Hukum Melakukan Muhasabah dengan Cara-cara Tertentu

masjid

Ustadz, seringkali saya mengikuti kegiatan-kegiatan keislaman yang salah satu acaranya adalah muhasabah dengan cara-cara tertentu, misalnya dilakukan di malam hari, di tempat atau ruangan tertentu, disertai alunan suara tertentu, dan lain sebagainya. Apakah muhasabah seperti itu didasarkan pada dalil yang shahih? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

 

Saudara penanya yang dirahmati Allah, muhasabah berasal dari bahasa Arab yang artinya menghitung-hitung diri. Muhasabah dilakukan sebagai introspeksi dan evaluasi diri untuk mengukur kualitas keimanan dan keislaman. Muhasabah jelas sekali diperintahkan dalam Islam seperti yang termuat dalam ayat berikut. “… hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ….” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 18). Dalam salah satu riwayat yang dikeluarkan Imam Tirmidzi, Umar Bin Khattab berkata, “Evaluasilah diri kalian sendiri sebelum kalian dievaluasi”.

alquran muasir

Tidak ada keterangan rinci mengenai tata cara, waktu, mekanisme dan teknis muhasabah. Namun demikian, berdasarkan dua keterangan tersebut di atas menunjukkan bahwa muhasabah merupakan amalan yang diperintahkan kepada setiap muslim secara sendiri-sendiri.

Dengan kata lain, muhasabah merupakan amalan fardi (dilakukan secara perseorangan) dan bukan merupakan amalan jamai (dilakukan secara bersama-sama), apalagi jika muhasabah dikaitkan sebagai amalan dzikir. Berdasarkan pada beberapa hadits, dzikir dianjurkan dilakukan secara pribadi. Bahkan, dzikir lebih baik dilakukan dengan menyepi di waktu yang sunyi terutama di malam hari sebagaimana diisyaratkan dalam hadits berikut ini. “… dan seseorang yang berdzikir kepada Allah dengan menyepi sehingga meneteslah air matanya …” (H.R. Bukhari)

Muhasabah seperti yang dianjurkan dalam keterangan di atas, agaknya mirip dengan teknik self-observation, teknik self-evaluation, atau teknik self-criticism dalam dunia psikologi atau teknik self-analysis dalam dunia psikoanalisa. Ini diartikan sebagai suatu usaha individu untuk memahami diri sendiri, serta mengenali kelemahan atau keterbatasan dirinya. (Chaplin, 1997)

kalender

Dengan demikian, alangkah lebih baik jika muhasabah dilakukan secara sendiri-sendiri agar dapat meningkatkan kualitas kekhusukan dan kedekatan diri kepada Allah sehingga kita tidak mengikatkan diri pada mekanisme tertentu sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang dianggap tidak sejalan dengan sunnah Rasulullah Saw.

Terkecuali jika muhasabah tersebut dilakukan satu paket sebagai acara penutup dari kegiatan tertentu. Misalnya muhasabah dilakukan di akhir pengajian dengan dipimpin langsung oleh ustadz pengisi acara tersebut sebagai penguatan ruh mustami’. Contoh lain adalah jika kebetulan muhasabah dilakukan dalam rangkaian tahajjud sebagai nasihat dari imam. Wallahu a’lam.

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment