Dahulukan Arbain atau Ritual Haji ? Ini Yang Sebaiknya Dilakukan

134f

PERCIKANIMAN.ID  – – Sebagian calon jemaah haji ada yang disarankan untuk melaksanakan salat Arbain. Beberapa Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) menganjurkan salat Arbain dengan berbagai dalil tentang keutamaan salat tersebut.

Sebagaian calon jamaah haji mendahulukan salat arbain dengan berangkat dari hadis Rasulullah Saw :

alquran muasir

Barang siapa shalat di masjidku empat puluh shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan.”

Namun demikian tidak sedikit calon jemaah haji yang masih bingung,dengan pertanyaan : ritual haji dulu atau arbain dulu? Mana yang lebih utama atau prioritas?

Arbain dalam bahasa Arab artinya adalah empat puluh. Maksudnya, melakukan shalat wajib di Masjid Nabawi sebanyak empat puluh kali non-stop alias berkesinambungan selama delapan hari.  Sebagian besar orang Indonesia sangat mengagung-agungkan shalat Arbain ini.

kalender

Namun demikian sesungguhnya para ahli hadis menilai bahwa hadits tentang arbain termasuk hadis lemah bahkan masuk katergori hadis dhaif, sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Al-Albany dalam Silsilah Adh-Dhaifah, no. 364, dalam kitab lainnya sedangkan dalam kitab  “Dhaif At-Targhib”, no. 755, beliau mengatakan hadis, “Munkar”.

[irp posts=”12159" name=”Hukum Melaksanakan Haji dari Hadiah”]

Meski begitu, kalau ada orang yang selalu berusaha  shalat di Masjid Nabawi, tentu saja hal itu tidak dilarang karena menurut riwayat Muslim shalat di Masjid Nabawi memiliki seribu point keutamaan dibandingkan dengan shalat di masjid lainnya.  Yang ingin saya garis bawahi di sini sesungguhnya tidak ada kaitan dengan hadits arbain tadi.  Maksudnya, jumlah rakaat shalat yang dilakukan di Masjid Nabawi tidak harus ditetapkan 40 kali. Berapa pun jumlahnya tetap utama dan tidak harus dilakukan secara berkesinambungan.

[i[irp posts=”3473" name=”Hukum Syukuran Sebelum Berangkat Umrah dan Haji”]p>

Di Indonesia, Arbain ini begitu ramai disosialisasikan sehingga ada jemaah haji yang walaupun dalam kondisi sakit dan lokasi penginapannya jauh dari Masjid Nabawi, tetap memaksakan diri untuk melaksanakannya padahal ritual haji belum dimulai.

Begitu tiba waktu pelaksanaan ibadah haji, dia sudah tidak punya kekuatan lagi karena energinya habis saat di Madinah melakukan Arbain. Hal tersebut seolah-olah mengindikasikan anggapan bahwa Arbain itu lebih penting daripada haji. Nah, di sinilah letak permasalahannya.

Jadi, bagi Anda yang mau berhaji tahun ini, kalau mau melaksanakan shalat di Masjid Nabawi, silahkan saja tetapi tetap harus memperhatikan kondisi fisik. Jangan memaksakan diri mengejar Arbain karena Anda ke Tanah Suci untuk berhaji dan bukan untuk berarbain. Skala prioritas alokasi energi kita harus tetap ditujukan untuk melaksanakan ritual haji. Wallahu a’lam bishawab.

[irp[irp posts=”11689" name=”Haruskah Mencantumkan Gelar Haji?”]

 

(Disarikan dari buku “Insyaallah Mabrur,Panduan Ibadah Haji dan Umrah” karya Dr.Aam Amiruddin )

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: kemenag.go.id

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment