Soal Kenaikan Harga Rokok, Wasekjen MUI Malah Ingin Rokok Dilarang Total

tengku zilkarnain

Wacana mengenai kenaikan harga rokok hingga Rp 50 ribu per bungkus tengah menjadi perbincangan hangat dan mengundang pro kontra di masyarakat. Bagi mereka yang setuju, kebijakan tersebut dinilai positif karena diharapkan dapat menurunkan jumlah perokok dan menurunkan beban yang harus ditanggung akibat dampak negatif rokok .

Umat Islam di tanah air, dalam hal ini para ulama di Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebenarnya sudah sejak lama memfatwakan soal rokok ini.  Namun fatwa ini belum cukup untuk meyakinkan pemerintah mengambil keputusan tegas.

alquran muasir

Salah satu ulama yang mendukung pelarangan rokok adalah Wakil Sekretaris Jendral MUI KH Tengku Zulkarnain. Di tengah hangatnya wacana kenaikan harga rokok, ia  menegaskan merokok sebaiknya dilarang total karena tak ada manfaatnya.

[irp posts=”5321" name=”Hukum Merokok di dalam Masjid”]

“Apa gunanya merokok? Menambah kaya, tidak. Menambah sehat juga tidak, menambah sejahtera juga tidak. Menambah bersih udara, juga tidak,” katanya seperti dilansir Republika, Ahad (21/8).

kalender

Rokok, kata Tengku, membahayakan kesehatan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya sebagai perokok pasif. Istri dan anak-anak mendapatkan bahaya sebagai perokok pasif seharusnya perokok memikirkan hal ini.Namun upaya pemerintah untuk menaikkan harga rokok menjadi mahal perlu diapresisasi. “Kami mendorong pemerintah agar satu saat nanti rokok dilarang total.”

[i[irp posts=”8994" name=”Sejumlah Tokoh Ajak Masyarakat untuk Menolak Rokok”]p>

Menurut dia, petani tembakau bisa berganti ke jenis tanaman lain. Pabrik rokok bisa berubah jadi pabrik susu atau pabrik baja.”Semuanya itu bahkan lebih menguntungkan ekonomi dan kesehatan rakyat dan pemerintah,” kata Tengku.

Ia berharap, naiknya harga rokok tidak diikuti dengan politik jahat dengan membuka keran impor bagi rokok murah asal Cina dan negara lainnya. Jangan sampai ini hanya sebuah intrik politik.

“Lebih baik merokok dilarang sesuai dengan Fatwa MUI pada ijtima’ ulama fatwa tahun 2009 dan ijtima’ ulama fatwa sedunia di Brunei Darussalam tahun 2008,” ujar Tengku.

Sumber :Republika

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment