Inilah 14 Fondasi Membangun Keluarga Saleh

suami istri

Insya Allah dalam waktu dekat saya akan menikah. Saya mohon penjelasan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis mengenai fondasi apa saja yang harus kita bangun untuk menciptakan keluarga yang saleh?

 

Mempunyai keluarga yang saleh merupakan cita-cita semua orang. Untuk mewujudkannya butuh kesungguhan, kesabaran, dan keuletan dari suami dan istri. Berikut sejumlah keterangan dari Al-Qur’an dan hadis tentang bagaimana dasar-dasar keluarga yang saleh itu.

alquran muasir

1. Selalu bersyukur saat mendapat nikmat
Kalau kita mendapat karunia dari Allah Swt. berupa harta, ilmu, anak, dll., bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah diberikan tersebut supaya apa yang ada pada genggaman kita itu menjadi barakah.

 “…Sesungguhnya, jika kamu ber syukur, niscaya Aku akan me nambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu meng ingkari nikmat-Ku, pasti azabKu sa ngat berat.” (Q.S. . Ibrāhīm [14]: 7)

2. Senantiasa bersabar saat ditimpa kesulitan
Semua orang pasti mengharapkan bahwa jalan kehidupannya selalu lancar dan bahagia, namun kenyataannya tidaklah demikian.  Sangat mungkin dalam kehidupan berkeluarga kita menghadapi sejumlah kesulitan dan ujian: berupa kekurangan harta, ditimpa penyakit, dll. Nah, sabar merupakan fondasi yang harus kita bangun agar keluarga kita tetap bahagia walaupun sedang ditimpa

kalender

…Bersabarlah terhadap ujian yang menimpamu. Sungguh, perkara itu sangat penting.” (Q.S. Luqmān [31]: 17)

3. Bertawakal saat memiliki rencana
Allah sangat suka kepada orang-orang yang melakukan sesuatu secara terencana. Nabi Muhammad Saw. kalau mau melakukan sesuatu yang penting selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya. Musyawarah merupakan bagian dari proses perencanaan. Alangkah indahnya apabila suami-istri selalu bermusyawarah dalam merencanakan hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan Berumah tangga, misalnya masalah pendidikan anak atau tempat tinggal. Kalau kita punya suatu rencana, jangan lupa hasilnya kita pasrahkan semua kepada Allah Swt., itulah yang disebut tawakal.

…Kemudian, apa bila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 159)

4. Bermusyawarah
Suami adalah leader atau pemimpin dalam rumah tangga. Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan-keputusan strategis. Alangkah mulia kalau suami sebagai pemimpin selalu mengajak bermusyawarah kepada istri dan anak-anaknya dalam mengambil keputusan-keputusan penting yang menyangkut urusan keluarga. Hindarkan diri dari sikap otoriter, insya Allah hasil musyawarah itu akan lebih baik.

…Serta memutuskan urusan mereka de ngan musyawarah antara mereka…” ( Q.S. Asy-Syūrā [42]: 38)

5. Tolong menolong dalam kebaikan
Menurut Aisyah r.a., Rasulullah Saw. sebagai suami selalu menolong pekerjaan istrinya. Beliau tidak segan untuk mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan wanita seperti mencuci piring/baju, menggendong anak dll. Nah, kalau kita ingin membangun keluarga yang saleh, suami harus berusaha meringankan beban istri, begitu juga sebaliknya. Jadikan tolong-menolong sebagai hiasan rumah tangga.

…Tolong-menolonglah ka mu da lam mengerjakan kebajikan dan takwa, serta jangan tolong-menolong da lam berbuat dosa dan per musuh an…” ( Q.S. Al-Mā’idah [5]: 2)

6. Senantiasa memenuhi janji
Memenuhi janji merupakan bukti kemuliaan seseorang. Sedalam apa pun ilmu kita, setinggi apa pun kedudukan kita, tapi kalau sering menyalahi janji tentu orang tidak akan lagi percaya kepada kita. Bagaimana kita akan menjadi suami yang dihargai istri dan anak-anak kalau kita sering menyalahi janji kepada mereka?

Hai, orang-orang beriman! Penuhilah janji-janji.” (Q.S. Al-Mā’idah[5]: 1)

7. Segera bertaubat bila terlanjur melakukan kesalahan
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, tak jarang suami atau istri terjerumus pada kesalahan. Itu tidak dapat dipungkiri. Apabila suami/istri melakukan kesalahan, hendaklah segera bertaubat dari kesalahan itu.

“Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa mereka. Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?

Mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu dengan penuh kesadaran.” ( Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 135)

8. Saling menasihati
Untuk membentuk keluarga yang saleh, tentunya dibutuhkan sikap lapang dada dari masing-masing pasangan untuk dapat menerima nasihat ataupun memberikan nasihat kepada pasangannya.

Demi masa, sungguh, manusia berada dalam keru gian, kecuali orang-orang beriman dan me nger jakan kebajikan, serta saling mena sihati untuk kebenaran dan kesabaran.” ( Q.S. Al-‘Aśr [103]: 1-3)

9. Saling memberi maaf dan tidak segan untuk minta maaf kalau melakukan kekeliruan
“…Serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalah an orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” ( Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 134)

10. Berprasangka baik
Suami-istri hendaknya selalu berprasangka baik terhadap pasangannya. Sesungguhnya prasangka baik akan lebih menenteramkan hati, sehingga konflik dalam keluarga lebih dapat  “Hai, orang-orang beriman! Jauhilah banyak prasangka buruk.

“Sesungguhnya, prasangka buruk itu dosa. Jangan kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian lain…” ( Q.S. Al-Ĥujurāt [49]: 12)

11. Mempererat silaturahmi dengan keluarga istri atau suami
Hai, manusia! Sesungguhnya, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal...” ( Q.S. Al-Ĥujurāt [49]: 13)

12. Melakukan ibadah secara berjamaah
Dengan melaksanakan ibadah secara berjamaah, ikatan batin antara suami-istri akan terasa lebih erat. Di samping itu, pahala yang dijanjikan Allah pun begitu besar.

“Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendiri-sendiri.” ( H.R. Bukhari dan Muslim)

13. Mencintai keluarga istri atau suami sebagaimana mencintai kelurga
Berlaku adil atau tidak berat sebelah adalah hal yang mesti dijalankan oleh masing-masing pasangan agar tercipta suasana saling menghormati dalam rumah tangga.

Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu, sehingga mencintai saudaranya (keluarga, sahabat, dan sebagainya) seperti mencintai dirinya sendiri.” ( H.R. Muslim)

14. Memberi kesempatan kepada suami atau istri untuk menambah ilmu
Kewajiban mencari ilmu melekat kepada siapa pun termasuk kepada suami-istri, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Saw., “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” ( H.R. Muslim)

Apabila keempat belas hal di atas dikerjakan secara konsekuen oleh masing-masing pasangan, insya Allah akan tercipta keluarga yang menjadi penyejuk hati. Wallahu A’lam.
* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment