjid mereka makmur dan damai. Akan tetapi hati mereka kosong dari petunjuk. Ulama-ulama mereka menjadi makhluk-makhluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi. Kalau terjadi zaman seperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka berbagai bencana, kekejaman para penguasa, kekeringan dan kekejaman para pejabat serta para pengambil keputusan.” Maka takjublah para sahabat mendengarkan penjelasan Nabi ini. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah mereka menyembah berhala?” Nabi menjawab, “Ya, bagi mereka, setiap serpihan dan kepingan uang menjadi berhala.”

[irp posts=”10603" name=”Ini Sebenarnya Musibah Paling Besar Dalam Hidup Seorang Manusia”]

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment